Oleh: Tammasse Balla
Entah apa yang kucari tadi pagi, tiba-tiba mataku tertumbuk pada sebuah benda. Benda itu tak asing di mataku, amat familiar. Sekian lama benda itu “menghilang” entah ke mana. Rupanya, benda itu “tereliminasi” karena kerusakan roda depannya.
Sekitar satu dasawarsa silam, benda ini kubeli di toko alkes di bilangan Jalan Latimojong, Makassar. Ya, kursi roda untuk sosok yang paling bersejarah dan berjasa dalam hidupku. Di dalam rahimnya pernah kubersemayam selama 9 bulan lewat 10 hari. Dialah ibuku (wakil Tuhanku di bumi), yang waktu itu sulit berjalan karena ia mengidap penyakit kanker ganas.
Pagi yang ceria tadi membuat saya terperangah ketika melihat kursi roda tua itu. Kursi Roda inilah yang selalu mengawal dan mengantar ibuku bolak-balik mengikuti kemoterapi di rumah sakit. Manusia berencana, Tuhan menentukan. Pada akhirnya, ibuku tak terselamatkan. Kanker ganas itulah yang menjadi jalan menjemput ajal.
Aku termasuk orang yang sulit mengeluarkan air mata. Terakhir, air mataku keluar ketika ibuku berpulang ke Rahmatullah lebih satu dasawarsa lalu. Tadi pagi, butiran bening di sudut mataku tak mampu kubendung. Kursi roda itu mengulik kembali kenangan indahku bersama ibu yang penuh kharisma.
Pendidikannya tidak terlalu tinggi, tapi kecerdasannya setingkat sarjana. Otaknya tak pernah tidur berpikir. Apa saja dilakukan dengan cara halal untuk menyekolahkanku bertiga dengan adik-adik yang masih kecil dulu di kampung.
Ayahku seorang Kepala SD dengan notabene gajinya pas-pasan untuk hidup, bahkan kadang minus. Dengan melihat kondisi ekonomi keluarga, ibuku tak pernah berputus asa. Apa saja diupayakan dengan antusias. Kadangkala, ia menjadi tukang jahit baju, sarung, gorden, dll.
[Bersambung]
