Oleh : Elvira Pereira Ximenes
Semasa kecilku dulu, aku sering berhayal tinggi memiliki banyak impian. Tergantung situasi di kala itu. Saat aku bertemu atau mendapat cerita dari orang sukses dalam hal apa pun, mendapat kunjungan dari mana datangnya dan siapa pun mereka bahkan lewat buku-buku yang aku baca sekali pun sering menggoda pikiranku hingga hanyut dalam situasi yang mereka ceritakan. Terkadang aku merasa empati bahkan seolah-olah aku berada dalam cerita itu.
Waktu itu aku memiliki impian menjadi seperti orang-orang sukses di luar sana. Memiliki cita-cita setinggi langit, tapi akhirnya aku sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi di siang bolong. Aku malu bercerita kepada siapa pun tentang isi hatiku, semuanya kutuangkan lewat buku diaryku. Itu pun tidak semua kutulis karena takut dibaca orang suatu saat karena aku termasuk tipe orang tertutup.
Menurut Afifi bin Ahmad 2005: 8. Impian adalah proses untuk membina dan merancang masa depan sesuai dengan apa yang diinginkan dengan segala daya dan upaya, apa pun yang terjadi harus tercapai dengan penuh keyakinan. Menurut Mutaningtyas 2007; Cita-cita adalah keinginan yang selalu ada dalam pikiran atau tujuan yang ditetapkan oleh seseorang untuk diri sendiri dan hendak dicapai. Keberadaan cita-cita selain didukung oleh impian, juga dipengaruhi oleh lingkungan sekitar, terutama orang tua.
Pernyataan di atas menyadarkan aku bahwa untuk menjadi orang sukses tidaklah semudah membalik telapak tangan. Segala sesuatu tidaklah terjadi secara instan bahwa potong kompas, pasti melewati liku-liku jalan, melewati jurang, lembah bahkan naik gunung. Membutuhkan usaha, pengorbanan, waktu komitmen serta strategi yang andal. Semuanya tidak terlepas dari campur tangan Tuhan. Di sini aku tidak bermaksud untuk mengajar tapi mencoba mengingatkan bahwa segala kesuksesan kita bukan atas kekuatan kita. Namun, semuanya berasal dari penyelenggara ilahi.
Hari ini aku disadarkan oleh kata mutiara dari sang inspirator dan penggerak Bengkel Narasi Bang RIM yang berbunyi,” Membaca dan menulis adalah saudara kembar tak terpisahkan yang akan menemani hari-harimu ke depan. Memisahkannya berarti melumpuhkan langkahmu menuju singgasana kesuksesan”. Sebagai seorang pemula dalam dunia literasi, aku sering terinspirasi untuk mencoba mempraktikkan kedua hal tersebut yakni membaca dan menulis. Menjadi seorang penulis adalah salah satu impianku di masa kecil. Kini tibalah saatnya aku menjemput impianku walau masih jatuh bangun, tapi aku menikmati prosesnya. Puji Tuhan aku bisa bergabung dengan para mentor dan inspirator penulis profesional di Bengkel Narasi.
