Oleh: Elvira Pereira Ximenes
Akulah biji sesawi
Bijiku tak kelihatan
Jika tak dilihat dengan seksama
Karena bijiku begitu kecil ukurannya
Ketika aku ditaburkan ke dalam tanah
Saat itu juga aku menyendiri dalam kegelapan
Aku diproses lebih lanjut
Tubuh fisikku mulai mengalami perubahan
Aku diserapi oleh air tanah
Diberi makan oleh unsur hara
Dipeluk hangat oleh tanah
Dalam kegelapan aku bersyukur
Ukuranku begitu kecil nan mungil
Bila dibandingkan dengan biji yang lain
Namun aku sangat disayangi oleh tuanku
Dari singgasana
Hari lepas hari
Bertambah usiaku dalam tanah
Tubuhku terbelah nan hancur
Inilah misteri kehidupan
Terbentuklah organ-organ tubuhku
Mulai bermunculan akar-akarku menyerap unsur hara
Batang dan daunku nampak mulai memanjang
Hingga muncul di atas permukaan tanah
Saat itulah aku dikenal
Aku pun mulai berkarya
Dengan bantuan sang Surya
Daunku mulai berfotosintesis
Aku menyadari
Aku bukan apa-apa
Juga bukan siapa-siapa
Jika aku tak mendapat bantuan dari berbagai pihak
Aku sungguh berbahagia
Atas anugerah hidup ini
Aku begitu dicintai
Oleh semua elemen di dalam maupun di atas permukaan tanah
Terima kasih kawanku air
Terima kasih kawanku unsur hara
Terima kasih sang mentari
Sahabatku semua yang tak kusebut namanya
Tanpamu aku tak berarti
Tanpamu aku tak hadir
CintaMu begitu dalam
KasihMu begitu luas seluas samudra raya
Akhirnya aku dikenal
Aku pun mulai bertumbuh dan berkembang
Bagian dari organ tubuhku berkarya sesuai fungsinya
Demi kemuliaan NamaMu di surga

Mantap sekali isi puisimu kawanku profa… realitasnya demikian…aku salut dan kagum pada idemu yg cemerlang…. prifisiat Jawa.
Aku mesti belajar darimu kawan….
Es iimpresionante, única y original su percepción de la vida. Su bella apreciación poética del nacimiento en ese hermoso viaje debiera acompanhar as concepciones biológicas que se enseñan en la escuela. Acredito que nunca olvidarán com esa hermosa descripción de nuestra presencia en este mundo.