Matahari pagi masih malu-malu menunjukan sinarnya. Burung-burung yang setiap hari saling bercanda ria, berterbangan hinggap di dahan dan ranting kini seolah malas keluar untuk mengepakkan sayapnya.

Langit mendung tersenyum manja. Rintik mutiara sesekali turun dari celah-celah awan.

Seperti hari-hari biasanya, kusiapkan peralatan tempur hari ini.

“Huuhhhhhhh…..semangatttt!!!!” batinku.

“Minggirrr minggiirr….aku mau lewat, tolong kasih aku jalan, yah!!”

Mereka hanya melambaikan tangan dalam diam.

Aku hanya tersenyum kecut.

“Kamu tuh yah biangnya usil. Tangannya tidak bisa diam. Kau pikir aku apaan!”

“Kau pikir aku barang mainan yang lucu gituh? Kau colak colek aku sana sini!” bentakku.

“Ehhh, kamu ngomong dong, jangan diam saja. Kalau berani sini maju. Mana tanganmu?”

Sambil aku goyang-goyangkan badannya.

Dia tetap seperti biasanya, diam membisu.

“Aku sebel sama dia! Aku kesel sama dia!”

“Hiiiiiihhhh, gemesss gemessss….! Awas kamu yah, kalau sudah saatnya tiba, jangan tanya, rasakan pembalasanku!” geramku.

“Setiap hari selalu adaaaa aja tingkahnya. Menyentuh kakiku lah,tangan lah, badan lah, dan yang lebih parahnya lagi, dia tidak segan-segan menyentuh mukaku. Risih tau!”omelku sambil banting botol minuman plastik.

“Aku selalu berteriak meronta agar dia berhenti menyentuhku. Aku risih, aku merasa tidak nyaman. Berkali-kali aku menepisnya, tetapi tetap saja tangan dia begitu usil, lagi dan lagi,” tambahku.

“Sayang, sudahlah jangan mengeluh. Hanya hal sepele, tidak usah dipermasalahkan. Nanti kalau dia sudah bosan juga berhenti mengganggumu. Kenapa sih setiap pulang kerja kamu selalu ngomel-ngomel ndak jelas?”

“Sudahlah, iklhaskan saja!” kata suami.

“Bersabarlah dan percaya suatu saat pasti Allah akan kasih kemudahan dan jalan yang terbaik. Oke istriku yang comel?” tambah suamiku.

Seperti biasa, aku hanya terdiam dan tertunduk lesu.

“Hmmmmm,” gumamku.

Aku harus berdamai dengan hati dan pekerjaanku. Aku harus ikhlas, mengeluh pun tiada guna. Hanya akan menambah beban di hati. Air mata kadang menetes tanpa permisi, nelangsa sering datang secara tiba-tiba.

Setiap hari aku diharuskan untuk memakai celana panjang, kaos panjang, dan kerudung panjang juga. Setidaknya ini adalah perlindungan pertama agar aku tidak terlalu merasa risih apabila dia menyentuh kulitku secara langsung.

Mukaku yang jarang sekali tersentuh bedak, apalagi lulur yang katanya biar glowing, terlihat semakin eksotis. Sinar matahari yang kadang panas menyengat tidak segan-segan membakar kulitku.

Mukaku kelihatan letih dan lesu, tanda-tanda penuaan kian ramai berdesakan untuk menonjolkan diri. Suamiku kadang tersenyum dan mengelus pipiku yang sama sekali tidak glowing.

“Rembulan tak akan indah dan menarik apabila tanpa bintang, Cantik! ” gombal suami.

“Tidak usah menggombal. Bilang aja mukaku sekarang banyak jerawat, goresan-goresan luka kecil, iya kan? “jawabku ketus.

“Haaa haaaa!” tawa suami.

“Boleh ya aku berhenti dari pekerjaan ini, plisss!”rayuku pada suami.

“Jangannnn, kalau kamu berhenti dari pekerjaan ini, bagaimana untuk tambahan kebutuhan keluarga?”

“Mengandalkan hasil panen saja tidak cukup, Sayang!”

“Ohhh beginilah nasib….ya nasibb ya nasibbbb…!!! Aku relakan demi keutuhan dan kebutuhan keluarga,” nyanyiku parau.

“Heyyyy kamu, tahukah kamu betapa pedihnya tangan, kaki, dan mukaku karena sentuhanmu?”

“Mukaku yang eksotis karena sengatan sinar matahari semakin memesona setelah kau goreskan luka-luka kecil di mukaku!”

“Aku malu tauuu sama suamiku. Aku kan jadi tidak percaya diri,” kesalku.

Tapi untunglah suami menerima aku apa adanya.

Suami biland,”Sayang kalau sapinya gemuk-gemuk dan sehat aku makin cinta sama kamu!”

“Huuuhhfffff!”

“Awasss kau kolonjono, lihat saja nanti. Kalau kamu sudah cukup umur dan siap untuk pakan sapi, aku tebas kamu, haaa haaa haaaa!” kataku girang.

Beginilah nasib si pencari rumput. Harus siap dan rela apabila dicolak-colek rumput liar dan daun-daun yang mengandung duri, termasuk daun Kolonjono.

Alat tempurku setiap hari adalah sabit, tali untuk mengikat rumput, dan sebotol air mineral untuk bekal cari rumput.

Kolonjono adalah makan favorit para persapian, atau bahasa kerennya pizza-nya para sapi, hihihi.

Ohhh rumput Kolonjono, duri-duri halusmu sungguh membuat kulitku semakin indah, bak rembulan tanpa bintang. []

(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.