Rantingku diterpa angin
Patah, layu, jatuh ke tanah
Ke mana lagi aku harus berpegangan
Terakhir aku hanya pasrah pada Sang Maha Segalanya.
Maha mengetahui yang nyata dan kasat
Langit tempatku mengangkasa kini mulai tertutup awan kelabu
Kiranya ada pelangi yang akan tersenyum setelah turun hujan di senja hari
Kuingin mencari dahan yang tangguh
Kuingin kembali bertengger
Memeluk dengan kokoh
Namun, nyaliku sudah enggan
Pohon itu kini sudah semakin rapuh
Tidak ada lagi keindahan yang memesona
Wanginya juga sudah hilang
Daun-daunnya sudah luruh ke tanah
Melebur bersama debu
Tidak ada yang abadi
Tempat berpijak yang kokoh sudah tumbang
Aku bagian dari pohon itu
Dia luruh, aku pun juga
Pesonanya tenggelam
Wanginya memudar
Adakah yang peduli?
Adakah rasa melebihi kehilangan?
Kehilangan segalanya
Namun, sekali lagi
Tidak ada yang abadi
Bahkan cahaya yang terang benderang pun akan meredup
Ketika tiba sang waktu
Senja pun akan menghilang berganti malam
Akhirnya aku sadar
Bahwa semua itu sudah ada yang mengatur
Cerita indah berganti luka
Itu sudah digariskan
Apa ini?
Fatamorgana?
Bukan. Ini dunia
Tempat segalanya bergulir sesuai kehendak-Nya
