Oleh : Haji Tammasse Balla*

Any Man can be a Father. It takes someone special to be a Dad. (Pria mana pun bisa menjadi Ayah. Dibutuhkan seseorang yang spesial untuk menjadi seorang Ayah). Lalu jawaban apa yang akan kalian berikan kepada seorang Ayah? Pahlawan? Super hero? Atau justru seseorang yang keras? Tentu kalian akan memberikan jawaban berbeda-beda. Bergantung bagaimana sosok Ayah kalian, bukan?

Ada orang yang memiliki sosok Ayah yang lembut, senang bermain dengan anak-anaknya, mau apa saja dibolehkan, sabar. Ayah seperti ini menganggap anak sebagai teman atau saudara. Namun, ada juga yang memiliki sosok Ayah yang keras, tegas, sering memarahi anaknya, bahkan tak jarang ada Ayah sering memberi pukulan kepada anaknya. Ayah seperti
ini lazim disebut ayah “ringan tangan, bertangan besi”.

Penting dan perlu diingat! Bagaimana pun Ayah kalian, dia adalah seorang yang sungguh menyayangi kalian dari lubuk hatinya yang terdalam. Walaupun bisa dikira dia tidak menyayangi kita karena sikapnya yang sering keras itu. Namun, percayakah kalian kalau sebenarnya Ayah menyimpan rasa sayang yang besar kepada kalian di dalam dirinya?

Pada tulisan kali ini akan diulas tentang pesan dari seorang Ayah kepada anak-anaknya. Pesan berikut mungkin belum kalian rasakan saat ini. Namun percayalah, pesan ini akan menjadi sangat penting untuk masa depannya. Pesan ini laksana bulan yang menyinari gelapnya malam.

Pesan Sang Ayah

Hai anakku, bagaimana kabarmu sekarang? Apa engkau baik–baik saja? Anakku, ketika Ayah semakin tua, Ayah berharap kamu memahami dan memiliki kesabaran untukku. Suatu saat ketika Ayah memecahkan piring di atas meja karena penglihatanku berkurang, Ayah berharap kamu tidak akan memarahiku.

Orang tua itu sensitif, Nak. Selalu merasa bersalah saat kamu berteriak. Ketika pendengaranku semakin memburuk dan Ayah tidak bisa mendengar apa yang kamu katakan, Ayah berharap kamu jangan memanggilku “TULI!” Mohon ulangi apa yang kamu katakan atau menulisnya.

Maaf, anakku, Ayah semakin tua. Ketika lututku mulai lemah, Ayah harap kamu memiliki kesabaran untuk membantuku bangun. Seperti bagaimana Ayah selalu membantumu pada waktu masih kecil untuk belajar berjalan. Ayah mohon jangan bosan denganku. Ketika Ayah terus mengulangi apa yang kukatakan. Sama halnya kaset rusak.

Ayah harap kamu terus mendengarkanku. Tolong jangan mengejekku, atau bosan mendengarkanku. Apakah kamu ingat ketika kamu masih kecil dan kamu ingin sebuah boneka? Kamu mengulangi yang kamu mau berulang-ulang, sampai kamu mendapatkan boneka yang kamu inginkan?

Maafkan juga bauku, tercium seperti orang yang sudah tua. Ayah mohon jangan memaksaku mandi. Tubuhku lemah, orangtua mudah sakit-sakitan karena mereka rentan terhadap dingin. Ayah harap agar Ayah tidak terlihat kotor bagimu. Apakah kamu ingat ketika masih kecil? Ayah selalu mengejar-ngejar kamu, karena kamu tidak mau mandi.

Ayah berharap kamu bisa bersabar denganku ketika aku selalu rewel. Ini semua bagian dari menjadi tua. Kamu akan mengerti ketika kamu tua. Jika kamu memiliki waktu luang, Ayah harap kita bisa berbicara meski untuk beberapa menit saja. Ayah selalu sendiri sepanjang waktu dan tidak memiliki seseorang pun untuk diajak berbicara.

Ayah tahu kamu sibuk dengan pekerjaanmu. Bahkan jika kamu tidak tertarik pada ceritaku, Ayah mohon berikan aku waktu bersamamu. Apakah kamu masih ingat ketika kamu masih kecil? Ayah selalu mendengarkan apa pun yang kamu ceritakan tentang mainanmu.

Ketika saatnya tiba, Ayah hanya bisa berbaring, sakit, dan sakit. Ayah harap kamu memiliki kesabaran untuk merawatku. Maaf, kalau Ayah tanpa sadar mengompol atau membuat berantakan barang-barang. Ayah berharap kamu memiliki kesabaran merawatku. Selama beberapa saat terakhir hidupku.

Ayah mungkin tidak akan bertahan lebih lama. Ketika waktu kematianku datang, kuharap kamu memegang tanganku dan memberikanku kekuatan untuk menghadapi kematian. Jangan khawatir ketika Ayah bertemu dengan sang pencipta, Ayah akan berbisik kepada-Nya untuk selalu memberimu berkah karena kamu mencintai ibu dan ayahmu, Nak.

Terima kasih atas segala perhatianmu, Nak.
Maafkan kalau dulu kami sering memukulmu, keras padamu, tapi kami sangat menyayangimu dengan penuh hasih sayang.

Sahabat, seringkali kita semua terlalu sibuk dan melupakan kalau mereka juga semakin tua. Sediakanlah waktu untuk dinikmati bersama mereka. Selama mereka masih ada di sisi kalian, masih bisa memeluknya, berbicara dengannya, melihat senyuman lembutnya. Lakukanlah, sebelum waktu yang akan menghadirkan rasa penyesalan.

*Kaprodi S2 Bahasa Indonesia FIB Unhas

(Visited 193 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.