Oleh: Lolita Eka Putri

Aroma harum dari pembakaran arang tempurung kelapa menyusup ke sela-sela udara dingin di sebuah gang kecil di pusat kota Paris.

Di depan sebuah restoran mini dengan plang nama bergaya klasik, tampak antrean panjang mengular.

Mereka bukan mengantre untuk croissant atau baguette, melainkan untuk sepiring kuliner pusaka dari pedalaman Sumatra Barat: Sate Danguang-Danguang.

Di balik panggangan, tangan terampil Uni Elia dengan cekatan membolak-balik tusukan daging sapi yang sudah dibaluri bumbu kuning keemasan.

Setiap kali bumbu itu menetes ke bara api, asap tebal yang wangi membubung, membuat orang-orang di antrean menelan ludah.

Bagi Uni Elia, aroma ini bukan sekadar jualan. Aroma ini adalah mesin waktu yang langsung membawanya terbang sejauh belasan ribu kilometer, pulang ke kampung halamannya di Mudiak, Danguang-Danguang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Limapuluh Kota.

Elia teringat masanya dua puluh tahun lalu, saat ia masih remaja di Danguang-Danguang. Nagari yang sejuk, subur, dan dikelilingi perbukitan.

Di sanalah resep sate ini lahir dan dijaga secara turun-temurun oleh keluarganya.
Sate Danguang-Danguang memiliki tempat istimewa yang membedakannya dari Sate Padang biasa.
Warnanya kuning cerah—bukan merah—karena penggunaan kunyit, ketumbar, dan lengkuas yang melimpah. Rahasia kelezatannya terletak pada tiga hal:

Daging yang Empuk: Daging sapi pilihan direbus lama bersama bumbu hingga meresap sampai ke serat terdalam.

Kuah Bertekstur Lembut: Parutan kelapa yang disangrai kemudian digiling halus (pamasak) dicampurkan ke dalam kuah, memberikan rasa gurih yang kaya dan sedikit manis.

Taburan Kelapa: Sebelum dibakar, sate dicelupkan ke dalam bumbu cair, lalu diberi taburan serundeng kelapa halus yang membuatnya krispi saat digigit.

“Ingat, El,” pesan kakeknya dulu saat mengajari Elia mengacau kuah sate di kuali besar. “Membuat sate danguang-danguang itu seperti merawat tradisi.

Tidak boleh ada bumbu yang dikurangi, tidak boleh ada langkah yang dipercepat. Rasa tidak pernah bohong.”

Ketika Elia menikah dan harus ikut suaminya menetap di Prancis, ia membawa satu koper penuh bumbu kering yang sudah disiapkan oleh ibunya.

Awalnya, ia hanya membuat sate ini untuk mengobati rasa rindu kampung halaman dan disuguhkan pada acara kumpul-kumpul sesama perantau Minang.

Namun, kelezatan Sate Danguang-Danguang tidak bisa disembunyikan. Teman-teman Prancis suaminya yang mencicipi sate itu langsung jatuh cinta.

“Elia, ini bukan cuma makanan. Ini mahakarya!” seru salah seorang koki lokal yang tak sengaja bertamu.

Didorong oleh modal nekat dan kerinduan yang membuncah pada kampung halaman, Elia membuka kedai kecilnya.

Ia bersikeras mempertahankan nama aslinya: “Sate Danguang-Danguang dari Limapuluh Kota”.

Lidah orang Eropa mungkin kesusahan mengejanya pada awalnya, namun mereka segera hafal karena rasanya yang magis.

Kini, kedai Elia telah diliput oleh berbagai media kuliner internasional. Malam itu, seorang kritikus makanan terkenal di Paris duduk di sudut kedai, menikmati tusuk demi tusuk sate yang disajikan di atas daun pisang—yang sengaja diimpor Elia demi menjaga keotentikan rasa.

Saat daging empuk itu berpadu dengan kuah kuning yang hangat dan gurih di dalam mulut sang kritikus, Elia tersenyum dari balik panggangan.

Lewat sepiring sate, Elia tidak hanya mengenyangkan perut orang-orang di belahan bumi lain.

Ia telah membawa sepotong jiwa dari sebuah nagari indah bernama Danguang-Danguang di Kecamatan Guguak ke panggung dunia. Sate yang dulunya hanya dijajakan di pasar-pasar tradisional Limapuluh Kota, kini telah resmi menjadi legenda yang melintasi batas negara dan samudra.

(Visited 15 times, 15 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.