Oleh: Gusnawati Lukman
A. Latar Belakang
Menulis adalah pekerjaan yang sangat mulia. Aktivitas menulis adalah perintah pertama yang ditegaskan dalam Al-Qur’an pada surah Al-Alaq ayat 1-5 “membaca” (Iqra) adalah hal yang tidak dapat dipisahkan dari menulis. Membaca dan menulis adalah saudara kembar yang tak terpisahkan. Membaca dan menulis adalah dua elemen utama dalam membangun peradaban sejak zaman kenabian hingga sekarang.Menulis adalah puncak dari literasi.
Guru sebagai orang yang selalu digugu dan ditiru (Dipercaya dan diikuti), maka sudah sewajarnya sebelum mengajak siswanya untuk menulis, guru sudah harus terbiasa menulis terlebih dahulu. Dengan kata lain, guru harus menjadi role model bagi siswa dalam menulis. Menjadi role model bagi siswa dalam kebiasaan menulis, sebaiknya dilakukan oleh guru, tak hanya ketika berada di dalam kelas, tapi lebih dari itu, teladan yang baik tersebut harus dilakukan setiap saat dalam keseharian seorang guru.
Bagaimana memulai menulis? Ini adalah hal atau kendala yang pada umumnya dikeluhkan oleh seorang guru yang baru belajar menulis, dan juga penulis pemula lainnya.Banyak hal yang memenuhi otaknya, seperti pengalaman selama menjadi guru, praktik-praktik dalam pembelajaran, inovasi-inovasi dalam hal pengembangan kompetensi sebagai seorang pendidik, dan masih banyak lagi praktik baik lainnya, namun, menuangkan dalam bentuk tulisan sangat sulit. Kadang sudah akan memulai, berhenti lagi. Kadang sudah ada 1 atau 2 paragraph,terkendala lagi. Sebenarnya, kendala (writer’s block) seperti itu sudah lumrah, dan bahkan penulis yang jam terbangnya sudah tinggi pun tak jarang mengalami hal yang sama.
Dikutip dari buku “ Sumpah Pena”, Karya Ruslan Ismail Mage dan Kuspriyanto, ada beberapa hal yang perlu dilakukan ketika akan mulai menulis, yaitu;
- Tulislah apa yang ada di otak (pikiran)
Otak (pikiran) kita sudah penuh dengan berbagai hal. Namun, yang manakah yang akan dituangkan dalam bentuk tulisan? Jawabannya adalah, pilihlah yang paling disenangi.
- Tulislah apa yang disukai/dikuasai
Sebagai seorang guru, tentunya hal yang kita kuasai tidak lepas dari profesi kita sebagai seorang pendidik. Banyak praktik baik dalam pembelajaran, suka duka menghadapi siswa dengan beragam karakter, dapat menjadi bahan tulisan yang menarik. Tinggal kemampuan serta kemauan dalam mengolah narasinya menjadi bahan bacaan yang menarik, serta bermanfaat.
- Tulislah apa yang dibicarakan
Keseharian kita sebagai seorang pendidik, interaksi dengan siswa-siswa, refleksi bersama tentang proses pembelajaran,adalah hal yang paling menarik dan pasti ceritanya akan mengalir seperti air ketika dinarasikan. Selalu hangat, segar, dan real. Kolaborasi yang terjalin indah antara seorang pendidik dengan siswa-siswanya akan menjadi inspirasi bagi yang lainnya.
Ernst Steinbeck,seorang penulis Amerika menegaskan,” Menulislah dengan bebas dan secepat mungkin. Tuangkan semua di atas kertas. Jangan melakukan koreksi atau menulis ulang sebelum semuanya habis Anda tuliskan”. Penegasan ini mengisyaratkan untuk mengabaikan dulu aturan-aturan menulis. Bagi pemula, menulis tidak perlu berasa lomba atau kompetisi.
B. Pentingnya menulis bagi seorang guru
Migrasi ke era literasi digital tidak dapat dielakkan lagi, karena hal tersebut sudah merupakan tuntutan zaman. Namun, mau literasi digital, atau literasi apa pun namanya, seorang guru harus memiliki keterampilan menulis.Menulis adalah puncak dari literasi. Menulis apa pun itu, di era digital ini, seorang guru harus membuat blog atau website, yang harus ada tulisan di dalamnya.
Menulis bukan pekerjaan melamun, melainkan pekerjaan intelektual. Menulis sangat penting bagi seorang guru untuk pengembangan profesinya.
Beberapa manfaat menulis bagi seorang pendidik adalah;
1. Menulis menjadi bagian pengembangan keprofesian berkelanjutan yang berguna untuk pengusulan kenaikan pangkat bagi jabatan guru.
Ketika seorang guru akan naik pangkat, mereka harus memenuhi salah satu persyaratan yaitu memiliki karya tulis ilmiah berupa Penelitian Tindakan kelas (PTK), Best Practice, jurnal,atau artikel ilmiah lainnya.
2. Hasil karya tulis guru dapat diikutsertakan dalam lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran. Banyak inovasi-inovasi baru yang mendukung keberhasilan proses pembelajaran dapat menjadi inspirasi bagi yang lainnya.
3. Mengungkapkan ide,gagasan,pemikiran,melalui aktivitas menulis akan memperbaiki metode,strategi dan model pembelajaran.
4. Menulis merupakan media yang efektif untuk menemukan solusi dalam memecahkan masalah pendidikan.
5. Menulis bermanfaat untuk pengembangan materi atau bahan ajar dalam mata pelajaran yang diampu.
6. Menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri.
Pada saat akan mulai menulis, otomatis seorang penulis harus banyak membaca literatur-literatur yang mendukung karya tulisnya itu.Memperkaya kosa kata dan pengetahuan kebahasaan lainnya. Semua itu akan menambah pengetahuan dan wawasan seorang penulis.
7. Tulisan yg dibuat guru akan menjadi investasi bagi dirinya di akhirat kelak.
Ketika menulis dan tulisan kita membuat seseorang terinspirasi melakukan kebaikan-kebaikan dalam hidup, maka saat itulah kita akan merasakan kepuasan yang luar biasa. Tulisan yang menginspirasi, memotivasi orang lain sehingga terdorong untuk melakukan restorasi dalam dirinya dalam meningkatkan kualitas pribadinya, berarti kita dicatat sebagai orang yang memberi manfaat bagi orang lain. Sebaik-baik manusia di antaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain.” (HR. Bukhari dan Muslim)
8. Menulis juga akan menambah pundi-pundi penghasilan.
Mulailah menulis hal-hal yang akan menginspirasi orang lain. Betapa indahnya menjadi penulis ketika dapat menuliskan ide-ide atau gagasan yang bermanfaat bagi khalayak. Ketika tulisan kita sudah dipublikasikan, maka kita juga sudah bisa menambah penghasilan kita dari hasil tulisan itu.
9. Menulis akan mengantarkan penulisnya menjadi terkenal.
Ketika karya kita sudah dipublikasikan, otomatis sudah dibaca oleh khalayak luas. Nama kita akan dikenal oleh publik sebagai seorang penulis.
C. Simpulan
Guru harus berkarya dan memiliki karya literasi dalam setiap inovasinya. Tapi apakah munculnya keinginan berkreasi itu diimbangi dengan dokumentasi dan publikasi yang mengarah pada meningkatnya kompetensi literasi mereka? Sering secara tidak sadar kita menemukan sesuatu yang baru atau kreasi yang berbeda tapi lupa untuk dituliskan sehingga tidak bisa dipublikasikan.
Untuk itulah, keterampilan menulis ini harus dimiliki oleh semua orang. Tidak semua orang yang suka baca buku bisa menulis. Namun, semua penulis pasti baca buku.
Jadi, tunggu apalagi bapak/ibu guru! Ayo menulis mulai dari sekarang!
Sumber Inspirasi:
- Buku “ Sumpah Pena”
Karya: Ruslan Ismail Mage dan Kuspriyanto
Watansoppeng, 22 Mei 2022
