Oleh: Muhammad Sadar*
Kita sebagai kaum muslim sudah sangat paham bahwa ramadan adalah bulan spesial yang diciptakan oleh Allah Swt untuk umat Islam. Perintah puasa wajib di bulan ramadan telah sangat jelas dan gamblang diterangkan dalam Al Qur’an sebagai salah satu rukun Islam yang harus dijalankan oleh penganutnya. Syarat sah berpuasa bagi seorang muslim meliputi telah baligh, berakal atau tidak dalam gangguan kejiwaan dan sehat jasmani atau tidak sedang melakukan safar.
Nilai khusus bulan ramadan yang setiap tahun menjadi bulan yang penuh rahmat, berkah dan ampunan adalah pelaksanaan berbagai amalan yang pahalanya diganjar berlipat oleh Allah Swt. Sunnah-sunnah utama sekiranya didahulukan pada bulan puasa yang akan menjadi bagian investasi di akhirat kelak serta ramadan juga turut sebagai bulan pelebur dosa dan muhasabah diri dari prilaku atau sikap selama setahun terakhir, sehingga kita selalu berharap agar ramadan kita sanggup bersamanya selama disiapkan kesempatan oleh penguasa alam.
Kesibukan urusan dunia tak lepas dari semua hajat hidup manusia, tak terkecuali sektor pertanian sebagai salah satu ladang pahala di muka bumi. Kegiatan pertanian nyaris tak mengenal waktu penyelenggaraan budidaya tanaman. Siklus musim tanam berganti hingga menuai, kemudian tanpa jeda kembali lagi melakukan pergiliran tanam walau berbeda jenis komoditas apalagi tanaman yang sejenis terus berulang untuk dibudidayakan secara berkelanjutan. Rotasi tanam-panen tetap digulirkan untuk pemenuhan bahan pangan pokok bagi penduduk dan negara.
Tatkala bulan ramadan, petani kembali mulai mengonsolidasikan mesin-mesin pertanian dan tak berhenti untuk digerakkan. Ia tetap mengurus kebutuhan sarana produksi dan mempersiapkan peralatan usaha taninya untuk operasional harvesting dan menanam. Ia konsisten melakukan pemeliharaan tanaman,
memupuk, mengatur air, mengendalikan serangga hama dan penyakit tanaman hingga memperhatikan siapa buyer yang akan membeli hasil panennya. Ia tak jenuh menghubungi PPL pendampingnya untuk urusan RDKK dan administrasi BBM maupun lahannya yang berkategori kegiatan diseminasi varietas, optimasi, peningkatan indeks, atau gudang brigade pangan yang akan dilengkapi.
Para pelaku pertanian menyadari bahwa saat ini telah memasuki bulan suci ramadan untuk fokus melakukan ibadah puasa, namun proses produksi pangan tak boleh berhenti khususnya bahan konsumsi utama penduduk yaitu beras. Selain beras untuk memenuhi kebutuhan langsung dapur rumah tangga dan sebagai materi perdagangan ekspor-impor atau bahan baku industri pangan domestik, ternyata beras juga dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembentuk kudapan masyarakat.
Komoditas beras selain penyangga pangan pokok bagi penduduk, pangan beras juga menjadi bahan utama olahan kue tradisional dan hampir semua penganan lokal khususnya di Kabupaten Barru materi dasarnya terbuat dari beras atau tepung beras seperti bandang loka, bella boddi, bannang/karasa, palubutung, cangkuneng, putu, kope langi, sokko, onde-onde, cindolo, kadoppe, surabeng,
cucuru te’ne, jompo-jompo, terlebih lagi penganan yang paling favorit di kalangan masyarakat adalah APANG.
Apang di tingkat lokal masyarakat Barru yang secara adat dijadikan kudapan spesial ketika awal bulan safar atau acara seremonial budaya lainnya. Ia adalah kue sederhana yang terbuat dari olahan tepung beras yang di fermentasi kemudian dalam proses pengukusan pada wadah tertentu dengan suhu pemanas yang terukur. Ia berukuran kecil persegi atau bermodel limas dan berbentuk jajaran genjang atau segi tiga ditambah dengan topping serutan kelapa muda yang menambah kelezatan. Ia bagian dari penganan tradisional masyarakat Bugis yang sangat fenomenal yang kerap kali memenuhi etalase jajanan di pasar atau dijumpai dalam perjalanan. Pada proses produksinya, ia berkomposisi tepung beras yang diawali dengan formulasi bubur sebagai biang apang lalu dipadu cairan gula merah aren ditambah item ragi pelebur adonan hingga kalis on fermented.
Penganan apang telah menjadi bagian tradisi lokal masyarakat di Kabupaten Barru dimana aktivitas warga disebut Mangngapang Siwanua yang berarti membuat atau memproduksi kue apang dalam satu kampung untuk menyambut pertengahan bulan puasa. Bahkan salah satu wilayah di daerah ini menyelenggarakan event yang disebut Festival Apang Kampoeng Kamara. Kamara merupakan sebuah nama kampung di Kecamatan Barru yang setiap tahun pada tanggal 15 malam ramadan melaksanakan festival apang tingkat kampung di area masjid. Komoditas apang telah menjadi ikon festival yang membingkai tradisi ini dalam acara bernuansa Islami antara lain lomba tadarrus Al Qur’an, lomba adzan tingkat anak/remaja dan lomba qasidah dengan peserta grup majelis taklim atau komunitas binaan masyarakat Barru.
Festival Apang Kampoeng Kamara yang dikemas berbagai acara kreasi Islam dengan event utamanya adalah menikmati hidangan kue apang bersama masyarakat luas sebagai persembahan dari penduduk kampung Kamara. Prosesi festival dihadiri oleh berbagai kalangan diantaranya pimpinan daerah, tokoh pemuda dan kaum perempuan, serta golongan tetua adat dan anak kampung setempat. Dalam festival tersebut, perjamuan cemilan apang mewarnai open ceremony dengan sajian berbagai model dan cita rasa apang khas kampung Kamara, selanjutnya disampaikan pesan-pesan kearifan lokal maupun informasi tentang kebijakan pembangunan daerah.
Hakikat apang sebetulnya bisa dinilai dari bahan dasarnya yang terbuat dari hasil pekerjaan petani seperti beras yang diproduksi pada lahan sawah atau lahan non sawah. Kemudian hiasan serutan kelapa muda sebagai fungsi garnish apang diperoleh dari perkebunan kelapa rakyat, sedangkan unsur pemanis alami gula merah diekstraksi dari pohon aren yang merupakan komoditas sektor perkebunan dan flora hutan.
Kreativitas dalam memproduksi suguhan apang akan sangat membantu petani didalam menyerap hasil usaha taninya. Kombinasi ramuan produksi pertanian/kehutanan akhirnya melahirkan suatu olahan pangan yang menyehatkan dan meningkatkan motivasi petani untuk menyediakan bahannya secara berkesinambungan.
Kudapan tradisional apang yang setiap hari tersedia di outlet-outlet kampung atau jajanan kue di pasar lokal akan turut terbantu jika para konsumen membeli jajanan produsen apang. Dengan kombinasi bahan yang didominasi karbohidrat ditambah serat atau mineral lain sangat cukup untuk membantu mengawali breakfast di pagi hari, bahkan hidangan apang tersebut tersedia sepanjang waktu hingga larut malam.
Komoditas apang ini bisa menjadi suatu rule model dalam pengembangan usaha ekonomi kreatif dengan menghadirkan proses produksi apang yang lebih inovatif.
Tradisi apang di bulan ramadan pada suatu kampung, telah mendesain sebuah skala usaha ekonomi produktif masyarakat utamanya produksi bahan pangan dari sektor pertanian seperti beras, kelapa dan produk turunan dari pohon aren. Komoditas apang yang difestivalkan akan menciptakan nuansa harmoni dan jalinan silaturrahim maupun kekerabatan dalam sekampung terus terjaga. Kegiatan festival juga turut memelihara kerukunan sesama kaum muslim pada bulan ramadan melalui event lomba Islami, pelestarian budaya lokal serta mempererat kebersamaan antar warga masyarakat Kabupaten Barru.
Cita rasa gurih dan legit sebagai penciri kelezatan apang akan terus mendorong persaudaraan dan memupuk keakraban antar warga kampung. Dengan perhatian konsumen yang tinggi akan berdampak terhadap selera menikmati apang yang lebih sedap lagi. Oleh karena itu hadirkanlah dan tumbuhkanlah kreativitas produsen kudapan apang yang sebaik mungkin untuk menjaga warisan budaya para leluhur. Sunnatullah tradisi apang di wanua Kamara Kabupaten Barru tentunya akan menghidupkan inovasi kuliner pada bulan ramadan maupun di luar bulan puasa sekaligus menguatkan sektor pertanian untuk memproduksi pangan sebagai bahan baku produksi APANG.
Barru, 07 Ramadan 1447 Hijriyah
*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan TPH dan Perkebunan Kabupaten Barru
