Kamis manis yang bahagia, tepatnya tanggal 5 Agustus 2021. Suatu kebahagiaan yang tiada tergambarkan dengan lukisan apapun, juga tidak mampu teruraikan dengan kata-kata. Betapa tidak, peluang bersua dengan pemilik ilmu melangit, tentu ada hikmah di balik pertemuan itu. Pesan agama, berteman dengan orang yang berilmu melangit bila pemilik ilmu itu selalu menitipkan hatinya pada bumi tempat kita berpijak.
Di hari sebelumnya, ada pesan via WA, “saya di Lasusua sekarang, ingin bertemu.” Sejenak kuamati pengirim pesan tersebut, tertulis di Waku, BU Zakiah Latif. Tentu ada rasa senang melihat nama itu. Seorang ibu yang namanya tidak asing bagi saya. Beliau penulis salah satu buku yang berjudul “Guru, Bawa Aku Ke Garda Terdepan” dan beberapa buku motivasi lainnya.
Tanpa berpikir panjang, kujawab mengiyakan pesan tersebut. Namun pertemuan sempat tertunda karena ada kesibukan lainnya yang harus kuselesaikan. Ketika waktu luang telah ada, saya berupaya menemuinya, hanya saja kali pertama tidak bertemu, maka harus menjadwal untuk ke dua kalinya agar dapat bertemu walau malam agak larut, ya jam Sembilan yang sebagian orang sudah ada yang terlelap mempersiapkan diri bangun di sepertiga malam bermunajat kepada pemilik jagad raya agar mendapatkan hidayah.

Pertemuan singkat dan perbincangan lepas pun mengalir begitu saja. Saya berfikir, tentu akan mendapat pengalaman dan ilmu, karena menimba ilmu tak ada syarat di mana, dari mana dan kapan waktunya. Kami berbincang tentang pengalaman dan keadaan keluarga. Walau kami diperhadapkan dengan kondisi yang sama, kakak beliau terjangkit suatu penyakit hingga terbaring lemas dan sayapun juga diperhadapkan dengan kondisi adik sakit yang sangat membutuhkan perhatian lebih dari kami. Tapi kondisi memprihatinkan tersebut tidak mesti menghalangi silaturrahmi kami.
Sesaat pertemuan berlalu, perbincangan kami alihkan pada buku, kami saling berbagi pengalaman tentang menulis buku. Saya yang baru menulis satu buku,tentu masih harus banyak belajar, sementara beliau telah menerbitkan beberapa buku membuat saya juga perlu menimba ilmu pada beliau. Tak lama kemudian, beliau beranjak dari tempat duduknya ke kamarnya lalu keluar dengan beberapa eksemplar buku hasil karyanya. Saya menawari buku novelnya yang berjudul “Mamaku Hebat.” Beliau juga ingin membaca buku hasil karyaku. Saya hanya menyampaikan pada beliau, kalau buku karya saya, walau judulnya “Menata Diri Meniti Kehidupan Secara Islami” mengupas tentang perilaku dalam beragama, itu hanya gambaran kecil, bila saya ibaratkan buah, hanya sebagian kecil kulit buahnya.

Kesepakatan telah kami lakukan, kami akan bertransaksi buku dengan buku. Namun sejenak mataku menangkap satu eksamplar buku diantara beberapa tumpukan buku miliknya yang sangat familiar di mataku . Kueja judulnya,
“S U M P A H P E N A” salah satu judul buku yang lagi booming saat ini setelah launching beberapa saat yang lalu. Buku yang tidak asing bagi manusia pembelajar terutama bagi kalangan keluarga Bengkel Narasi. Ternyata buku Sumpah Pena akan menjelajah di Sulawesi Barat, yang saat ini telah tergenggam di salah satu tangan manusia pembelajar.
Membaca buku sumpah pena, tak memberi ruang pada manusia pembelajar menunda waktunya untuk tidak menulis. Buku Sumpah Penah memberi perantara Perintah langit yang harus ditunaikan, karena tinta pena tak akan mengering sepanjang dunia masih beredar di orbitnya, bahkan sepanjang semesta masih bertasbih. Maka menulislah untuk dikenang menuju dunia kebadian.

Masyaa Allah… Silaturrahmi tanpa batas dan ruang