Oleh: H. Tammasse Balla*

Kalau gajah mati meninggalkan gading, maka RIM akan meninggalkan literasi. Sosok sederhana yang punya segudang pengalaman berliterasi ini telah menunjukkan kelasnya. Masuk daftar 101 tokoh inspiratif asal Sulawesi Selatan dalam buku karya penulis senior Fiam Mustamin, bagi saya bukan sebuah kejutan karena memang amat layak memasukkan RIM dalam buku itu.

Bahkan, saya pikir tidak hanya layak dimasukkan dalam ranah Sulawesi Selatan, lingkup Indonesia pun sangat wajar disetarakan dengan tokoh literasi lainnya. Ketika para penulis lain masih sibuk melahirkan tulisan, saudaraku RIM sudah hijrah bergeser melahirkan penulis. Sebagaimana bunyi kutipan inspiratifnya, “Penulis sejati bukan hanya melahirkan ratusan bahkan ribuan karya tulis, tetapi melahirkan penulis.”

Melalui rumah jiwanya di angkasa Bengkel Narasi (BN), RIM sudah melahirkan banyak penulis buku dari kalangan birokrasi, politisi, sampai guru. Melalui Pena Anak Indonesia (PAI), sebuah panggung terbuka di angkasa yang didesainnya khusus untuk anak-anak Indonesia, RIM sudah melahirkan ratusan penulis anak Indonesia yang tersebar di beberapa wilayah di Nusantara.

Filosofinya dalam berkarya membuat saya takjub. Hal ini pula yang ditularkan kepada seluruh anggota komunitas menulis yang dibentuknya, tidak terkecuali kepada saya. Filosofinya mengatakan, “Teruslah berkarya dalam sunyi, lalu biarkan orang lain bercerita atau menarasikan segala pencapaianmu.”

Kalau filosofi berkarya ini saya jabarkan dalam bahasa sederhana, sesungguhnya RIM menasehati kita semua, “Jangan membicarakan segala kehebatan kita, tetapi usahakanlah orang lain yang bercerita tentang kemampuan kita.” Bahasa vulgarnya jangan sombong dan angkuh atas apa pun capaian kita.

RIM termasuk “manusia langka” yang dimiliki bangsa ini. RIM telah menggugurkan teori bahwa orang yang jago berliterasi (menulis), kurang mampu bernarasi (berbicara). Demikian sebaliknya, orang yang jago bernarasi, lemah dalam berliterasi. RIM menumbangkan teori lawas itu. Di samping ia jago berliterasi, ia pun hebat bernarasi. Daya dobrak tulisannya dalam membingkai imaji pembaca sama serunya dengan daya pukau serpihan-serpihan kalimatnya di atas mimbar. Kekuatan suaranya mencapai hingga oktaf ke-7 dalam memberi motivasi. Daya pancar frekuensi semangat yang dilontarkannya mampu menembus hingga telaga jiwa terdalam. Jarang ada orang yang bisa mengawinkan dua keterampilan berbahasa ini, menulis dan berbicara.

Selamat Saudaraku RIM, tetaplah menjadi inspirator dan motivator yang selalu berkarya untuk kemanusiaan. Sontekan-sontekan karyamu tetap ditunggugenerasi penerus yang mampu “paccolli’ loloengngi aju matabu’e”.

Kita tunggu kumpulan tulisan teman-teman tentang sepak terjang RIM di dunia literasi dalam buku yang akan terbit di Bengkel Narasi berjudul “RIM The Eagle Literasi”. Sebuah buku yang mengulas tiga dasawarsa RIM terbang melintasi kota membumikan literasi.

*Salam literasi dari saudaramu HTB di Brighton Beach, Melbourne, Australia.

(Visited 1,810 times, 1 visits today)
One thought on “RIM, Pendekar Literasi Berdarah Bugis”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.