Oleh : Nabila Putri*
Ia adalah sosok rapuh yang sesekali bertingkah angkuh. Namun, angkuh bukan untuk menyombongkan diri, tetapi angkuh untuk menyembunyikan segala pedih. Ia selalu berusaha untuk baik-baik saja, walaupun setiap jawabannya selalu mengeluarkan air mata.
Entah, untuk apa sebenarnya dia berpura-pura? Padahal untuk menangis setiap orang diberi kebebasan masing-masing. Jujur kepada semesta bahwa “Semua tidak baik-baik saja” ternyata sesulit itu.
Beberapa kali dia selalu merasa banyak kegagalan yang ia lakukan. Bukan katanya tapi kata orang-orang di sekitarnya. Sesungguhnya ia sudah berusaha untuk menyelesaikan segalanya, tapi pandangan buruk selalu saja menerpanya.
Rasanya ia ingin berada sendirian di dunia. Ia ingin bebas melakukan segala kegagalannya tanpa perlu diketahui oleh banyak pasang mata. Ia ingin menjadi dirinya yang sesungguhnya.
Di mana ia gagal, ia akan menangis sepuasnya. Di mana ia bahagia, ia akan bahagia sebahagianya. Di mana ia kecewa, ia akan menikmati patah hatinya. Sendiri merdeka menikmati perasaannya dalam kondisi apa pun. Lelah dan capek dengan segala topeng yang ia gunakan. Ingin berhenti untuk mempersiapkan diri demi mencari topeng mana lagi yang akan ia gunakan hari ini.
Sesulit itu ternyata dia menyiapkan diri dari hari demi hari, tetapi orang-orang yang tidak memahami semudah itu untuk menghakimi. Andai saja semua orang tidak harus ikut campur dengan urusan orang lain, mungkin tidak akan banyak luka yang ia rasa karena gonggongan dari sekitarnya.
Percayalah, yang bahagia belum tentu benar-benar bahagia, yang terlihat biasa saja belum tentu semuanya baik-baik saja, dan yang selalu mengeluarkan air mata jangan lagi bertanya apa kau baik-baik saja? Sesulit itukah jujur ke semesta?
*Mahasiswa Universitas Ekasakti Padang, penggiat literasi membaca dan menulis
