Andi Mappanyukki

Judul : Biografi Pahlawan Andi Mappanyukki

Penulis : Tim Aksara

Editor : Drs. H. Nonci, S.Pd.

Penerbit : CV. Aksara

Tempat Terbit: Makassar

Tahun Terbit : –

Jumlah Halaman : iv + 76

ISBN : –

Andi Mappanyukki adalah Raja Bone XXXIII (dalam buku ini beliau Raja Bone ke-33 sedangkan di berbagai sumber lainnya, beliau adalah Raja Bone ke-32) dan juga seorang Pahlawan Nasional berdasarkan Surat Keputusan Presiden tahun 2004. Andi Mappanyukki adalah seorang bangsawan tinggi Bugis Makassar, putra Raja Gowa I Makkulawu Daeng Serang Karaeng Lembang Parang. Selain menjadi Raja Bone diera Pra Kemerdekaan, beliau juga diangkat menjadi bupati pertama Bone pasca kemerdekaan. Beliau menjadi Raja (Mangkau) di Bone dan berkuasa dari tahun 1931 – 1946, dan kemudian diangkat menjadi Bupati Bone dari tahun 1957 – 1960.  

Buku ini membahas tentang kehidupan Andi Mappanyukki dan penulis membaginya menjadi 3 bab. Diawali dengan Prakata dari tim penulis, kemudian dilanjutkan bab pertama yang menjelaskan secara ringkas tentang pengangkatan Andi Mappanyukki sebagai Raja Bone ke-33. Pada bagian ini, penulis menguraikan bagaimana pemerintahan dijalankan pasca jatuhnya kerajaan Bone (Rumpa’na Bone) dari Belanda, kemudian adanya pembentukan zelf bestuur yang dikepalai oleh Tumarilaleng. Dewan Ade Pitu atas persetujuan Belanda kemudian mengangkat Andi Mappanyukki sebagai Raja Bone ke-32, menggatikan La Pawawoi Karaeng Segeri yang telah ditangkap dan dibuang ke pulau Jawa oleh Belanda setelah kejatuhan Bone.

Bab kedua membahas tentang Masa perjuangan kemerdekaan. Diawali dengan masa pendahuluan Militer Jepang. Diuraikan pada bab ini tentang bagaimana militer Jepang secara cepat menguasai satu persatu kota di Indonesia, termasuk Makassar dan Sulawesi bagian selatan pada umumnya. Bone termasuk yang dikuasai Jepang pada masa itu. Selanjutnya diuraikan tentang situasi setelah kemerdekaan dan pengangkatan Dr. Ratulangi sebagai gubernur Sulawesi oleh Presiden Soekarno waktu itu.

Bab ketiga tentang masa masa setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia. Pada bagian ini diuraikan tentang sikap Andi Mappanyukki setelah penangkapan para tokoh pejuang kemerdekaan RI di Sulawesi Selatan termasuk Andi Mappanyukki. Beliau ditangkap oleh tentara NICA pada November 1946 dan kemudian diasingkan ke Rantepao, Tana Toraja. Setelah pengakuan kedaulatan kemerdekaan Indonesia, akhirnya Andi Mappanyukki kembali diangkat menjadi kepala daerah (Swapraja) Bone, menggatikan Andi Pabbenteng. Pada tahun 1960 Andi Mappanyukki mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Bupati atau kepala Swapraja Bone karena pertimbangan usia. Beliau kemudian kembali ke Jongayya Makassar dan menjalani sisa hidupnya dengan tenang bersama keluarganya di Makassar.

Dibandingkan dengan buku lainnya yang membahas tentang kehidupan Andi Mappanyukki, buku ini termasuk cukup ringkas. Kisah kehidupan pribadi beliau tidak banyak diungkap. Buku ini lebih fokus pada perjuangan beliau selama masa penjajahan Belanda, Jepang dan pasca kemerdekaan.

Kekurangan buku ini, banyak kesalahan ketik (typo) dan juga kurang konsisten misalnya, kadang disebut Andi Mappanyukki sebagai Raja Bone ke-33, tapi pada bagian lain beliau disebut Raja Bone ke-32. Tapi terlepas dari kekurangan ini, buku cukup bagus dijadikan bahan rujukan untuk meneliti kehidupan raja raja dan kerajaan Bone umumnya dan sosok Andi Mappanyukki khususnya.

Buku koleksi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sulawesi Selatan.

(Visited 531 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Suharman Musa

Suharman Musa, seorang Pustakawan pada Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sulawesi Selatan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.