Kolom Ruslan Ismail Mage*
Judul tulisan ini terinspirasi dari cerpen fenomenal A. A. Navis berjudul “Robohnya Surau Kami”. Cerpen yang dinilai sebagai salah satu karya monumental dalam dunia sastra Indonesia ini bercerita tentang seorang kakek penjaga surau (masjid ukuran kecil) yang protes ke Tuhan karena ternyata ketekunannya merawat surau (rumah Tuhan) dan beribadah setiap waktu tidak menolongnya masuk surga.
Di hari penghitungan, ia dimasukkan ke dalam neraka. Ia pun protes dan menganggap Tuhan keliru. Dijelaskanlah kepadanya kenapa ia masuk neraka. “Kamu tinggal di bumi Indonesia yang mahakaya raya, tetapi kamu biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tetapi kamu abaikan semua kekayaan negerimu.”
Lalu apa hubungan dengan judul tulisan ini? Untuk mendeskripsikan hubungannya, saya akan memulai dengan salah satu pernyataan Bung Karno yang mengatakan, “Selama semangat muda masih ada di dalam jiwa kaum tua, tidak ada yang bisa mengutak-atik Indonesia”. Bung Karno menyadari benar bahwa eksistensi sebuah negara ditentukan oleh idealisme kaum mudanya yang terus membara siap membakar semua penghianat bangsa. Sebaliknya, ketika idealisme kaum muda sudah mati atau roboh, itu isyarat sebuah bangsa sudah masuk IGD yang secara perlahan bisa menghenbuskan napas terakhir lalu menghilang dalam peta dunia.
Cerita sang kakek penjaga surau yang masuk neraka itu menjadi menarik dan penting untuk direnungkan dan dikedepankan dalam konteks kekinian bangsa Indonesia yang mahakaya raya ini, tetapi rakyatnya masih banyak miskin. Menjadi menarik, karena pascareformasi idealisme muda sedikit demi sedikit mulai mengendor. Bisa jadi, lima tahun terakhir ini idealisme muda sudah roboh rata dengan tanah.
Suara mahasiswa sebagai representasi dari kaum muda sudah tidak terdengar nyaring menyuarakan penderitaan rakyat yang semakin tersingkirkan oleh sistem ekonomi kapitalis. Diam menyaksikan ketidakadilan hukum yang menyeret seorang nenek ke pengadilan karena mencuri beberapa biji kakao untuk mempertahankan hidup, sementara koruptor mendapat pengampunan hukum. Hanya menggerutu menyaksikan berbondong-bondongnya TKA, sementara di kalangan pribumi terjadi loncatan pengangguran. Hanya membisu melihat kekayaan alam terus disedot dalam perut bumi Indonesia untuk kepentingan kapitalis. Hanya melongo melihat aset-aset negara yang dikelola BUMN satu-satu bisa lepas ke tangan asing.
Menjadi penting, karena cerita sang kakek penjaga surau yang masuk neraka itu diharapkan bisa menyadarkan seluruh warga bangsa, khususnya kaum muda, bahwa kekayaan alam melimpah yang dianugrahkan Tuhan kepada bangsa Indonesia harus dijaga dan dipergunakan sebaik-baiknya dan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Sekali lagi, ini menjadi penting karena jika idealisme muda roboh, hanya mampu diam, membisu, dan menggerutu melihat kekayaan alam dikuras oleh kapitalis, di saat yang bersamaan membiarkan rakyat semakin terpuruk kehidupannya, kaum muda akan mengalami nasib yang sama seperti sang kakek penjaga surau yang akhirnya masuk neraka karena menyia-nyiakan kekayaan alam bangsanya. Tidak menjaga dan merawat kekayaan bangsanya.
Mau masuk neraka? Tentu tidak! Karena itu, kaum muda sebagai harapan bangsa harus menjaga idealismenya tetap membara. Jangan pernah tukar idealismenya dengan setumpuk uang dan jabatan sesaat. Atas nama idealisme, selamatkan kekayaan alam bangsa, selamatkan aset-aset negara yang dikelola BUMN, khususnya pertamina yang mengalami kerugian 11 triliun. Jangan karena alasan rugi lalu dilego ke pihak asing. []
*Penulis adalah akademisi, inspirator dan penggerak, founder Sipil Institute Jakarta.

Ini sangat menarik dan penting untuk di renungkan ,mudah mudahan idealisme muda tidak selamanya mengendur ,moga suara hati mahasiswa sebagai representasi dari kaum muda dapat bangkit dan bertetiak lantang menyuarakkan keadilan dari bumi pertiwi ini