Oleh : Kharisma Andika*

Dalam buku berjudul, “Investasi Politik” karangan bapak kutemukan narasi yang mengatakan, “Pasca reformasi negeri ini kelebihan politisi tetapi kekurangan pemimpin amanah”. Menurut penjelasan buku itu, setiap memasuki musim pemilu ribuan orang berlomba menjadi anggota parlemen dan kepala daerah mewakili rakyat, tetapi setelah terpilih mengabaikan rakyat.

Data dan fakta politik yang digambarkan dalam buku itu membuatku menjadi apatisme politik di negeriku. Namun sejak kehadiran sosok kang Dedi Mulyadi (KDM) sebagai pemimpin yang sangat dekat dengan rakyat tanpa syarat, membuatku merasa dan yakin negeriku masih memiliki pemimpin amanah yang mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk menyelami jiwa rakyatnya tanpa batas, khususnya kepada rakyat miskin dan anak-anak.

Apakah ini yang dimaksud dalam buku itu? “Pemimpin sejati melihat lebih jauh, mendengar lebih duluan, dan merasakan lebih dalam”. Dari aksi-aksi sosial dan kemanusiaan yang dilakukan selama ini, KDM yang dipanggil familiar bapak Aing nampaknya melihat lebih jauh dibanding yang lainnya, mendengar lebih duluan sebelum yang lainnya, dan merasakan lebih dalam sebelum yang lainnya.

Warga miskin yang selama ini diabaikan menjadi fokus penglihatannya. Jeritan kaum papa yang terpinggirkan menjadi irama merdu yang selalu didengarkannya. Perasaan ibu-ibu dan anak-anak yang berdamai dengan kemiskinan bagaikan lukisan jiwanya paling dalam. Tidak jarang hanya bahasa air mata yang tumpah dalam memeluk dan merasakan ketakberdayaan warganya.

Saya teringat suatu waktu bapak pernah mengatakan, “Masa depan suatu daerah atau bangsa tergantung kualitas SDM yang dimiliki, dan kualitas SDM tergantung kualitas pendidikan anak-anak”. Hal itu pula yang mungkin di pahami oleh KDM, hingga selalu fokus memperhatikan pendidikan siswa di wilayah kepemimpinannya.

Kebijakan pengiriman siswa ke barak militer untuk dilakukan pembinaan persuasif, adalah bukti KDM bukan hanya pemimpin tatapi juga pendidik yang sangat memikirkan masa depan anak-anak. Setiap siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi dan fisik selalu menjadi prioritasnya. Tidak peduli sikapnya dikritik atau dicaci-maki, kalau menyangkut sisi kemanusiaan siapa pun dilawannya.

Pemandangan bertemu dengan tiga orang siswa SD disabilitas akan membuat setiap jiwa tersentuh. Dua orang kakinya cacat pergi ke sekolah setiap hari dengan memakai papan selancur roda empat (skate board), dituntun seorang temannya yang tangan kirinya cacat. Bapak Aing tidak menjadi pemimpin tetapi menjadi sahabat ketiga anak itu. Masuk dalam jiwa anak itu, bercanda ria mengikuti bahasa anak itu, merasakan apa keinginan anak itu, lalu mengeksekusi apa yang bisa menggembirakan dan menyemangati ketiga anak itu dan keluarganya. Adakah bahasa lebih tinggi, lebih dalam, selain bahasa jiwa bapak Aing.

*Mahasiswa Teknik Telekomunikasi Telkom University Bandung.

(Visited 27 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.