Kemarin (11/2) adalah pertama kalinya saya tersingkir dari lintasan Top 10 Contributors penulis di website Bengkel Narasi. Sebenarnya, hitungan Top 10 Contributors bukanlah tujuan. Kami lebih memaknainya sebagai motivasi untuk menulis.
Tidak seperti komunitas menulis lain yang “berkompetisi” menjadi pasukan elite penulis dengan program wajib menulis setiap hari, kami lebih menikmati have fun bercanda, terutama bagi penulis yang lebih sering melorotnya seperti saya atau yang bisa naik peringkat tetapi tidak pernah bisa menjadi yang pertama. Bagi saya, paling bahagia kalau jadi yang ketiga, hehehe. Orang bilang bronze happy.
Kemarin pun sejarah mencatat bagaimana hanya dengan satu tulisan saja Bunda Andi Satia langsung masuk lintasan dan menduduki posisi pertama. Juara bertahan “Bang Kumis” Sudirman pun langsung tumbang. Di hari-hari sebelumnya, ada Dinda Resty yang juga berhasil menikung delapan orang kontributor dan menduduki posisi runner-up.
Ternyata, bahagia itu sederhana. Cukup dengan menyimak lintasan Top 10 Contributors Bengkel Narasi yang semakin licin setiap harinya, tidak perlu ke Mandalika atau mengolah foto seakan-akan berfoto selfie bersama Marc Marquez. Mengapresiasi yang naik peringkat dan “mem-bully” yang sering turun peringkat seperti saya. Ya, lebih baik “mem-bully” diri sendiri karena malas menulis daripada “di-bully” orang lain, kan? Hehehe.
Namun, terlepas dari itu semua, ada hikmah yang bisa kita ambil dari dinamika lintasan Top 10 Contributors Bengkel Narasi yang semakin licin. Setidaknya, sahabat Bengkel Narasi sudah semakin rajin menulis, kan?
Mungkin sebagian orang masih berpikir dirinya tidak mampu menulis. Sebagian lagi masih tidak pede dengan hasil tulisannya. Di sini, kita patut bercermin pada Bunda Andi Satia dan Dinda Resty. Oh iya, ada Pak Sumardi juga.
Tulisan Bunda Andi Satia yang berjudul “Bersanding dengan Danau Impian di Pulau Cinta” yang diposting empat hari yang lalu telah dibaca 2.323 kali. Begitu pula tulisan perdana Dinda Resty yang berjudul “Melukis Pelangi di Atas Kanvas Jiwaku” tanggal 4 Februari sudah dibaca 2.082 kali.
Anggap saja mereka berdua masih belajar menulis, setidaknya begitulah pengakuan mereka. Tetapi, yakinlah bahwa setiap tulisan ada segmen pembacanya. Tidak perlu menunggu tulisan yang sempurna (dan bagi saya tidak ada tulisan yang sempurna) karena orang-orang sudah menanti karya kita.
Satu lagi, tentang Pak Sumardi, “Bapak ASN” Bengkel Narasi. Artikelnya yang berjudul “Rusaknya Birokrasi di Daerah karena Pilkada, Benarkah?” dalam sehari dibaca oleh lebih dari seribu kali. Sempat pula Pak Sumardi membayangi posisi “Bang Kumis” saat itu.
Saat ini, artikel Pak Sumardi tersebut praktis sudah stagnan di angka 1.500-an kali dibaca. Namun, dampaknya justru luar biasa.
Artikel tersebut dilirik oleh redaksi media massa online dan dimuat dalam rubriknya. Begitu pula dengan redaksi website KASN RI, instansi dimana Pak Sumardi bertugas, langsung mengangkat artikel tersebut tayang di website resmi instansi. Tidak ketinggalan, artikel ini berhasil mencuri perhatian founder birokratmenulis.com dan terjadwallah webinar untuk membahas tentang “PNS Sontoloyo” sebagaimana judul bukunya yang kedua terbit sekaligus menjadi salah satu buku favorit di Bengkel Narasi.
Saat ini, Pak Sumardi semakin populer sebagai praktisi manajemen SDM aparatur yang kompeten. Bahkan, Pak Sumardi sudah berhasil meyakinkan Pak Togap Marpaung untuk segera menerbitkan bukunya dan menginisiasi literasi menulis dengan tagar #BirokratPerjuangan.
Begitulah di Bengkel Narasi. Dari seorang figur Ruslan Ismail Mage (Bang RIM), muncullah sejumlah penulis melalui Bengkel Narasi. Tidak ada yang dijadikannya “pijakan”. Bang RIM mengulurkan tangannya dan mengajak semua anggota Bengkel Narasi untuk muncul ke permukaan sebagai penulis, termasuk saya.
Kembali ke lintasan Top 10 Contributors penulis di website Bengkel Narasi, saya berharap bisa masuk lagi. Tidak apa-apa di posisi bontot juga. Saya lebih senang melihat teman-teman bisa bergantian menduduki posisi satu hingga sembilan. Namun, untuk posisi kesepuluh, sisakan untuk saya, ya? Jadi, bisa tetap dibilang Top 10, gitu… []

Suka….selalu ada momen yg menjadi tulisan yg menarik.
Seneng….karna di setiap moment kta bisa membuat satu tulisan dgn narasi yg menarik ,
Sungguh dgn adax aku di Runner Up ,membuat aku semakin tertantang untuk tetap selalu eksis dlm berkarya ,yg psti isi dri kandungan karya setidaknya dpt memotivasi dan menyemangati para
pembaca
dan sebenarnya kta itu tdk malas menulis cuma terkadang ada tuntutan lain yg lebih utama, sehingga tulisan agak mandek
Wioslah Aa kan yang pentng teruslah berkarya.