Oleh: Muhammad Sadar*

Dalam ilmu genetika dan pertanian, hibrida merupakan generasi hasil persilangan antar individu ataupun populasi yang berbeda secara genetik yang memiliki gabungan sifat atau rekombinasi gen dari kedua tetua tanaman. Hibrida adalah keturunan langsung dari persilangan dua atau lebih spesies berbeda latar belakang genetiknya.

Namun, hibrida yang dimaksud penulis dalam tulisan ini adalah singkatan dari hijau, bersih, indah nan asri. Motto HIBRIDA tersebut disematkan kepada Kabupaten Barru sejak lebih dua dekade terakhir sebagai pengejawantahan daerah ini yang memiliki nuansa hijau, bersih, indah nan asri.
Ke-hibrida-an tersebut juga sebagai salah satu pilar daerah dalam kontestasi penghargaan lingkungan yang telah berkali-kali merebut dan mempertahankan piala Adipura.

HIBRIDA sebagai penciri Kabupaten Barru memiliki wilayah tiga dimensi, yaitu dimensi wilayah kelautan atau pantai dengan panjang garis pantai yang mencapai 78 kilometer mulai dari perbatasan Kabupaten Pangkep di bagian selatan hingga perbatasan Kota Parepare di sebelah utara, kemudian dimensi dataran rendah dan dimensi dataran menengah-pegunungan, hingga dataran tinggi.

Kondisi geografis tersebut menjadikan wilayah Kabupaten Barru yang eksis di sektor barat Provinsi Sulawesi Selatan, oleh BMKG membaginya dalam 4 ZOM (Zona Musim), meliputi ZOM 558 atas wilayah Tanete Rilau, Jampue, dan Sumpangbinangae, ZOM 559 khusus wilayah Pujananting, ZOM 562 terdiri atas wilayah Bojo, Palanro, Balusu, dan Palakka, terakhir ZOM 564 pada wilayah Tompo Lemolemo Kecamatan Tanete Riaja yang berbatasan dengan Kabupaten Soppeng di sektor timur. Karakteristik sebaran ZOM tersebut membentuk pola hujan yang sifatnya dinamis di daerah ini berupa bulan basah antara 3-4 bulan, bulan lembab 3 bulan dan 4-5 bulan kering.

Dukungan wilayah zona musim tersebut berimplikasi terhadap pengembangan ragam komoditas pertanian di Kabupaten Barru. Salah satu komoditas pertanian yang paling dominan diusahakan para petani adalah padi. Usaha budidaya dan varian padi saat ini telah menjadi bagian pekerjaan petani sehari-hari termasuk di dalamnya adalah penggunaan varietas unggul baru padi. Banyaknya pilihan varietas padi masa kini yang telah dilepas pemerintah dan direkomendasikan penggunaannya di tingkat lapang membuat suatu jaminan potensi produktivitas padi bisa meningkat.

Pada musim tanam 2022/2023 setahun lalu oleh Loka Penelitian Penyakit Tungro Lanrang-Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementan (sebelum berubah nomenklatur Lolit Tungro menjadi Loka Pengujian Standar Instrumen Tanaman Aneka Umbi-Badan Standardisasi Instrumen Pertanian Kementan) melakukan kegiatan bertajuk “Bimbingan Teknis Inovasi Teknologi Pengendalian Tungro dan Hama Penyakit pada Padi Sawah”. Kegiatan bimtek menghadirkan para petani padi sawah, POPT, PPL, dan tenaga teknis Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Barru.

Pelaksanaan bimtek meliputi pengarahan oleh Kepala Lolit Tungro Repelita Kallo, S.T.P., M.Si. yang mengatakan, “Pentingnya penyebaran informasi inovasi teknologi pengendalian tungro dan varietas tahan tungro (Taro). Saat ini petani dianjurkan untuk menanam padi yang terstandar yakni benih yang sudah dilepas pemerintah menjadi varietas bukan galur. Benih yang berstatus galur belum jelas bahwa benih tersebut apakah memiliki gen ketahanan OPT tertentu. Benih tersebut dicirikan oleh adanya label yang disematkan dari hasil pemeriksaan dan pengujian Balai Sertifikasi dan Mutu Benih (BSMB).”

Ditambahkannya lagi,”Hal ini bertujuan untuk memberikan jaminan kemurnian benih dari varietas tertentu. Selain itu, benih tersebut bisa tergolong aman dari cemaran OPT.”

Materi bimtek yang lain adalah inovasi pengendalian hama dan penyakit pada tanaman padi disampaikan oleh para peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yakni Rudi Tomson Hutasoit, S.P., M.Si.
Sedangkan Firmansyah, S.P., M.Sc. membawakan materi inovasi teknologi budidaya padi untuk pengendalian tungro dan pengenalan varietas unggul padi.

Salah satu varietas unggul baru (VUB) padi yang diperkenalkan pada bimtek adalah Inpari 36 Lanrang. Dalam situs Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Kementerian Pertanian (2022), memberikan gambaran bahwa varietas inpari 36 Lanrang dilepas pada tahun 2014 melalui SK Menteri Pertanian:83/Kpts/SR.120/2/2014 adalah merupakan hasil seleksi dari IR58773 -35-3-1-2/IR65475-
62-3-1-3-1-3-1 yang memiliki umur vegetatif tanaman antara 114 hari setelah sebar. Postur tanaman tegak setinggi 113 cm, daun bendera tergolong tegak dengan kerebahan relatif toleran.
Bentuk dan warna gabah, kuning bersih, dan ramping. Berdasarkan hasil uji organoleptik para panelis bahwa, inpari 36 Lanrang memiliki tekstur nasi terasa pulen dengan komposisi amilosa berkadar 20,7%.

Profil lain yang tak kalah pentingnya dari inpari 36 Lanrang adalah ketahanan terhadap penyakit utamanya yang spesifik adalah tahan terhadap tungro varian 073 dan penyakit blas ras 033 dan ras 073 serta agak tahan blas ras 133 dan ras 173. Agak tahan hawar daun bakteri strain IV namun rentan strain III dan VIII. Terhadap ketahanan terhadap hama, inpari 36 Lanrang agak tahan wereng batang coklat biotipe 1 dan 2 tetapi rentan kepada biotipe 3.

Deskripsi lain dari inpari 36 Lanrang adalah anjuran tanam direkomendasikan pada ekosistem sawah irigasi hingga ketinggian di bawah 600 meter di atas permukaan laut. Potensi produktivitas bisa mencapai 10,0 ton/hektare gabah kering giling (GKG), dengan rata-rata hasil yang diperoleh sebesar 6,7 ton/hektare GKG.

Rangkaian bimtek diakhiri dengan simbolisasi penyerahan benih padi inpari 36 Lanrang oleh Kepala Lolit Tungro kepada Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Barru untuk selanjutnya dibagikan kepada peserta bimtek yaitu para petani sebagai demonstrator lapangan sebanyak 8 orang petani yang tersebar dalam 8 desa lokasi demonstrasi penanaman inpari 36 Lanrang. Total luas area demonstrasi 2,66 hektare dengan variasi luas antar petani yaitu 0,14-1,00 hektare.

Latar belakang penyebaran varietas inpari 36 di Kabupaten Barru adalah karena daerah ini pernah mengalami endemik penyakit tungro pada era tahun 1970 hingga 1980-an. Referensi Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Balai Penelitian Padi dan IRRI (2008), menunjukkan bahwa tungro merupakan salah satu penyakit penting pada padi yang sangat merusak dan meluas. Pada awalnya penyakit tungro (Bugis: cella pance ) hanya terbatas di Sulawesi Selatan, namun sejak awal tahun 1980-an menyebar ke Bali, Jawa Timur, dan saat ini telah tersebar meluas hampir ke seluruh wilayah Indonesia.
Pada saat tanaman padi terinfeksi tungro maka kehilangan hasil mencapai 5-70 %. Semakin awal tanaman terinfeksi, semakin besar pula kehilangan hasil yang ditimbulkan.

Gejala serangan tungro yang menonjol adalah perubahan warna daun, dari sedikit menguning hingga jingga. Pertumbuhan tanaman padi menjadi kerdil. Tingkat kekerdilan tanaman bervariasi dari sedikit kerdil sampai sangat kerdil. Gejala khas ini ditentukan oleh tingkat ketahanan varietas, kondisi lingkungan, dan fase tumbuh saat tanaman terinfeksi.

Penyakit tungro ditularkan oleh wereng hijau dan bisa dikendalikan melalui pergiliran varietas yang memiliki tetua berbeda, pengaturan waktu tanam, sanitasi dengan mengeliminasi sumber tanaman sakit, dan penekanan terhadap populasi wereng hijau dengan insektisida. Wereng hijau sebagai vektor penyebaran virus tungro harus dikendalikan lebih awal.

Pelepasan VUB inpari 36 Lanrang sebagai salah satu varietas yang tahan terhadap tungro telah dibudidayakan para petani di Kabupaten Barru pada musim tanam setahun lalu. Penyebaran tanam terhadap multi lokasi di Barru mengindikasikan bahwa varietas tersebut sesuai dengan lingkungan tumbuhnya, beradaptasi luas dan mudah diterima dikalangan petani.

Penanaman dilakukan pada ekosistem sawah irigasi dan sawah tadah hujan dengan topografi lahan dan ketinggian tempat yang tidak berbeda nyata. Perlakuan petani dalam budidayanya secara konvensional yakni metode sistem tanam pindah non tabela, pemeliharaan dan perlindungan tanaman, panen dan pascapanen terstandar sebagaimana biasa.

Berdasarkan data produktivitas yang diperoleh bahwa hasil inpari 36 dikategorikan dalam 3 kluster pencapaian produksi, yaitu:

Pertama, kategori rendah antara 3,7-5,5 ton/hektare GKG. Angka ini dihasilkan dari 6 titik demplot, yaitu:
Binuang 2 titik dan Kiru-Kiru,Tompo, Mangempang dan Mallawa masing-masing 1 titik.

Kedua, kategori sedang dengan produktivitas 6,4 ton/hektare GKG. Capaian tersebut mendekati hasil rata-rata inpari 36 berdasarkan deskripsinya sebesar 6,7 ton/hektare GKG. Hasil ini diperoleh dari area demplot seluas 1,0 hektare di Desa Lipukasi dengan angka ubinan tercatat 4,78 kilogram.

Ketiga, kategori tinggi sebesar 7,4 ton/hektare GKG yang dicapai di lokasi kelompok tani Labucai Desa Bojo seluas 0,06 hektare. Produktivitas tersebut terekam pada angka ubinan seberat 5,53 kilogram. Pencapaian tersebut melampaui rata-rata hasil inpari 36 dan menyisakan selisih 2,6 ton dari potensinya berdasarkan deskripsi VUB padi tahun 2022.

Beberapa hal yang penting dicatat dari hasil demonstrasi lapangan terutama dalam pencapaian produktivitas VUB inpari 36 Lanrang di Kabupaten Barru, antara lain:

Pertama, penerapan komponen budidaya yang dilakukan petani walaupun dikatakan terstandar namun kemungkinannya terjadi bias di lapangan karena beberapa faktor pembatas seperti keadaan alam (banjir-rendaman pertanaman dampak La Nina pada musim tanam 2022/2023), termasuk gangguan serangga hama penggerek batang yang merupakan hama utama padi di Barru dan terkadang sulit dikendalikan oleh petani.

Kedua, pendukung utama kesuburan tanah dan tanaman adalah sarana pupuk. Ketersediaan pupuk pada awal musim tanam berlangsung belum optimal karena adanya pengurangan subsidi pupuk dari pemerintah tahun 2022-2023. Fenomena kelangkaan pupuk subsidi tersebut berdampak terhadap pelambatan pemupukan tanaman budidaya. Keterbatasan ekonomi petani dalam pengadaan pupuk nonsubsidi tidak bisa juga dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pupuk tanaman padinya.

Ketiga, sikap petani dalam pengalaman berusahatani padi yang penting adalah mau atau tidak mau,
senang atau tidak senang, dan suka atau tidak suka dalam menerima/menerapkan suatu inovasi teknologi pertanian yang berkemajuan. Pertanyaan ini yang harus dikonstruksikan kepada alam pikir dan hati petani karena petani adalah pelaku utama dalam setiap pekerjaan budidaya.

Keempat, kelemahan lain inpari 36 Lanrang adalah sisi umur tergolong umur (dalam) memasuki fase masak sehingga standing crop mengambil waktu yang cukup lama dipertanaman dibandingkan dengan varietas lain. Tetapi hal tersebut bisa disiasati dengan penanaman lebih awal dari varietas lain dihamparannya.

Kelima, dengan rentang waktu satu dekade silam pasca dilepas sebagai VUB, inpari 36 Lanrang tergolong lambat penyebarannya di daerah ini. Proses adopsi VUB ditingkat lapang demikian lambatnya sehingga diperlukan intervensi massif seperti demonstrasi atau uji coba di berbagai lokasi petani. Upaya ini sekiranya mampu merubah sikap petani sebagai penerap teknologi inovasi padi.

Jika menganalisis produktivitas yang dihasilkan petani dari kondisi alam dan lahan yang nyaris komposisinya homogen, baik kesamaan ekosistem tumbuh tanaman, sarana dan teknis produksi, serta ekonomi petani, namun terjadi perbedaan produktivitas antar lokasi. Berdasarkan pengamatan penulis bahwa faktor petani sebagai penentu produksi lapangan.

Peran petani sangat signifikan dalam menerapkan perlakuan intensif terhadap tanamannya. Terhadap lokasi yang berkategori produktivitas tinggi dan kategori sedang, petaninya mengatur waktu tanam yang tepat sehingga terhindar dari bencana La Nina disamping pengamatan terhadap tingginya populasi serangga hama penggerek batang. Dibandingkan perlakuan petani terhadap hasil rendah, pengaturan waktu tanam yang lebih dekat dengan intensitas curah hujan yang tinggi serta tingkat populasi ngengat penggerek batang sedang fase aktif pada masa pesemaian hingga tanam. Namun, OPT tungro sebagai momok penyakit pada tanaman padi tergolong nihil dan tidak ditemukan di lapangan.

Walaupun demikian, tantangan pengembangan inpari 36 Lanrang di lapangan, petani tetap optimis dan berharap varietas tersebut akan terus dibudidayakan dan benih sumbernya tetap tersedia disepanjang musim tanam. Uji coba yang dilakukan pada berbagai ekosistem sawah adalah upaya diseminasi VUB lebih luas agar minat dan pengetahuan petani bisa mengadopsi varietas tersebut. Para pelaku demonstrasi Inpari 36 Lanrang telah melakukan suatu rintisan jalan budidaya varietas unggul dan menjadi pioneer padi berkelas di wilayahnya.

Varietas Inpari 36 Lanrang untuk pertama kalinya dikembangkan, mencatatkan sejarah VUB dan menapaki jalannya di bumi hibrida Barru. Sebuah varietas padi unggulan yang diharapkan akan terus dibudidayakan dan menjadi varietas recomended kepada para pengguna benih di setiap musim tanam. Inpari 36 Lanrang sebagai sebuah varietas pilihan yang rasional untuk budidaya padi berkelanjutan. Melalui jaminan potensi produktivitas yang tinggi, maka inpari 36 Lanrang akan menjadi pelecut produksi padi di tanah Barru untuk musim tanam yang akan datang.

Bravo Inpari 36 Lanrang di Bumi Hibrida Barru.

Barru,10 Mei 2024

*Warga Bengkel Narasi Indonesia Jakarta.

(Visited 248 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.