Oleh: Ruslan Ismail Mage*
Menghapus jejak-jejak keberhasilan seseorang laksana mendorong mobil truk penuh pasir yang rodanya terlepas. Menghilangkan jejak sebuah karya yang sudah mendapat pengakuan publik, laksana memanjat pohon pinang yang sudah dilumuri oli. Mungkin karena lawan politiknya selalu ingin menyingkirkannya, sampai Tan Malaka menulis, “Suaraku jauh lebih nyaring dalam kuburan dibanding di atas bumi”. Faktanya, karya gagasan Tan Malaka sampai sekarang tetap hidup menembus batas ruang dan waktu.
Menyikapi kecenderungan penguasa menghilangkan jejak karya penguasa sebelumnya, Hillary Clinton mengatakan, “Saat saya berbicara kepada Anda hari ini, badan sensor pemerintah di suatu tempat sedang bekerja keras untuk menghapus kata-kata saya dari catatan sejarah. Namun sejarah sendiri telah mengutuk taktik ini.”
Apa yang disampaikan Hillary Clinton di atas, kini dialami Anies Rasyid Baswedan. Ada usaha sekelompok orang yang didukung kekuatan besar yang selalu mencari celah bagaimana menghapus jejak-jejak karyanya selama menjadi Gubernur DKI Jakarta. Bagi orang yang berpikir picik, karya-karya cerdas Anies di DKI laksana sayap-sayap pengakuan yang akan menerbangkannya bertengger di puncak elektabilitas.
Sejak masih menjabat Gubernur DKI Jakarta, berbagai fasilitas publik telah dibangun dengan perhitungan yang cermat berdasarkan regulasi yang ada. Tetapi sepeninggalnya, karya-karya Anies mulai diusik, kalau tidak boleh dikatakan dirusak. Fasilitas publik yang diusik tentu bukan orang biasa yang bisa melakukannya. Kalaupun orang biasa pasti mendapat dukungan dari atas. Berikut beberapa karya Anies di Jakarta yang sedang dan akan dihapus jejaknya.
Jalur Bersepeda
Sebagai pimpinan daerah yang visioner dan memiliki wawasan lingkungan dan iklim ke depan, Anies mengambil kebijakan membangun jalur bersepeda di beberapa ruas jalan di Jakarta, seperti di kawasan Jenderal Sudirman. Dalam menghadirkan jalur sepeda di Ibu Kota, Anies menggunakan dua pijakan. Pertama, mendukung pemerintah pusat mencapai zero emisi pada tahun 2060. Target zero emisi yang menjadi kesepakatan Indonesia dan dunia salah satunya melalui penggunaan sepeda, energi ramah lingkungan, dan transportasi publik.
Kedua, berpijak pada regulasi. Kehadiran jalur sepeda ini mengacu pada UU No. 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. Ketentuan tersebut terdapat dalam pasal 62 yaitu : (1) Pemerintah harus memberikan kemudahan berlalu lintas bagi pesepeda. (2) Pesepeda berhak atas fasilitas pendukung keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran dalam berlalu lintas.
Dalam perkembangannya menurut laporan beberapa media online terjadi fenomena kesengajaan merusak marka pembatas jalur sepeda di kawasan Jenderal Sudirman yang dilakukan oleh orang tidak dikenal. Penulis buku “Selendang untuk Anies” Yayat R. Cipasang, dalam tulisannya di barisan.com
menduga perusakan ini sebagai eskalasi kebencian kepada kebijakan Anies yang memberikan keistimewahan kepada pesepeda di Jakarta. Penghapusan anggaran pembangunan jalur sepeda dalam APBD DKI Jakarta 2023, sudah cukup bukti kalau bukan orang tidak dikenal terlibat dalam menihilkan keberlanjutan pembangunan jalur pesepeda di ibu kota.
Trotoar Jalan
Terinspirasi dari kota-kota besar dunia yang ramah dengan pejalan kaki, maka ketika menjabat Gubernur DKI Jakarta, Anies langsung mengambil kebijakan terbalik dalam menata ibu kota. Menurutnya penataan ibu kota sebelumnya hanya fokus kepada pembangunan infrastruktur jalan kendaraan pribadi dan transportasi publik dengan mengabaikan fasilitas pejalan kaki. Paradigma tersebut harus dirubah dengan menyiapkan trotoar bagi pejalan kaki dan jalur sepeda.
Anies segera melakukan revitalisasi trotoar dengan target 2.600 kilometer memakai konsep complete street. Suatu konsep pembangunan jalan yang alokasi ruang dan desainnya mengedepankan segala kebutuhan mobilitas seluruh pengguna jalan secara inklusif, baik pejalan kaki, pesepeda, pengguna transportasi umum, maupun pengguna kendaraan pribadi. Di akhir kepemimpinannya sebagai gubernur sudah selesai di atas 70 persen.
Kebijakan itu berdampak baik pada minimal dua hal. Pertama, salah satu cara mengurangi emisi gas buang kendaraan yang merugikan kesehatan dalam jangka panjang. Kedua, ibu kota ramah untuk semua aktivitas warganya. Penyediaan fasilitas pejalan kaki dan pesepeda merupakan hal tidak terpisahkan dari konsep complete street yaitu jalan yang dapat diakses dan digunakan semua pengguna tanpa melihat usia dan kemampuan warga.
Namun apa yang terjadi setelah Anies meninggalkan Balaikota Jakarta? Dengan alasan mengurai kemacetan, Pejabat Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono melakukan rekayasa lalu lintas di pertigaan lampu merah kawasan Pasar Santa Jakarta Selatan dengan mengorbankan trotoar yang sudah dibangun pada era Anies.
Alasan pembongkaran trotoar untuk mengurai kemacetan dibantah pengamat kebijakan publik Agus Pambagio. Menurutnya, jalur pejalan kaki dan sepeda yang diubah menjadi jalan raya tidak akan mengurangi kemacetan. Artinya, kemungkinan penghapusan jalur sepeda dan jalur pejalan kaki itu bermotif menghilangkan peninggalan Gubernur DKI Jakarta sebelumnya Anies Baswedan, jelasnya di republika.co.id
Formula E
Tidak salah kalau sebagian orang menyebut Anies Rasyid Baswedan sebagai gubernur rasa presiden. Kebijakannya bukan hanya untuk mengangkat prestasi Jakarta sebagai ibu kota, tetapi juga Indonesia sebagai suatu negara besar. Usahanya menjadikan Jakarta sebagai salah satu kota penyelenggara balap mobil berbasis listrik Formula E, menjadikan Indonesia terdepan sebagai negara pertama di Asia Tenggara yang menjadi tuan rumah penyelenggara balap mobil Formula E.
Namun itu tidak gampang, begitu banyak data dan fakta berita melaporkan sulitnya Anies mengharumkan negaranya lewat ajang balap mobil internasional berbasis listrik ini. Perjalanan Ibu Kota Jakarta hingga sukses menjadi tuan rumah Formula E terbilang cukup panjang. Melewati jalan berliku dan menanjak. Pertengahan 2019, Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan melakukan pertemuan dengan organisasi Federasi Otomotif Internasional (FIA) di New York, Amerika Serikat.
Lobinya membuahkan hasil. Jakarta disepakati menjadi tuan rumah Formula E 2020. Namun sayang badai Pandemi Covid-19 membuat ajang balap mobil internasional ini harus diundur. Februari 2022 baru mulai pengerjaan Jakarta International EPrix Circuit (JIEC) di Ancol sebagai lokasi Formula E. Masa pengerjaan JIEC termasuk cepat kurang dari 60 hari walau sangat susah mendapatkan aspal sebagai bahan utama.
Walaupun gerak cepat pembangunan dengan segala hal yang merintangi, tetapi tidak mengurangi kualitasnya. Ketua Organizing Committee Formula E Jakarta 2022, Ahmad Sahroni menyebut, sirkuit dibangun dengan mengikuti berbagai spesifikasi sesuai standar Federasi otomotif internasional. Artinya JIEC dinyatakan sebagai sirkuit berstandar internasional dengan memenuhi standar homologasi FIA dengan Grade 3.
Dengan berbagai kritikan dan serangan mengikutinya, akhirnya Anies sukses menggelar Formula E seri pertama 4 Juni 2022. Pengkritiknya pun gagal total dan hanya tersipu malu membisu melihat antusiasme dan tepukan tangan membahana mengikuti kesuksesan sang gubernur visioner. Menurut laporan sindonews.com senin 6 Juni 2022, pagelaran Formula E atau Jakarta E-Prix 2022 dianggap sukses. Praktis, acara ini meninggalkan kesan mendalam bagi masyarakat Indonesia. Euforia penonton menjadi kesan baik Indonesia di mata dunia.
Terinspirasi suksesnya Formula E 2022, sejumlah pejabat yang awalnya mengkritik akhirnya berlomba ingin menjadi panitia gelaran Formula E 2023. Bahkan pejabat dari daerah lain pun ingin terlibat merasakan manisnya karya yang ditinggalkan Anies. Seri kedua pun akhirnya di gelar 2-4 Juni 2023. Namun di seri kedua ini ada yang mengusik pencinta otomotif Indonesia. Anies sebagai pencetus yang berkeringat dan diserang dari segala penjuru untuk menghadirkan ajang balap mobil internasional ini di Jakarta tidak diundang sama sekali oleh panitia. Walaupun akhirnya Anies bersama keluarga tetap hadir membeli tiket sendiri berbaur dengan penonton.
Bisa jadi ini langkah pertama menghapus jejak Anies di Formula E yang digagasnya. Namun cara ini gagal total, karena beberapa penonton yang ditanya, “Apa yang diingat ketika menonton Formula E? Mereka menjawab yang diingat adalah Anies”. Cara kedua yang hampir bisa dipastikan untuk menghilangkan jejak Anies adalah gelaran Formula E 2024 bukan lagi di Jakarta International EPrix Circuit (JIEC) Ancol.
Menurut laporan CNN Indonesia 14 Maret 2023, Ketua steering committee (SC) Formula E Jakarta, Bambang Soesatyo membuka kemungkinan Formula E 2024 tidak lagi digelar di Ancol, Jakarta Utara. Hal itu telah dibicarakan dengan Chief Championship Officer Formula E Alberto Longo dan Penjabat (Pj) Gubernur DKI Jakarta Heru Budi Hartono. Jadi 2024 tidak lagi di Sirkuit Ancol, tetapi street sirkuit dalam kota.
Jakarta International Stadium (JIS)
Untuk memenuhi janjinya kepada penggemar sepak bola di Jakarta, Anies membangun stadion sepak bola berkelas dunia. Diberi nama “Jakarta International Stadium (JIS)”. Menurut Plt Direktur Proyek JIS Arry Wibowo seperti yang dilaporkan timesindonesia.co.id bahwa untuk memenuhi standar FIFA, JIS dirancang oleh Buro Happold, konsultan perencana dari Inggris, yang memiliki pengalaman internasional dalam merancang stadion-stadion sepak bola modern di Liga Inggris seperti Tottenham Hotspur Stadium di London serta perancangan beberapa stadion Piala Dunia Qatar 2022.
Jadi tidak salah kalau JIS menjelma menjadi stadion sepak bola terbaik dan termegah di Indonesia. Bahkan mirip dengan stadion di Eropa baik secara desain maupun fasilitas. Lebih menariknya lagi, walaupun konsultan ahlinya dari luar, tetapi JIS dibangun oleh putra-putra Indonesia. Artinya tenaga kerjanya tidak ada dari luar.
Bahkan Presiden FIFA Gianni Infantino memuji infrastruktur JIS. Ia mengakui JIS megah dan memenuhi standar FIFA. Megah layaknya stadion di benua biru, demikian juga rumput stadion semuanya berstandar FIFA. JIS benar-benar merupakan stadion mewah untuk gelaran piala dunia U17. JIS sangat besar sama seperti stadion milik Arsenal.
Namun anehnya PSSI menilai JIS tidak memenuhi standar FIFA untuk bisa dipakai sebagai salah satu stadion penyelengara Piala Dunia U17 yang akan berlangsung 10 November sampai 2 Desember 2023 di Indonesia. Penilaian Ketua Umum PSSI Erick Thohir itu langsung ditanggapi Presiden Jokowi untuk segera merenovasi JIS. Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo mengatakan presiden menginginkan JIS direnovasi sesuai standar FIFA. Hal ini langsung direspon Menteri PUPR Basuki Hadimuljono yang akan menindaklanjuti arahan Presiden Jokowi terkait renovasi JIS.
Melihat kekompakan Jokowi dengan tiga menterinya itu, pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto mempertanyakan apakah Menteri Pemuda dan Olahraga mengetahui bagaimana kriteria stadion yang memenuhi standar FIFA. Menurutnya ada kekhawatiran pernyataan Menpora yang baru dilantik beberapa waktu lalu itu hanya bertujuan untuk merusak reputasi mantan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.
Tidak Menulis di atas Air
Beberapa karya monumental Anies selama memimpin Jakarta yang sudah melekat di hati rakyat, malahirkan dua tipe manusia. Tipe pertama, orang yang menggunakan logical palacy yang gemar memutarbalikkan fakta demi kepentingan politik. Tipe kedua, orang terdidik yang memperkuda ilmunya. Maksudnya menggunakan gelar akademik mencari peruntungan diri walau harus melanggar norma.
Kedua tipe manusia ini nampaknya tidak menyadari kalau Anies buka tipe pemimpin yang “menulis di atas air”. Sebagaimana kita mengetahui menulis di atas air pasti akan cepat hilang dan tidak pernah menyatu tulisannya kecuali air tersebut dibekukan dulu menjadi es baru bisa dipakai menulis. Itu pun tidak bertahan lama ketika esnya mencair tulisan pun hilang. Kurang lebih artinya sebuah karya gampang dilupakan, jejaknya mudah terhapus tidak berbekas.
Sesungguhnya Anies pemimpin yang penuh perhitungan dengan cermat, pendekatan di segala sektor dalam mengambil kebijakan. Jadi jejak karya kepemimpinannya tidak mudah dihapus, karena semua pencapaiannya “ditulis di atas batu”. Kita tahu bahwa batu adalah benda yang keras, ketika menulis di atas batu hasilnya akan selalu awet dan bertahan lama. Artinya semua jenis karya Anies di DKI Jakarta telah terpahat di hati rakyat. Semua jejak kepemimpinannya yang humanis berbekas dalam jiwa rakyat. Jadi memaksakan menghapus jejak karyanya berarti menyakiti hati dan jiwa rakyat.
Melihat ketangguhan dan kesabaran Anies diserang dari segala penjuru, jadi teringat pesan Kaisar Romawi Kuno Marcus Aurelius yang mengatakan, “Bersikaplah seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dihantam ombak. Tidak saja ia berdiri tegak, bahkan ia menentramkan amarah ombak-ombak dan gelombang-gelombang itu.
*Inspirator dan penggerak, penulis buku-buku politik dan motivasi
