Oleh : Hamsah*
Mayoritas dari kita berkumpul dalam pusaran perantauan dengan motif yang berbeda-beda. Ada yang merantau karena alasan melanjutkan pendidikan, bekerja, dan ada pula karena alasan jodoh. Apa pun motif yang mengantarkan kita pada pusaran perantauan tentu telah melewati pertimbangan-pertimbangan yang matang sampai kita memutuskan untuk merantau.
Merantau adalah salah satu pilihan rasional yang nyaris menjadi keharusan bagi sebagian besar orang Bugis. Hal tersebut telah menjadi warisan budaya bahwa manusia Bugis adalah perantau. Namun, meskipun demikian, merantau hanyalah sarana untuk keluar dari kampung halaman dan tetap kembali untuk sebuah perubahan baik untuk diri sendiri, keluarga maupun masyarakat luas. Sehingga terbangun nilai spirit dalam kebudayaan Bugis “Lao sappa deceng lisu mappadeceng”. Artinya, pergi untuk mencari kebaikan niscaya tetap akan kembali untuk melakukan perubahan.
Namun, tetap menjadi dikotomi bahwa apa yang dicita-citakan pada saat melangkahkan kaki untuk meninggalkan kampung halaman tidak selamanya sesuai dengan apa yang diharapkan. Bagi sebagian orang, mereka merantau dan berhasil kemudian kembali ke kampung halaman dan memberikan perubahan. Tetapi sebagian besar orang justru bertahan dalam perantauan hanya karena malu untuk kembali di saat apa yang dicita-citakan belum tercapai. Di sini berlaku ungkapan Bugis “Pada lao teppada upe”. Artinya sama-sama pergi namun tidak sama apa yang didapatkan.
Konsekuensi logis yang harus diterima sebagai anak rantau adalah menahan rindu untuk tidak bertemu secara fisik dengan orang-orang terdekat, orang tua, saudara, teman-teman sekolah dan lain-lainnya. Konsekuensi lainnya tentu bersifat kasuistik antara masing-masing orang. Bagi yang sukses dari ukuran materi maka daratan, laut dan udara hanyalah bagaikan tangga rumah yang bisa dilewati kapan saja. Namun, bagi yang tidak maka menahan rindu adalah konsekuensi yang pasti.
Melalui perkembangan teknologi, sedikit mampu merekayasa apa yang menjadi konsekuensi dari pilihan merantau. Meskipun fisik tak bertemu, namun melalui manipulasi digitalisasi seakan pertemuan itu ada. Sehingga tidak sedikit juga di antara kita memberanikan diri untuk merantau, meninggalkan keluarga dengan alasan ada teknologi digitalisasi untuk bisa saling berinteraksi dan memberikan kabar. Sehingga digitalisasi bagaikan perantara rindu yang tak boleh tidur.
Akan tetapi, ini tetap menjadi sebuah kekhawatiran saat kehidupan mulai terpisah-pisah dan hanya mengandalkan digitalisasi untuk saling berinteraksi dan terhubung satu sama lain. Mengutip quotes dari Ruslan Ismail Mage (RIM) “Apa jadinya jika penguasa jaringan internet dunia melakukan Shut Down”. Ketika itu terjadi, maka inilah konsekuensi terberat dari kita yang terpisah dari jarak. Tak akan ada lagi pertemuan.
*Akademisi Universitas Negeri Manado
