Kemarin siang, saya bergegas pulang untuk bisa mengikuti webinar yang topik yang terinspirasi dari buku seorang teman. Penyakitnya saya selalu malas kalau ikut webinar harus melakukan registrasi terlebih dahulu.

Saya coba tulis pesan WhatsApp kepada teman tersebut, berharap diberi meeting id dan passcode-nya langsung. Jadi, tinggal klik, tidak perlu repot. Sayangnya, pesan WhatsApp saya belum dibalas juga. Mungkin dia sudah fokus di zoom meeting sebagai narasumber.

Akhirnya, saya coba melakukan registrasi. Ternyata tautan google form-nya sudah ditutup. Kebetulan ada tautan ke nomor WhatsApp panitia. Setelah saya coba hubungi, alhamdulillah dapat juga meeting id dan passcode-nya. Beruntung bisa masuk zoom meeting tanpa harus menyimak melalui Youtube.

Notifikasi WhatsApp pun muncul.

“Ini meeting id dan passcode-nya. Maaf telat balas.”

“Aman. Udah masuk, Mas…”

Tiba waktunya sesi tanya-jawab, seorang partisipan menyalakan kamera dan audionya.

“Senang sekali bisa ketemu Bapak di webinar ini. Sebagai mantan staf Bapak, saya bangga dan sangat ingin membaca buku Bapak. Kira-kira bagaimana caranya saya bisa mendapatkan buku Bapak. Harga teman mungkin, atau gratis, hehehe…”

“Bisa, Pak. Tinggal tuliskan saja alamat pengirimannya,” jawab teman saya.

Segera saya buka aplikasi WhatsApp.

“Temen pengen buku gratis tuh, Mas…”

“Iya hahaha, gemana mau maju ya?”

Kami pun kembali fokus ke zoom meeting.

jadi ingat, sebelum pulang saya sempatkan nalangin dulu pembelian produk untuk teman. Bukti pembelian saya kirimkan via WhatsApp. Selang satu jam, teman saya membalas pesan.

“Maaf, baru sempat transfer.”

“Kelebihan seratus ribu, Bang.”

“Lha, emang kenapa? Kita kan teman?”

Sesaat kemudian saya berpikir, yang namanya teman itu yang mana, ya? Yang pengen buku gratisan atau yang memberi pembayaran lebih?

Begitulah fenomena yang terjadi dalam pertemanan. Sayangnya, teman yang pengen gratisan lebih banyak dari teman yang memberi pembayaran lebih. Saya pikir ini kembali ke paradigma kita dalam pertemanan.

Teman sejati tentunya full support. Dia tahu bagaimana menghargai seorang teman. Menulis dan menerbitkan buku secara vanity tentunya memerlukan waktu, tenaga, pikiran, dan biaya. Alih-alih minta gratisan, teman sejati akan membayar lebih atau bahkan memborong buku.

Teman sejati tentunya menghargai jerih payah kita. Dia tahu bagaimana kita harus menempuh perjalanan untuk membeli barang pesanannya. Waktu dan tenaga kita alokasikan untuk memenuhi amanahnya. Sebagai seorang teman, niat kita kan membantu, bukan niat menjadi broker dan mengambil keuntungan? Namun, seorang teman sejati mengerti itu. Ya, dia membayar lebih karena dia menghargai kita sebagai teman.

Mulai sekarang, mari sama-sama ubah paradigma tentang makna pertemanan. Stop minta diskon, apalagi minta gratis. Sedekah itu bukan hanya pada pada fakir miskin. Atas segala effort-nya, kita patut memberi lebih pada teman. Alih-alih mengambil manfaat dari pertemanan, mulailah belajar untuk menghargai teman.

Jadi ingat lagu “I’ll be There for You” yang dinyanyikan grup musik The Rembrandts. Lagu ini dipopulerkan sebagai original soundtrack dari serial komedi situasi Friends yang tayang selama 1994 sampai 2004.

So no one told you life was gonna be this way
Your job’s a joke, you’re broke, your love life’s D.O.A.
It’s like you’re always stuck in second gear
When it hasn’t been your day, your week, your month, or even your year, but

I’ll be there for you
(When the rain starts to pour)
I’ll be there for you
(Like I’ve been there before)
I’ll be there for you
(‘Cause you’re there for me too)

You’re still in bed at ten and work began at eight
You’ve burned your breakfast, so far things are going great
Your mother warned you there’d be days like these
But she didn’t tell you when the world has brought you down to your knees that

I’ll be there for you
(When the rain starts to pour)
I’ll be there for you
(Like I’ve been there before)
I’ll be there for you
(‘Cause you’re there for me too)

No one could ever know me
No one could ever see me
Seems you’re the only one who knows what it’s like to be me
Someone to face the day with, make it through all the rest with
Someone I’ll always laugh with
Even at my worst, I’m best with you, yeah!

It’s like you’re always stuck in second gear
When it hasn’t been your day, your week, your month, or even your year

I’ll be there for you
(When the rain starts to pour)
I’ll be there for you

(Like I’ve been there before)
I’ll be there for you
(‘Cause you’re there for me too)

I’ll be there for you
I’ll be there for you
I’ll be there for you
(‘Cause you’re there for me too)
[]

(Visited 78 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Abah Iyan

Sosiopreneur, Writerpreneur & Book Publisher

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.