Oleh: Gugun Gunardi*

Pengantar:

Sekolah dan kampus sebagai lembaga pendidikan adalah salah satu sumber daya yang penting di dalam pendidikan karakter. Pendidikan karakter adalah pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak yang bertujuan mengembangkan kemampuan seluruh siswa dan mahasiswa untuk dapat memutuskan hal-hal yang baik dan buruk, keteladanan, memelihara apa saja yang baik dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari-hari dengan sungguh-sungguh.

Pendidikan karakter bagi masyarakat Indonesia haruslah ditanamkan sejak dini mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Terdapat beberapa syarat dalam kaitannya dengan pendidikan karakter yang baik, demi mewujudkan masyarakat dengan karakter yang baik. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi telah memformulasikan 18 nilai-nilai yang perlu ditanamkan dalam diri warga Indonesia, terutama para siswa, di dalam upaya membangun dan menguatkan karakter bangsa.

18 nilai dalam pendidikan karakter, antara lain:
(1) religius, (2) jujur, (3) toleran, (4) disiplin, (5) kerja keras, (6) krearif, (7) mandiri, (8) demokratis, (9) rasa ingin tahu, (10) semangat kebangsaan, (11) cinta tanah air, (12) menghargai prestasi, (13) bersahabat/komunikatif, (14) cinta damai, (15) gemar membaca, (16) peduli lingkungan, (17) peduli sosial, (18) tanggung jawab.

Tentu saja bukan hal yang sederhana dan mudah, mendidik dan mengajarkan 18 karakter tersebut. Di samping itu, tidak ada mata ajar atau mata kuliah yang diformat untuk mengajarkan karakter tersebut. Maka, 18 karakter itu disampaikan di dalam proses pembelajaran dan perkuliahan, dengan disertai contoh-contoh dan ilustrasi yang diperlukan.

Aktivitas membangun karakter tersebut juga dapat diterapkan pada ekstrakurikuler dan unit kegiatan mahasiswa yang lekat dengan pembinaan karakter, separti; pramuka, paskibraka, resimen mahasiswa dsb. Bagi para pengajar, guru dan dosen, praktek pembinaan karakter ini dapat diwujudkan melalui; diskusi di dalam kelas atau ruang kuliah, penugasan (PR), mencontohkan dengan prilaku guru/dosen, mengajak mengerjakan sesuatu bersama (memelihara kebersihan), bergotong royong, memperhatikan sejawat yang mengalami musibah. Yang paling sederhana adalah mencontohkan masuk ruang belajar tepat waktu.

Tidak kalah penting adalah bertegur sapa dengan siswa/ mahasiswa dengan tata cara yang etis. Apa yang dicontohkan oleh guru/dosen tersebut, pasti akan melekat pada benak para peserta didik. Jadi, contoh-contoh yang baik ini perlu dimiliki dikembangkan oleh guru/dosen di dalam aktivitas keseharian.

Permasalahan:

Ada peribahasa, “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Kira-kira makna yang dikandungnya adalah; jika guru melakukan kelakuan yang tidak senonoh, maka bagaimana dengan muridnya, dia diperkirakan akan melakukannya hal yang lebih gila lagi. Jadi, guru atau dosen adalah contoh terdekat dalam membangun karakter siswa dan mahasiswa. Maka, tugas berat sebagai seorang pendidik, adalah mencontohkan bagaimana berperilaku dengan baik di hadapan para siswa dan mahasiswanya.

Jadi, kalau saat ini banyak kita saksikan karakter siswa/mahasiswa yang kurang baik, yang brutal, yang biadap, mungkin kita sebagai pendidik harus introspeksi diri. Adakah yang keliru, yang kita lakukan di hadapan para siswa/mahasiswa yang menjadi tanggung jawab kita untuk mendidiknya. Sebab, apa pun yang dilakukan guru/dosen, pasti akan menjadi perhatian anak didik kita.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah, kerja sama di antara guru/dosen dengan keluarga peserta didik. Kadang-kadang, orang tua setelah memasukkan anaknya ke sekolah dan kuliah, melepas begitu saja, tidak pernah ada silarurahmi di antara pendidik dan orang tua. Padahal, pendidikan karakter siswa/mahasiswa, ada di dua lingkungan proses belajar mereka, yaitu di sekolah/kampus dan di lingkungan keluarga. Pembentukan karakter siswa/mahasiswa, perlu pendampingan dari dua lingkungan tersebut. Oleh sebab itu, di sekolah ditugaskan wali murid atau wali kelas, dan di kampus ditugaskan dosen wali mahasiswa. Tugasnya, adalah membimbing anak-anak didik kita agar karakternya terbentuk dengan baik.

Memang, baik di sekolah maupun di kampus, tidak banyak guru atau dosen yang mau menjadi pembina mereka. Tapi, tugas ini adalah tugas mulia. Hasilnya, tidak dapat langsung dilihat di sekolah maupun kampus di tempat mereka belajar. Namun, dapat dilihat nanti, manakala para anak didik ini hidup bermasyarakat. Di situlah, hasil dari pendidikan karakter anak-anak didik kita tersilat seperti apa hasilnya.

Pendidikan karakter, sulit jika hanya disampaikan dalam bentuk hafalan. Pendidikan karakter perlu dicontohkan di dalam kegiatan sehari-hari. Melalui contoh-contoh perilaku yang baik inilah, para peserta didik belajar dengan efisien bagaimana mempraktikkan hidup dengan karakter yang baik.

Sekali lagi, tugas berat pendidik adalah tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan di dalam ruang belajar. Tetapi, bagaimana menunjukkan contoh terbaik berperilaku dengan karakter baik dalam pergaulan sehari-hari dengan para peserta didik. Tidak ada hadiah terbaik bagi pembina siswa dan mahasiswa, adalah ketika memperhatikan dan melihat anak-anak didik kita menjadi mahluk yang diteladani di lingkungan masyarakat. Janganlah peribahasa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, menjadi kenyataan di masyarakat.

Penutup:

Pendidikan karakter, tidak hanya berupa pengetahuan hapalan. Ia perlu disampaikan di dalam contoh-contoh, baik oleh pendidik maupun oleh orang tua.

Tanggung jawab pendidikan karakter, tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah dan kampus. Akan tetapi, harus ada kerja sama di antara sekolah/kampus dan orang tua.

Di sekolah dan kampus, harus banyak yang bersedia menjadi guru dan dosen pembina kemahasiswaan, dengan pelatihan khusus ke arah pembinaan karakter siswa dan mahasiswa.

Penulis:
Dr. Gugun Gunardi, M.Hum. Dosen tetap Fasa Univ. Al Ghifari.

(Visited 86 times, 1 visits today)
One thought on “Ada Apa Dengan Pendidikan Karakter”
  1. Generasi milenial entah dibentuk macam apa. Menyedihkan dan bikin kageeeet.
    Ada anak kelas 5 SD tega bunuh temannya. Hanya karena terpengaruh website yg menawarkan jual ginjal 1 M. Aduh Gustiiiiii

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.