Isnaeni Nursukmawati

(Mahasiswa Sosiologi Fisip Unhas)

Demam drama Korea (Drakor) memang tidak ada habisnya. Hampir setiap bulannya ada saja judul drakor terbaru yang siap membanjiri berbagai platform layanan video dan tentunya dengan beragam genre. Salah satu yang menarik perhatian saya adalah drama berjudul Shadow Beauty.

Shadow Beauty (그림자 미녀) resmi tayang pada paruh terakhir tahun 2021, tepatnya pada tanggal 20 November 2021 dan ditayangkan di platform KakaoTV di Korea Selatan dan platform WeTV untuk penayangan di Indonesia. Drama ini diadaptasi dari webtoon dengan judul serupa yang ditulis oleh A-Heum.

Drakor yang berjumlah 13 episode ini menceritakan tentang perundungan siswa yang terjadi di sekolah. Mungkin terlihat klise, namun ada yang menarik dari alur cerita drama ini.

Diceritakan Ae Jin (Shim Dal Gi) menjadi korban bullyimg di sekolahnya oleh teman sekelasnya, Ha Neul (Heo Jung Hee) karena wajah Ae Jin yang dinilai tidak cantik. Meski demikian, Ae Jin tetap memiliki sahabat yang berada di kelas lain, yaitu Jin Sung (Yang Hong-Suk) seorang idol trainee dan Ho In (Choi Bo Min) ketua kelas yang misterius. Ae Jin juga memiliki “pekerjaan” yang tidak diduga oleh siapapun. Jika di sekolah ia di-bully, di sosial media ia malah dipuja karena kecantikannya. Siapa yang menyangka dengan bakat yang ia miliki dalam hal fotografi dan editing, Ae Jin berhasil “memerankan” karakter Genie, seorang selebgram dengan 770.000 followers.

Namun, semua berubah ketika tipuannya mulai terbongkar dan Mi Jin (Lee Na Gyung) yang datang ke sekolahnya kemudian mengaku sebagai Genie.

Cerita soal perundungan di sekolah memang sudah menjadi tema umum dalam drama Korea. Namun, ada yang berbeda dengan drama yang satu ini. Hampir semua tokoh di cerita tersebut memiliki masa kelam masing-masing sehingga bersembunyi dibalik “topeng” mereka untuk menutupinya. Misalnya Ae Jin yang harus menjalani kehidupan ganda di dunia nyata dan di sosial media. Bahkan ia harus rela di-bully di kehidupan nyata demi menutupi fakta bahwa dialah idola di sosial media.

Konsep seperti ini mungkin familiar di sosiologi, yaitu dramaturgi. Dramaturgi adalah konsep yang dikemukakan oleh Erving Goffman dalam salah satu karyanya yang cukup penting tentang Self yang berjudul: “Presentation of Self in Everyday Life” (1959). Konsep Goffman tentang Self sangat dipengaruhi oleh George Mead, khususnya dalam diskusi tentang ketegangan antara “I” (sebagai aspek diri yang spontan) dan “Me” (sebagai aspek diri yang dibebani oleh norma-norma sosial).

Dalam keadaan yang demikian, maka guna mempertahankan gambaran diri yang stabil, manusia cenderung melakonkan peran-peran sebagaimana halnya seorang aktor atau aktris memainkan perannya di atas panggung pertunjukkan.

Karena itu Goffman cenderung melihat kehidupan sosial sebagai satu seri drama atau seri pertunjukan di mana para aktor memainkan peran-peran tertentu. Pendekatan ini disebutnya dengan pendekatan dramaturgi (Raho, 2021).

Lebih jauh, Goffman menganalogikan kehidupan sebagai panggung sandiwara. Dalam hal ini dikatakan bahwa Self bukan sebagai sesuatu yang dimiliki oleh aktor melainkan produk atau hasil interaksi yang dihasilkan oleh aktor dan penonton.

Hal ini dapat diartikan bahwa Self akan mengarahkan tingkah lakunya sebagaimana harapan penonton yang diperoleh melalui interaksi dengan mereka. Sederhananya, seorang individu akan melakonkan sebuah peran agar self (diri mereka) bisa diterima.

Namun, di sisi lain ketika individu memainkan peran-perannya, mereka tetap menyadari bahwa ada kemungkinan munculnya penonton yang bisa mengganggu “pertunjukan” mereka. Oleh karena itu, para aktor harus selalu menyesuaikan dirinya dengan keinginan dan harapan penonton, terutama menyangkut elemen-elemen hal yang bisa mengganggu si aktor itu sendiri.

Dalam analogi teater-nya, Goffman membicarakan tentang panggung depan (front stage) dan panggung belakang (back stage). Panggung depan menjadi tempat dimana aktor harus berperan sempurna agar para penonton bisa terpukau. Oleh karena itu, aktor perlu menyiapkan segala hal yang mendukung perannya terlihat baik di hadapan penonton.

Bahkan, Goffman mengatakan bahwa aktor perlu menyembunyikan beberapa hal dari dirinya agar tidak merusak peran yang dimainkan. Sedangkan, panggung belakang menjadi tempat sang aktor bisa menjadi dirinya sendiri dan tidak perlu bersikap seperti yang diharapkan penonton. Tertawa, sedih, kecewa tidak perlu ia sembunyikan lagi.

Kembali ke alur yang ada dalam drama Shadow Beauty. Ae Jin memiliki peran sebagai Genie yang harus ia pertahankan demi eksistensi-nya sebagai selebgram. Dengan ribuan followers yang ia miliki ia dengan mudah mendapat atensi dari semua orang yang memuji kecantikannya.

Bahkan, dengan perannya sebagai Genie ia bisa bersahabat dengan seorang fans-nya lambsky yang sebenarnya adalah Ha Neul, orang yang selalu merundungnya di sekolah.

Di sisi lain, ia mempunyai tanggung jawab untuk menutupi jati dirinya sebagai gadis remaja yang di-bully hanya karena tampangnya yang dianggap tidak cantik. Namun, hal ini harus ia lakukan demi mendapat perhatian dan perasaan dihargai oleh orang lain. Sampai akhirnya, ia pun melepas “Genie” dari dirinya dan menjadi Ae Jin seutuhnya.

Mungkin problematika seperti itu sudah umum terjadi di masa seperti saat ini. Berusaha menjadi orang lain demi mencapai kepuasan pribadi dan menjadi populer di sosial media sudah jadi hal yang dicita-citakan oleh sebagian orang. Padahal, ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh individu tersebut. Jika ditelisik melalui teori dramaturgi tadi, orang-orang akan selalu berusaha menjaga image mereka sebaik mungkin di depan orang lain agar mendapat penerimaan dari mereka.

Namun, moral value yang dapat dipetik dari drama Shadow Beauty adalah dengan mencintai diri sendiri kita akan selalu merasa diterima oleh masyarakat. Karena bagaimanapun diri kita akan tetap ada orang-orang yang mampu menerima kita apa adanya.

(Visited 75 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: