Indonesia adalah negara yang dihuni oleh beragam suku dengan bahasa yang juga berbeda-beda. Mengacu ke data hasil sensus penduduk tahun 2010, Badan Pusat Statistik merilis bahwa setidaknya ada 1.331 kelompok suku di negeri ini. Sementara untuk bahasa yang digunakan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memetakan 652 bahasa daerah yang terverifikasi sejak 1991-2017.
Dari sekian banyak kelompok suku dan bahasa daerah yang digunakan, tidak semua memiliki sistem aksara. Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan (PMB) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyebut bahwa di negeri ini, ada dua belas (12) sistem aksara daerah, meliputi: Jawa, Bali, Sunda, Bugis, Toba, Simalungun, Pakpak, Karo, Mandailing, Lampung, Rejang, dan Kerinci.
Data tersebut memperlihatkan bahwa Bugis adalah salah satu suku bangsa yang punya tradisi berbahasa yang mumpuni, mengapa demikian? Sebab Bugis bukan hanya sebagai nama suku dan bahasa sendiri, melainkan juga mengembangkan sistem aksaranya secara mandiri yang dikenal dengan nama Lontaraq. Bahkan aksara ini diakui oleh seorang Bugisianis kenamaan H. Kern (1882), sebagai sistem aksara yang telah mengalami perjalanan panjang dari huruf Sanskrit versi Dewanagari.
Selain tradisi berbahasa yang mapan, Bugis pun mampu mengembangkan kesusastraannya dengan baik dengan model karya sastra yang beragam dan khas. Bila mengacu pada berbagai khasanah kesusastraan yang dikembangkan oleh masyarakat Bugis, setidaknya ada tiga model karya sastra Bugis, yakni Élong (puisi atau sajak), Pau-Pau ri Kadoang (dongeng) dan Sureq (hikayat atau epos). Ketiganya bertumpu pada kedinamisan Lontaraq sebagai sistem aksara.
Membahas perihal sastra Bugis, kita tak bisa mengenyampingkan salah satu karya sastra Bugis berbentuk sureq yang paling populer, bahkan disebut sebagai karya sastra terpanjang di dunia, Sureq La Galigo. Epos terpanjang di dunia dengan 13.000 baris teks dan 12.000 manuskrip folio ini mengisahkan perihal dunia, manusia dan para dewa yang disulam dalam perjalanan hidup tokoh utamanya, I La Galigo yang menjadi tonggak utama konstruksi kebudayaan Bugis. Bahkan oleh UNESCO, sureq ini disahkan sebagai Memory of The World pada tahun 2012.
Tapi tulisan ini tak sedang ingin membahas perihal karya ini secara khusus, melainkan sebagai pintu masuk untuk membincang jenis karya sastra yang disebut galigo. Istilah galigo dikenal dalam khasanah kesusastraan Bugis dengan mengacu pada sureq La Galigo. Galigo sebagai istilah yang digunakan untuk menyebut struktur bait atau stanza dalam élong, mengambil namanya dari judul sureq ini. Bahkan, pembacaan sureq La Galigo secara turun temurun dalam berbagai kesempatan dan ritual, lalu melahirkan tradisi dan istilah baru, maggaligo.
Maggaligo yang berisi pembacaan petikan episode dari naskah La Galigo pada berbagai momen hidup masyarakat Bugis, dilakukan oleh seniman yang sekaligus mistikus yang digelari paggaligo, dengan ritme dan langgam yang khas. Beberapa kalangan menamai maggaligo dengan cengkok unik ini dengan istilah selléang atau laoang. Bahkan bila diperhatikan dengan saksama, maggaligo, bisa diserupakan dengan pembacaan kitab al Barzanji atau ayat suci Alquran pada beberapa kelompok Islam.
Pada galigo tua atau stanza dalam sureq maupun élong, umumnya menggunakan kata arkaik dari bahasa Bugis yang tak lagi banyak digunakan oleh manusia Bugis kiwari dalam kesehariannya. Meski dalam perkembangannya, kita mulai bisa menemukan bait-bait galigo dalam élong kontemporer dengan menggunakan bahasa yang lebih mudah dipahami. Tapi walau demikian, élong maliung bettuanna (élong dengan makna tersirat) tetap mendapat tempat di tengah masyarakat.
Tulisan ini, mencoba mengulik sepenggal galigo yang membutuhkan penafsiran dua lapis (lapis konotatif dan lapis denotatif) untuk memahami maknanya. Meski termasuk dalam élong maliung bettuanna, galigo ini tetap mengikuti pola umum galigo Bugis. Kita bisa melihat dengan jelas bahwa baris pertama galigo ini menggunakan 8 suku kata, baris kedua memakai 7 suku kata, dan baris ketiga terdiri dari 6 suku kata.
Coba disimak: sanré kaq nabelléang ngaq (8)// renrinna to Kéra é (7)// annung passiona (6). Bila diartikan per kata, dapat dipahami begini: sanré kaq: aku bersandar (berharap)/ nabelléang ngaq: aku didustai/ renrinna: dindingnya/ to Kéra é: orang Kéra/Annung: Annung (sejenis pohon)/ passiona: pengikatnya. Dengan melihat ini saja, kita masih kesulitan untuk menangkap pesan filosofis dari galigo ini. Sebab sebagimana umumnya galigo yang mempunyai makna berlapis, ada idiom yang membutuhkan pemaknaan konotatif. Pada galigo ini ada dua, yakni: renrinna to Kéra é dan annung.
Renrinna to Kéra é, secara denotatif bermakna dinding (rumah)nya orang Kéra, sebuah daerah di ujung utara Kabupaten Wajo. Dahulu, masyarakat Kéra menggunakan anyaman daun rumbia sebagai dinding, yang dalam bahasa Bugis, disebut bakkaweng. Bukankah bakkaweng merupakan dinding yang rapuh? Ini makna konotatifnya. Sementara Annung secara denotatif adalah sejenis pohon yang kulitnya bisa dijadikan sebagai pengikat. Umumnya digunakan untuk mengikat sekumpulan tangkai padi (wessé) yang telah dipanen secara tradisional menggunakan rakkapeng (ani-ani). Secara konotatif, ini merujuk pada pengikat yang tak terlalu kukuh.
Setelah mengetahui dua lapis maknanya, dapat disimpulkan bahwa galigo ini merupakan ungkapan kekecewaan dari seseorang yang menaruh harapan, namun dikecewakan. Dia berharap pada seseorang yang ternyata tak layak dijadikan sandaran pengharapan. Dalam galigo tersebut, ketaklayakan disimbolkan dengan idiom Renrinna to Kéra é (bakkaweng), annung sebagai pengikat (yang rapuh).
Galigo ini pantas diucapkan oleh seorang gadis (dan keluarganya) yang dikecewakan oleh seorang lelaki yang ditunggu-tunggu, tapi tak kunjung datang melamar. Pun layak dikeluarkan dari mulut khalayak yang dikecewakan oleh pemimpinnya, terutama pemimpin yang telah memberi janji manis sebelum pemilihan, namun menjadi lupa pada janji-janjinya setelah terpilih. Pada pemimpin seperti ini, emang pantas dituding di depan hidungnya: sanré kaq mubelléang ngaq// renrinna to Kéra é// annung passiona.
Muhammad Kasman, pengasuh portal MakassarBuku

Menarik… Aku selalu tertarik dengan sastra2 Bugis. Masih penasaran dgn 3 karya Sastra Bugis, Elong, Pau2 Ri Kadoang dan Sureq. Butuh pembahasan khusus nih.. Dinda…
Terima kasih telah mampir, Bu. Mudah-mudahan ada kesempatan untuk mencoba mengulas perihal Elong, Pau-Pau Rikadoang, dan Sureq.
Sip…