Hari ini, aku berulang tahun yang ke-45. Angka ini bukan sekadar penanda waktu, melainkan sebuah tonggak perjalanan hidup yang membawaku merenung—tentang apa yang telah kulalui, siapa aku saat ini, dan ke mana aku akan melangkah selanjutnya.
Selama 45 tahun ini, aku telah menjalani hidup dalam warna-warni yang lengkap: suka dan duka, tawa dan air mata, keberhasilan dan kegagalan. Aku belajar bahwa hidup tidak selalu berjalan lurus dan mudah. Namun, di setiap lekuk perjalanan itu, Tuhan selalu hadir. Bahkan ketika aku merasa sendiri, ternyata aku sedang digendong oleh kasih-Nya.

Di usia ini, aku memilih untuk tidak lagi terjebak pada penyesalan masa lalu atau kekhawatiran masa depan. Hari ini, aku memulai awal yang baru. Sebuah awal yang lahir dari kesadaran bahwa aku layak bahagia, layak berkembang, dan layak menerima cinta dalam segala bentuknya—dari diri sendiri, dari orang-orang terkasih, dan dari semesta yang penuh berkat.
Aku tidak ingin hanya “menjalani hidup”. Aku ingin menghidupi hidupku. Aku ingin hadir sepenuhnya, dengan hati yang terbuka dan jiwa yang ringan. Aku ingin memberi makna dalam setiap langkahku, sekecil apa pun itu. Aku ingin terus belajar, bertumbuh, dan mencintai. Aku ingin menjadi versi terbaik dari diriku—bukan untuk menyenangkan siapa pun, tapi sebagai bentuk syukur atas hidup yang telah dianugerahkan padaku.
Di usia 45 ini, aku menanam harapan baru. Harapan akan hubungan yang penuh kedewasaan dan kasih yang tulus. Harapan untuk membangun rumah yang bukan hanya tempat tinggal, tapi tempat pulang bagi jiwa-jiwa yang mencari damai. Harapan untuk terus berbagi kebaikan, meski lewat hal-hal sederhana, seperti senyuman atau sepiring nasi untuk mereka yang membutuhkan.

Hari ini aku tiup lilin ulang tahunku bukan hanya untuk merayakan umur yang bertambah, tetapi untuk meneguhkan niat: bahwa mulai detik ini, aku memulai awal yang baru—dengan hati yang berserah, semangat yang menyala, dan iman yang teguh.
Selamat ulang tahun untuk diriku sendiri. Aku bangga pada perjalananmu. Aku mencintaimu, dan aku menantikan segala keajaiban yang akan Tuhan bukakan di hari-hari mendatang.
HBD dari Pak Editor Emi, semoga kawanku profa yang baik hati ini, selalu selalu walafiat, dilindungi oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, selalu menlangkah maju dalam kehidupanmu yang penuh liku, rintangan, hambatan dan tantangan, dapat dilalui dengan mudah…hanya itulah secuil doaku padamu, sebagai kado terindah buat di ibukota Timor-Leste. Jadilah guru yang baik hati bagi anak didikmu, keluargamu dan sahabat-sahabat KPKers-TL. (Kado Especial dari Pak Editor).
by profa Elvira P.Ximenes.
