Tak terbendung air mataku, mengenang kebersamaan kita, dari masa adolesen, masa remaja, hingga berumah tangga.

Kenangan indah kita, yang selalu terekam di memoriku. Kebersamaan kita, dalam segala aktivitas, dan pelayanan gereja.

Hari demi hari kita lewati, Berjuta tantangan kita hadapi, selalu terkalahkan, oleh tawa-ria, kita bersama.

Namun kini, ku tak lagi terbendung, Isak-tangisku meluncur, penuh duka dirundung malang, hati ini perih, pedih tersayat sembilu.

Tak tertahankan Isak tangis, yang membasahi pipiku, hening menyesak perlahan di dadaku, semuanya terbebani pikiranku.

Tak terasa kau berlalu begitu cepat, Kau pergi tanpa pamit, hingga menyisakkan kerinduan, yang amat dalam, atas kepergianmu.

Sahabat karibku, selamat jalan, sampai jumpa di ruang mimpi. Sakitmu dan bebanmu telah usai, di dunia profana ini.

Sahabat karibku, semoga tenang di alam sana, doaku selalu kulantunkan buatmu, semoga tempatmu adalah SURGA.

Selamat jalan, sahabat karibku, kenangkanlah selalu akan, cerita indah kita, mimpikanku dalam tidur panjangmu, kenangan akan kebersamaan kita.

Maafkan daku, tak dapat hadir, untuk mengantarkanmu,ke tempat peristirahatanmu abadi, karena diembang tugas.

Semoga ketidakhadiranku tidak menjadi beban buatmu. Maafkan daku, akan kekhilafanku padamu. Terima kasih untuk persahabatan ini. Selamat jalan, sahabat karibku, Ernestina ke tempat abadi selamanya.

Edisi especial buat Ernestina.

(Visited 33 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Aldo Jlm

Elemen KPKers-Lospalos,Timor Leste, Penulis, Editor & Kontributor Bengkel Narasi sejak 2021 hingga kini telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan ke BN, berupa cerpen, puisi, opini, dan berita, dari negeri Buaya ke negeri Pancasila, dengan motonya 3S-Santai, Serius dan Sukses. Sebagai penulis, pianis dan guru, selalu bergumul dengan literasi dunia keabadian.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.