Siang itu, aku sengaja mengunjungi Ibu dan Bapak. Seperti biasa, Ibu sedang di dapur, sementara Bapak sedang membaca Al-Qur’an.
Bapak ini luar biasa. Dia baru belajar mengaji saat pensiun. Namun, hanya dalam waktu satu bulan, Bapak berhasil menyelesaikan Iqro satu hingga enam. Setelah itu, langsung masuk ke Al-Qur’an “besar”.
Aku perhatikan Bapak menggunakan Al-Qur’an berukuran B4 yang biasa Ibu pakai. Oh iya sih, Al-Qur’an milik Bapak yang berukuran besar (mungkin ukuran A2 ya?) sudah rusak. Jilidnya sudah lepas dan ada beberapa lembar isinya yang sudah sobek.
Aku ingat waktu itu Bapak pernah minta dibawakan lakban. Aku pikir lakban untuk apa. Tanpa berpikir panjang, aku membawa lakban berwarna coklat yang biasa aku pakai mengemas paket buku. Ternyata, Bapak menggunakan lakban tersebut untuk memperbaiki jilid dan lembaran Al-Qur’an miliknya.
Agak iseng aku bertanya kepada Ibu, “Mah, mau dibelikan Al-Quran baru?”
“Ah, itu kan ada satu lagi,” jawab Ibu.
Hei, beliau adalah ibuku. Aku sangat mengenal sifatnya. Dia selalu menolak jika ditawari pemberian apa pun.
“Ya kan mau tadarusan Ramadan nih… Kalau Al-Qur’annya bagus kan jadi tambah semangat?” Aku sengaja menggoda Ibu.
Setelah berkelit terus, akhirnya Ibu mau dibelikan Al-Qur’an baru. “Iya kalau mau beli yang ukurannya di bawah itu, supaya pas masuk tas.” Setelah diukur, aku simpulkan bahwa Al-Qur’an yang Ibu inginkan berukuran B5.
Tidak lama kemudian, aku bergegas ke toko buku dekat rumah membeli Al-Qur’an untuk Ibu dan segera kembali. Betapa bahagianya Ibu mendapat Al-Quran baru dengan hard cover kombinasi warna biru muda dan pink, cantik sekali. Ketika dimasukkan ke dalam tasnya, pas!
Dalam perjalanan pulang, aku berpikir pasti Bapak juga ingin dibelikan Al-Qur’an baru. “Hmm, kita lihat aja besok atau lusa,” kataku dalam hati.
Esoknya, Bapak minta dibelikan lakban bening. Ya, seperti dugaanku, Bapak pun kembali sibuk memperbaiki Al-Qur’an yang sebelumnya sudah penuh dengan lakban coklat. Karena ukurannya besar, tentu saja Al-Qur’an itu berat. Ditambah lagi dengan lakban di hampir setiap lembarnya, tambah tebal dan berat pastinya.
Aku pernah menyarankan agar Al-Qur’an itu diperbaiki saja jilidnya di copy center. Namun, Bapak bilang sudah terlanjur dilakban. Ya sudahlah.
Esoknya lagi, aku sengaja bertanya, “Bapak mau dibelikan Al-Qur’an juga?”
“Ya kalau ada yang membelikan,” jawab Bapak sambil tersenyum sungkan.
“Mau yang seperti apa?” tanyaku.
“Yang ukurannya di bawah ini, tapi lebih besar dari Al-Qur’an ibumu kemarin. Hurufnya jangan yang tipis-tipis. Yang seperti ini aja, tebal dan enak dibaca,” jelas Bapak.
Oh, maksud Bapak itu khat Al-Qur’an Kemenag, bukan khat Al-Qur’an Utsmani, melainkan. Menurut Bapak, khat Utsmani itu terlalu tipis sehingga susah dibaca. Maklum, mata lansia sudah rabun katanya.
Aku pun kembali bergegas ke toko buku. Sayangnya, untuk ukuran Al-Qur’an yang Bapak mau, tidak ada yang isinya khat Kemenag. Aku coba menelepon Ibu dan menjelaskan kondisinya.
Ketika aku tawarkan Al-Qur’an khat Utsmani, Bapak bilang tidak mau. Aku pun kembali dengan tangan kosong, kecuali membawa sebuah pepaya yang aku beli dari toko buah di samping toko buku dan beberapa bungkus agar-agar dan jelly instan pesanan Ibu untuk bahan ta’jil.
Keesokan harinya, aku kembali mengunjungi mereka. Betapa kagetnya aku saat melihat Bapak dan Ibu sedang sibuk mengunting lembaran-lembaran isi Al-Qur’an. Ternyata, Bapak punya ide untuk membongkar Al-Qur’an miliknya tersebut dan mengelompokkan lembaran-lembarannya sesuai surah.
“Kalau gini kan jadi ringan. Mau baca yang mana, tinggal ambil.” Bapak masih sibuk menggabungkan sejumlah lembaran Al-Quran menggunakan stapler dan kemudian diberi nomor urut.
“Duh, beli aja atuh…” Aku mendadak prihatin.
“Nggak usah. Bapak itu kalau baca Al-Qur’an nggak apik. Sampai jilidnya lepas gitu. Kertasnya juga sobek-sobek karena kalau membalikkan lembarannya pake tenaga.” Aku maklum dengan penjelasan Ibu, Bapak kan pensiunan tentara. Kemudian, ibu membandingkan Al-Qur’an yang biasa dia pakai dengan Al-Qur’an yang biasa Bapak pakai. Iya sih, beda sekali: yang terawat dan yang tidak terawat, hehe…
“Iya nggak apa-apa. Ini mah Al-Qur’an penuh kenangan. Belinya juga nunggu dapet uang arisan.” Aku lihat Bapak mencoba menghibur diri.
Hari berganti. Tanpa bilang kepada Ibu dan Bapak, aku pergi ke Palasari. Di sana, dengah mudah aku temukan Al-Qur’an dengan spesifikasi yang Bapak inginkan.
“Udah, jangan dibahas lagi. Ini Iyan belikan Al-Qur’an baru. Masih diplastikin. Jadi, kalau belum mau dipake ya simpen aja dulu, aman…” kataku kepada Bapak.
“Eh, iya yang itu!” Bapak nampak kaget. Dia pun mengeluarkan secarik kertas yang ada di dalam saku kemeja kokonya yang tergantung di belakang pintu.
Ternyata, beberapa hari yang lalu pihak DKM di dekat rumah membeli lima mushaf Al-Qur’an baru untuk dipakai tadarus. Menurut Bapak, Al-Qur’an seperti itulah yang dia inginkan. Lalu, Bapak menuliskan nama varian mushaf Al-Qur’an dan nama penerbitnya di secarik kertas tersebut. Maksudnya untuk diberikan kepadaku, kalau mau membeli Al-Qur’an seperti yang tertulis di situ.
Segera aku letakkan secarik kertas tersebut di atas hard cover Al-Qur’an yang baru saja aku beli. Nama varian mushafnya sama, nama penerbitnya sama. Menurut Bapak, ukurannya pun sama. Masya Allah!
Kedua bola mata Bapak nampak berbinar-binar. Aku pun memeluk Bapak untuk sesaat, kemudian mengelus-elus punggungnya.
“Membaca Al-Qur’an itu obat,” ucap Bapak pelan.
Aku berusaha menahan agar air mata tidak menetes sambil terus mengusap-usap punggung Bapak. Aku hitung usianya sudah 73 tahun. Sehat selalu ya, Pak? []
