Oleh: Ruslan Ismail Mage

Dari kejauhan, sebuah rumah kecil semipermanen berdinding gedhek anyaman bambu terlihat teduh, tenang, dan damai. Penghuninya selalu menyalakan penerang lampu pelita di sepertiga malam sehingga bias lampu pelita itu menyembur di sela-sela bilik bambu rumahnya.

Seorang ayah yang rambutnya sudah mulai beruban ditemani anak lelakinya yang masih belia menjalani rutinitas kesehariannya yang serba sederhana.

Menjalani hidup dan kehidupan dengan tulus dan ikhlas tanpa mengeluh adalah kunci jiwa dan raganya tetap sehat dan kokoh di usia senja. Kesyukuran dan konsistensinya beribadah membuat dirinya terasa damai dan mendamaikan.

Setiap sepertiga malamnya tidak pernah lupa bersujud ke Tuhan. Anak semata wayang menjadi saksi kepatuhan lima waktu sang ayah. Hingga suatu saat sang anak bertanya sesaat setelah ayahnya selesai salat Subuh, “Kenapa Ayah selalu berdoa dan sangat lama kalau berdoa? Sementara kehidupan ayah dari dulu tetap begini saja tidak berubah.”

Mendengar pertanyaan itu, sang ayah memanggil anaknya mendekat, lalu dipeluknya sambil mengusap-usap kepalanya. Sebelum sempat menjawabanya, sang anak melanjutkan pertanyaannya, “Apa yang ayah dapatkan setelah berdoa lama setiap lima waktu?”

Sesaat kemudian sang ayah menjawabnya dengan lembut. “Nak, Ayah tidak mendapatkan apa-apa. Justru sebaliknya, ayah banyak kehilangan.” Sang anak jadi bingung mendengar jawaban itu. Namun, sebelum anaknya tambah bingung, sang ayah berkata lembut lagi, “Nak, perbaiki dudukmu bersila di depan Ayah, dan Ayah akan ceritakan kehilangan apa setiap selesai berdoa.”

“Ketahuilah anakku, setiap selesai berdoa, Ayah kehilangan banyak hal, diantaranya kesedihan, kegelisahan, keputusasaan, kekecewaan, kemarahan, keangkuhan, kesombongan, kebencian, ketinggian hati, kerakusan, keegoan, dan banyak lagi sampah-sampah busuk dalam pikiran dan jiwa Ayah yang terbuang setiap selesai berdoa.

“Anakku, setiap selesai berdoa, Ayah selalu tenang, damai, dan bahagia menjalani kehidupan, terlebih selalu bersamamu yang sudah mulai beranjak remaja.”

Sang anak kemudian mencium tangan ayahnya dan memeluknya sambil berbisik, “Ayah kuat dan sehat selalu, saya mencintai Ayah.”

Terima kasih, Ayah. Kini aku mengetahui ayah sehat, kuat, selalu tersenyum, bersenda gurau denganku di tengah keterbartasan hidup karena ayah sudah membuang semua sampah di kepalanya. Ayah sudah banyak kehilangan tanpa aku sadari. []

*Akademisi, penulis buku-buku motivasi, inspirator, dan penggerak

(Visited 1,189 times, 1 visits today)
One thought on “Ayahku Sudah Banyak Kehilangan”
  1. Sangat menginspirasi sekali Bang RIM. Kehilangan yg dimaksud merupakan kebahagian yg tak terhingga. Terima kasih tulisannya Ban RIM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.