Dulu, orang tua kita mengajarkan bahwa tubuh yang kuat dibangun oleh empat sehat, lima sempurna. Bukan sekadar tentang makanan, melainkan tentang keseimbangan hidup. Seiring perjalanan waktu, aku memahami bahwa kehidupan pun memiliki hidangannya sendiri. Ada yang tersaji sebagai ilmu, ada yang bernama kerja keras, ada yang tumbuh sebagai keluarga, dan ada yang berbuah sebagai pengabdian. Namun, selalu ada satu unsur yang menyempurnakan semuanya.

Aku memulai perjalanan hidup ini bukan dari kursi singgasana, melainkan dari langkah-langkah kecil yang sering kali luput dari tepuk tangan. Setiap pagi adalah ruang belajar, setiap malam adalah tempat menganyam mimpi-mimpi yang masih absurd. Tak ada kemuliaan yang lahir seketika; ia tumbuh perlahan-lahan seperti akar pohon yang bekerja diam-diam di dalam tanah.

Tuhan menghadiahkanku sebuah keluarga yang menjadi taman tempat harapan bertumbuh. Di sana, cinta tidak diukur oleh banyaknya kata-kata, melainkan oleh komitmen kuat saling menguatkan. Rumah bukan sekadar bangunan, tetapi sekolah pertama tempat mimpi-mimpi belajar mengeja masa depan.

Istriku memilih jalan ilmu yang menuntunnya menjadi seorang Dokter Neurologi di Unhas. Di tangannya, harapan banyak orang menemukan kembali denyut kehidupan. Ia mengajarkanku bahwa ilmu pengetahuan akan kehilangan maknanya bila tidak disertai kasih sayang kepada sesama.

Aku sendiri memilih jalan sebagai seorang pendidik. Lebih tiga dasawarsa kuhabiskan di ruang kuliah, bukan sekadar menyampaikan teori, tetapi menanamkan keyakinan bahwa ilmu adalah benih yang harus ditebar dan diwariskan. Seorang dosen sejati tidak hanya mencetak lulusan, tetapi juga melahirkan manusia yang mampu menerangi kehidupan orang lain.

Dua putri kami tumbuh mengikuti jejak ibunya. Mereka memilih dunia kedokteran bukan karena paksaan, melainkan karena panggilan hati. Melihat mereka mengenakan jas putih adalah seperti menyaksikan doa-doa lama akhirnya menemukan tubuhnya sendiri.

Demikian pula seorang menantu hadir sebagai Dokter Spesialis Bedah, dan putri bungsuku menuntaskan pendidikan Dokter Umum sambil merintis jalan menuju spesialisasi, aku merasa pohon yang dahulu kutanam telah mulai berbuah. Buah terbaik bukanlah yang memenuhi keranjang, melainkan yang menumbuhkan benih bagi kehidupan berikutnya.

Jika semua ini kuibaratkan sebagai gizi kehidupan, mungkin keluargaku telah mencapai “Empat Sehat”. Ada pendidikan yang kokoh, ada pekerjaan yang bermakna, ada keluarga yang saling menopang, dan ada pengabdian yang tak pernah berhenti. Semua itu adalah bekal yang membuat langkah kami tetap tegak menghadapi musim apa pun.

Namun kehidupan selalu mengajarkan kerendahan hati. Tidak ada manusia yang berhak berkata bahwa perjalanannya telah selesai. Di puncak gunung pun masih ada langit yang lebih tinggi. Karena itu, kami terus belajar, terus berkarya, dan terus memohon agar setiap keberhasilan tidak menjelma menjadi kesombongan.

Di dalam hati, ada satu cita-cita yang masih mengetuk pelan, yaitu pengukuhan sebagai Guru Besat (Profesor). Bukan demi gelar yang bertambah panjang di belakang nama, melainkan sebagai penanda bahwa pengabdian kepada ilmu telah mencapai satu jenjang yang lebih matang. Profesor bukan mahkota untuk dibanggakan, tetapi lentera untuk menerangi lebih banyak jalan.

Barangkali itulah “susu” dalam falsafah empat sehat, lima sempurna. Ia bukan unsur yang lebih penting dar yang lain, tetapi unsur yang menyempurnakan. Ia tidak menghapus perjuangan sebelumnya, melainkan menggenapkan makna dari setiap tetes keringat yang telah jatuh selama puluhan tahun.

Kelak, ketika hari pengukuhan itu tiba, aku ingin memandang keluargaku dengan hati yang penuh syukur. Bukan karena kami telah memiliki segalanya, tetapi karena Tuhan telah mengizinkan kami berjalan bersama, saling menguatkan, dan saling mengangkat ketika salah seorang mulai lelah. Keberhasilan keluarga tidak pernah lahir dari satu nama, melainkan dari banyak tangan yang saling menggenggam.

Bila suatu hari seseorang bertanya apakah arti empat sehat, lima sempurna dalam hidupku, aku akan menjawab: empat sehat adalah ilmu, keluarga, pengabdian, dan ketekunan. Lima sempurna adalah keberkahan yang menyempurnakan semuanya. Gelar boleh menjadi akhir sebuah perjalanan akademik, tetapi kerendahan hati adalah awal dari perjalanan menuju keabadian. Hanya mereka yang tetap menundukkan kepala di hadapan Tuhan yang akan mampu berdiri setinggi-tingginya di hadapan manusia. [HTB]

Makassar, 27 Juni 2026
Pk. 04.54 WITA

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.