Oleh: Juharman Muliadi
Pemuda peduli terhadap generasi muda sebagai estafet untuk pemegang obor di masa yang akan datang. Mereka semua miris akan datangnya tenaga asing yang katanya hari ini banyak masuk di negara kita memanfaatkan kekayaan alam Indonesia. Di sisi lain, bangsa kita lontang-lantung mencari pekerjaan tapi tak jua peluang ia temukan. Haruskah kita mati di tanah kelahiran, ataukah harus menjadi penonton setia bagi mereka yang memainkan kekuasaan di negara kita?
Pemuda peduli bumi pertiwi muncul dengan memberi tindakan dengan cara teriakan. Mereka menolak untuk jadi budak di negeri sendiri. Namun, upaya terkadang tak di hiraukan. Pemuda peduli terhadap tanah air, haruskah kita menjadi pemberontak agar suara kita didengar? Tidak…! !
Kami cinta negeri ini.
Kami salut bangsa ini.
Mari bertindak dengan pola yang berbeda. Kita semua menginginkan kemakmuran. Kita semua menginginkan kesejahteraan.
Sudah saatnya bangkit. Mari bekali anak muda dengan literasi sebagai bentuk dari penolakan akan perbudakan. Sebagai aksi perlawanan dari belenggu tirani pembodohan. Kita semua miris akan kondisi bangsa ini, apa lagi jika harus melihat generasi muda yang mulai mengalami degradasi moral, di mana yang tua seakan tak memedulikan yang muda, dan yang muda sudah tak lagi bisa menghargai yang tua. Ini salah siapa?
Jika ada yang mesti menjadi dosa jariyah, maka itulah orang-orang yang meninggalkan generasi lemah yang akan mendapatkan jatah itu. Maka dari itu, mari kita semua membangun jiwa-jiwa muda yang masih tertidur lelap di dalam hati para intelektual.
Ayo kita mulai dengan membangun jiwa anak muda, sebagaimana lirik lagu dari negara kebanggaan kita ini. INDONESIA RAYA, bangunlah jiwanya, bangunlah raganya. Saya yakin betul ketika jiwa dari anak muda sudah kita bangun, maka raganya akan ikut bangkit. Di situlah kita melihat peradaban gemilang untuk Indonesia jaya.
