Literasi tidak harus selalu identik dengan buku, tidak melulu soal membaca. Literasi pun bisa lahir dari sebuah obrolan. Literasi ada untuk membangun manusia literat. Siapa manusia literat? Yaitu manusia yang mampu memahami realitas. Sehingga fokusnya bukan pada masalah tapi solusi untuk antisipasi dan mempersiapkan hari esok yang lebih baik. Bukan sebaliknya malah “mundur” mempersoalkan masa lampau.

Sudah pasti, semua orang ingin hidup serba ada, serba cukup tanpa kekurangan. Ingin banyak harta, banyak ilmu, punya jabatan, agar bisa lebih berpengaruh ke lingkungannya atau orang banyak. Itu sah-sah saja, apabila mampu melakukannya.

Tentu dengan catatan semua pemcapaian diraih dengan cara elegan dan beradab. Itulah sebabnya kata bijak menasehati kita bahwa “adab lebih tinggi dari pada ilmu”. Artinya adablah yang menuntung kita menggunakan ilmu untuk mendapatan apa yang kita inginkan, tanpa mengganggu kenyamanan orang lain atau menyakiti sesama. Apalagi harus memfitnah untuk menyingkirkan orang lain.

Hari ini banyak orang sudah lupa, apa arti menekan, mengancam, menakuti orang lain. Berkata-kata seolah-olah benar, tapi bertabur kebencian, bahkan kemunafikan di belakangnya.

Sebagai manusia literat sebisa mungkin senantiasa melakukan orasi (obrolan santai literasi) di setiap kondisi .

Manusia yang berilmu bisa dikatakan sebagai manusia yang literat.
Ilmu yang didapatkannya adalah hasil dari membaca, observasi, diskusi dengan orang yang menurutnya bisa dijadikan sebagai sumber informasi.

Orang yang literat, haus akan informasi dan pengetahuan terbaru. Bisa menjadikan setiap situasi dan kondisi sebagai sumber belajar, dan setiap orang dimintai pendapat, tanggapan, atau jawaban sebagai gurunya.

Dengan demikian, manusia literat adalah manusia yang bermental pembelajar.
Tak kepo dgn hal yg bukan jadi ranahnya.

(Visited 251 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.