*Saina Nirwana
Ibu adalah seorang single mother semenjak ayah meninggal dunia 15 tahun yang lalu. Sejak saat itu beban dunia seakan berpindah ke pundak ibu yang menjadi tulang punggung keluarga. Meskipun kami hidup pas-pasan. Namun, ibu tidak mengharapkan aku putus sekolah. Ibu selalu memberikan motivasi agar aku bisa melanjutkan pendidikan ke bangku perkuliahan.
Secara finansial 15 tahun kami lewati dengan keprihatinan. Saat itu kami bisa bertahan hidup, dan aku tetap sekolah merupakan suatu anugerah bagi kami. Semua itu berkat perjuangan ibu, yang entah bagaimana ibu memutar otak untuk mencari jalan agar dapur kami tetap mengepul dan anaknya tetap mendapatkan pendidikan dengan layak.
Alhamdulillah, tahun 2015 aku diterima di Universitas Muhammadiyah Makassar. Sejak saat itulah aku merantau di Makassar meninggalkan ibu di Mamuju. Masih teringat dengan jelas bagaimana raut wajah ibu menaruh harapan besar terhadap diriku yang hendak ke Makassar untuk kuliah. Matanya sembab menampung air mata yang tidak berhenti mengalir.
Waktu itu sosok yang kuat, sabar dan tabah, tiba-tiba menunjukkan sisi lemahnya untuk sesaat menyaksikan kepergianku melanjutkan pendidikan tinggi. Di Kota Makassar aku ngekos bersama temanku bernama Anis yang kuliah di Universitas Negeri Makassar. Meskipun berbeda kampus tapi kami tetap saling membantu dalam menjalani kehidupan.
Namun, entah apa sebabnya sahabatku Anis berhenti kuliah di semester empat. Untuk saat itu juga, ada juniorku di kampus bernama Arni yang kebetulan juga satu kampung denganku di Mamuju sedang mencari kos-kosan. Aku pun menawarkan Arni tinggal bersamaku.
Selama tinggal dua tahun bersama Arni, lika-liku kehidupan di Kota Makassar kami lewati. Arni adalah orang yang sangat baik, ketika aku dalam kesusahan Arni selalu ada untuk membantuku, begitupun sebaliknya, ketika Arni ada kesulitan aku selalu berusaha membantunya. Kami selalu berusaha saling melengkapi satu sama lain.
Secara fisik aku memang berjauhan dengan ibu, tetapi jiwaku dan jiwa ibu selalu menyatu. Ibu selalu berusaha tepat waktu membayar uang kuliahku dan kebutuhan lain selama kuliah. Ibu bekerja langsung di kebun demi keberlangsungan kehidupanku di Makassar.
Alhamdulillah berkat do’a dan cucuran keringatnyalah hingga aku bisa menyelesaikan kuliah (S1) dengan tepat waktu. Rasa syukur terus kupanjatkan setelah bisa membuat ibu tersenyum bahagia melihatku diwisuda.
Terima kasih ibu, 15 tahun engkau terus memupuk tenagamu berjuang sendiri untukku tanpa pernah mengeluh.
*Dosen Institut Teknologi dan Sains (Intens) Muhammadiyah Kolaka Utara
