Oleh : H. Tammasse Balla*

Sore berangsur merangkul senja. Mentari jingga di ufuk barat pelan turun menuju peraduannya. Tak lama pun senja menjemput malam. Seperti biasanya, kududuk di “surau” rumah menunggu anak-anak shalat Magrib berjamaah. Tak dinyana, pintu kamar berderik keras. Ada apa? Kepalaku spontan menoleh ke arah “teriakan” pintu itu. Ternyata, anakku yang baru semester I di salah satu fakultas di Unhas mendorong keras pintu itu dari luar.

Rupanya, ia baru saja tiba di rumah setelah seharian berkutat di kampus. Ia baru tahu berita “konyol” yang menimpa salah seorang oknum warga Unhas. Seorang publik figur, disegani, dihormati, dan semuanya. Ia memulai pembicaraan,”Papa, maafkan aku Papa.” Kalimat singkat meluncur dari bibirnya sambil merangkulku dengan kuatnya. Rangkulannya di pinggangku semakin dikuatkan, sementara aku duduk di atas sajadah. Loh, mengapa minta maaf, nak? Kataku terheran-heran. Apa yang terjadi di laboratorium tadi? Apakah ujian praktikmu hari ini sulit? Apakah Asisten Pendamping Anatomi galak-galak? Demikian kucecar pertanyaan karena kebetulan kemarin ia ikut ujian praktik Anatomi Tubuh Manusia. Lalu, anak sulungku itu melanjutkan lagi, “Tidak, Pak. Lancarji semua ujianku tadi di lab. Aku hanya ingin curhat kepada Papa.

Papa, begini, pada suatu kesempatan belum lama ini, oknum yang tertangkap Satnarkoba Polrestabes Makassar itu pernah kulihat dengan mata kepalaku berdiri bersama Papa di suatu tempat. Oknum itu dihormati tiap orang liwat. Tiap mahasiswa membungkukkan badannya. Aku kasihan melihat Papa berdiri kaku tak ada orang yang peduli. Seandainya ada kucing liwat, mungkin kucing pun ikut memberi “salam hormat” kepada pejabat penting itu. Namun, ternyata aku keliru karena anggapanku bahwa kalau orang sudah jadi pejabat, sungguh “wah”. Justru aku berbangga pada Papa yang punya banyak waktu untuk anak-anaknya.

Aku masih melihat Papa sempat menyeterikakan jilbabku tiap pagi. Papa masih ada waktu menyucikan mobil. Papa punya banyak waktu bersenda gurau dengan keluarga di rumah. Dibanding mereka yang mempunyai orang tua pejabat, pasti jarang bisa bersentuhan dengan keluarganya. Mereka kurang perhatian karena kesibukannya bekerja. Siang rapat kerja, menghadiri undangan ini dan itu. Terlalu banyak disanjung, dipuja, dielu-elukan, bahkan dikultuskan, akhirnya “besar kepala”, lupa daratan, bergelimang uang, dan ujung-ujungnya jatuh ke “pelukan” narkoba.

Sekali lagi, aku bersyukur kepada Allah karena punya Papa yang “biasa-biasa” saja, tapi andilnya sungguh “luar biasa” dalam mengawalku mencapai impian masa depanku. Doakan Papa, moga-moga lancar semua kuliahku, ada rencanaku menulis sebuah buku spesial buat Papa dengan judul: MY FATHER IS MY HERO” (Ayahku adalah pahlawanku).

Demikian anakku mengatakan curhatnya, disertai dengan linangan air mata sambil menatap tajam mataku. Aku pun tak sanggup menahan air mata, mengharukan sekali suasana magrib kemarin.

*Kaprodi S2 Bahasa Indonesia FIB Unhas

(Visited 67 times, 1 visits today)
One thought on “Curhat Seorang Gadis”
  1. Setelah membaca semua kisah bapak, saya yakin bapak adalah orang yang hebat! Saya sangat mengagumi semua tulisan bapak. Tulisan “Curhat Seorang Gadis” sukses membuat saya menangis saat berpuasa hari ini. Saya teringat sosok bapak saya yang persis seperti bapak. Sukses dan sehat selalu yaa pak!

    Ditunggu buku “My Father is My Hero” nya!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.