Teringat satu lagu ketika masih kecil yang berjudul “Pelangi” dengan syair dan irama yang riang kala menyanyikannya, mengantarkan sanubariku pada suasana syahdu dan damai. Pelangi akan terlihat indah seindah tampilannya di kaki langit, yang bila dipandang membawa kedamaian, terlebih kala bernyanyi dengan riangnya bersama teman sesama anak-anak yang diakhir syair-syairnya penuh pujian keindahan dan pengakuan bahwa pelangi adalah ciptaan Tuhan.
Pelangi merupakan fenomena alam yang bagi ilmuwan menganggap bahwa pelangi merupakan fenomena meteorologi yang disebabkan oleh refleksi, refraksi dan difraksi cahaya dalam tetesan air yang menghasilkan spektrum cahaya yang muncul di langit dengan aneka warna. Meski pelangi datang hanya sesekali dan sesaat saja, yang biasanya datang ketika usai hujan dengan suasana langit yang agak mendung, tetapi cukup berkesan bagiku.
Pelangi selalu memunculkan aneka warna karena ada proses bias membentuk warna lain dari paduan warna yang berbeda. Bentuk pelangi pun agak unik, bila terlihat dengan mata telanjang, ia hanyalah setengah lingkaran, ternyata bentuknya satu lingkaran penuh. Siapa pun pasti senang melihat pelangi ketika muncul seakan menggelantung di kaki langit.
Dahulu, ada mitos yang muncul bahwa pelangi adalah jembatan bagi para bidadari turun dari kayangan bila hendak mandi di telaga atau di sungai atau yang sejenisnya. Tapi seiring berjalannya waktu, mitos tersebut mulai menghilang dan telah jarang diperdengarkan pada anak-anak, entah karena gadgetkah yang mendominasi aktivitas anak-anak atau sebab lainnya. Tetapi bagiku, apapun cerita tentang pelangi, aku tak peduli. Yang jelas bagiku, dari pelangilah aku belajar tentang banyak hal. Bukankah wadah membaca, menambah ilmu bukan hanya pada lembaran kertas, melainkan alam semesta ini merupakan kitab yang terbentang yang patut menjadi pelajaran bagi setiap manusia yang berakal.
Dari aneka warna pelangilah kupetik banyak hikmah, bahwa perbedaan bila dikemas dan dipadu dengan apik, dikemas dan dipadu dengan sempurna, dikemas dan dipadu dengan baik, maka kita akan menemukan suatu keindahan yang luar biasa.
Dari pelangilah aku belajar bahwa apa yang dilihat belum tentu sesuai pandangan mata telanjang kita. Mungkin ada hal lain yang lebih akurat yang tersembunyi di baliknya. Dari pelangilah aku belajar bahwa meski tak selalu hadir di setiap saat tetapi memberi makna, maka akan dikenang. Dari pelangilah aku belajar bahwa tidak selamanya mendung berakhir dengan hujan. Dari pelangilah aku belajar bahwa keindahan bukanlah keabadian, dan banyak lagi yang lainnya yang tak mampu aku ungkapkan karena keterbatasan kemampuan merangkai kata, keterbatasan pengetahuanku dan banyak lagi keterbatasan lainnya yang kumiliki.
Di manapun dan kapanpun kita berada di atas hamparan bumi Allah ini, akan selalu kita temukan perbedaan-perbedaan. Terpulang pada pribadi masing-masing akan kemampuan mengolah perbedaan agar menjadi indah, seperti indahnya pelangi, begitupun saat ini bagi kita yang hidup di negeri ini, negeri seribu macam perbedaan yang beraneka suku, budaya, adat, dan agama,dan ada banyak lagi perbedaan lainnya, maka perbedaan itu indah bila dikemas dan berpadu sesuai takarannya.
Perbedaan itu telah terukir sangat dalam di sanubariku. Hanya perlu menyadari bahwa jangan pernah memadukan,dan mencampur baurkan keyakinan dan ibadah kita dengan keyakinan dan ibadah agama lain, karena bagi kami agama Islam telah menuntun umatnya bahwa keyakinan dan ibadah telah ada batasannya yakni, “untukmu agamamu dan untukku agamaku.”
