Bagiku Perceraian Hanyalah Perpisahan Biasa.

Suatu ketika ada seorang sahabat yang bertanya padaku, Dev aku dengar kabar kamu dan suami kamu sudah bercerai iya?

Iya teman. Kok bisa Dev bukannya cinta kalian dulu bagai Romeo dan Juliet? Itu mungkin hanya penilaian kalian, karena sejak dulu aku tidak tertarik sama kisah cinta Romeo dan Juliet, lagian kisah cinta yang berakhir mati konyol.

Dev kamu masih tetap sama kayak Dev dulu di masa remaja, Dev yang tegas dan tetap saja berpengaruh serta berpendirian dan sebagai teman aku salut padamu Dev, ujar sahabat remajaku.

Oh iya apa masalahnya sampai kamu harus menceraikan suami kamu Dev? Aku awalanya tidak yakin ketika aku dengar kabar itu.

Hmm apakah wanita ditakdirkan dengan kata mengiyakan saja atau wanita juga harus mampu mengambil keputusan teman! Iya aku tidak tahu karena aku tidak sekuat kamu, ujar temanku.

Sesungguhnya aku menceraikan suamiku karena aku cinta mati sama dia, bukan cinta mati. Jadi aku harus mati sama dia atau mati di tangan dia, tapi dengan cinta itu aku baru sadar ternyata ada cinta yang porsinya justru jauh lebih unik dibandingkan cinta suamiku.

Dev, kok kamu berkata begitu iya, emang kamu sudah menemukan cinta yang jauh lebih sejati dari cinta suamimu iya? Tanya temanku.

Bukan! Sejak aku sadar inti dari sebuah kebohongan baru aku merasa bahwa sesungguhnya selain cinta suamiku ternyata masih ada satu cowok idamanku, yang cintanya melebihi porsi cinta suamiku teman.

Hahah itukan pasti kamu selingkuh Dev, ujar temanku. Tidak aku tidak selingkuh akan tetapi aku sadar jika ternyata bukan cinta suami yang membuatku tumbuh menjadi wanita hebat. Terus siapa coba, jangan buat aku penasaran Dev. Pokoknya ada teman jawab aku. Siapa coba?

Iya dia adalah pria hebat yang hadir dalam kehidupan ibuku dan melahirkan aku yakni ayahku teman. Ahh Dev, kamu buat aku penasaran shi.

Dasar iya Dev, kok buat aku penasaran shii. Hmm inikah aslinya wajahmu? Temanku mengira aku tidak tahu menahu tentang hubungan dia dengan mantan sumaiku. Jadi aku tetaplah berlagak tidak tahu menahu karena aku ingin mengenal ciri khasnya secara real.

Tahu sayang mengapa aku jadi wanita kuat? Aku jadi wanita kuat karena aku dilahirkan dari rahim seorang wanita yang kuat.

Lambat laun dengan waktu yang terus berjalan, temanku terus bertanya akan kabarku, seolah aku tidak mengetahui siapa dia sesungguhnya.

Mereka bukan orang lain, mereka adalah teman-temanku yang berwujud manusia, akan tetapi berwajah topeng. Tak lama kemudian temanku bertanya lagi, Dev sudikah kau memberitahukanku siapa sesungguhnya wanita-wanita selingkuh suami kamu Dev, sehingga kamu sampai tega menceraikan suamimu? Hmm aku adalah wanita realy bukan duplikat atau berwajah topeng teman. Jadi aku tidak harus mengadili sesama kaumku karena kamu tidak tahu sesungguhnya aku bukan budak tapi istri siapapun selingkuhan suamiku mereka adalah kaum kita, yakni kaum wanita An, pungkas Dev.

Aku penasaran dan ingin tahu Dev siapa mereka. Hmm sudah aku jelaskan kita adalah kaum wanita yang akan dijadikan tumbal bagi setiap zaman baru. Dulu kita sering bilang kalau budaya kita adalah budaya patriarkal dan banyak kaum wanita yang terus di hakimi hanya karena sistem budaya kita bersifat patriarkal, yang katanya semua kaum pria menjadi subjek dominan dalam keluarga atau struktur apa saja, terus kenapa di era modern, era globalisasi, era milenial sampai era digitalisasi, kita terus mencari titik kesalahan sesama wanita An? Aku tidak marah bahkan aku sempat berterimakasih kasih sama mereka, karena aku sayang sama mereka. Dev kamu sadar tidak berbicara seperti itu, ujar sahabatku.

An aku sadar bahkan kesadaran aku melebihi kesadaran rata-rata, kenapa? karena aku tidak akan mengadili siapapun apalagi kaum aku.

Hmm kamu sehat bukan? Iya aku jauh lebih sehat di atas standar kesehatan yang melakukan penyuluhan tentang kesehatan, ujarku tanpa basa basi.

An kamu tahu aku ingin kita semua Jadi wanita kuat dan sadar bahwa tidak semua kesalahan itu bersumber dari wanita, tapi terkadang dari kaum pria. Aku beri contoh sederhana saja, misalkan kamu adalah salah satu sahabatku, terus kamu juga salah satu dari selingkuhan suamiku, apakah pantas aku marah kamu? Apakah pantas aku benci kamu? Apakah pantas aku menghakimi kamu?

An terkejut wajahnya memerah seketika. Mengapa Dev kamu berkata demikian ke aku? Iya karena aku kasihan sama kaumku. Suamiku hanya satu cowok yang hadir terakhir dalam hidupku, sedangkan kamu adalah sahabatku, apa mungkin aku lebih membela yang datang di akhir waktu dan meninggalkan hubungan lama? Tentu tidak An.

An mulai keringetan, tiba-tiba wajahnya pucat. An kamu kenapa? Tanyaku padanya. Tidak Dev aku tidak apa-apa, pungkasnya.

An kamu tahu kita kaum wanita hanya terobsesi dengan Doktrin agama yang menyebut, jika dosa asal dari kaum Hawa. Jadi kaum Hawa yang terus di anggap penyebab dari kesalahan yang terjadi di dunia termasuk kasus perselingkuhan.

Namun aku secara pribadi justru memetik hikmah dari kasusku agar lebih mencintai kaumku juga, jangan membenci semua kaum pria hanya karena kita di khianati oleh satu pria yakni suami An. Dev kamu emang wanita hebat, ajak dulu Dev An. la langsung memeluk Dev.

Aku bukan wanita hebat An aku hanya di didik dan diajari oleh orang tua hebat karena orang tuaku tidak sekolah, tidak mengenal huruf ABJAD An, tapi berharap kami bisa belajar menjadi diri sendiri An. Aku hanya terlahir saja ke dunia dari rahim seorang wanita hebat dan tumbuh dari pelukan hangat dari seorang yang hebat meskipun tanpa sayap yakni ayah & ibuku.

Segala sesuatu tidak ada yang abadi An jadi ikhlaskan saja pada pemilik hidup karena kita hanya sedang berkewajiban menjalani hidup An, tidak mampu untuk menjadi pemilik hidup sesungguhnya.

Dari kisah perselingkuhan suami, bahkan penderitaan yang aku tutupi pada sanak saudara, juga keluarga selama aku menikah dengan suamiku, sejak usia 18 tahun adalah sebuah beban tanggung jawab An, karena ada hati yang perlu aku jaga, yakni hati kedua orang tuaku special hati ayah dan ibuku, karena ayah dulu tidak suka suamiku dari batinnya dan aku lebih memilih suami daripada ayah, yang merupakan sebuah beban tanggung jawabku sebagai anak.

Dengan alasan itulah yang membuatku merahasiakan semua rasa sakit, sampai aku harus menyadari satu hal dalam hidupku, bahwa sesungguhnya bukan suamiku yang merupakan cinta sejatiku, akan tetapi cinta sejatiku adalah ayahku, karena semua yang terjadi di belakangku selama ini, justru dapat petunjuk justru dari arwah ayah An.

An langsung menangis dan memelukku dengan erat, maafkan aku Dev. Ia memelukku karena mendengar penjelasanku, bukan karena merasa dirinya bersalah padaku.

An mengira aku tidak mengenal dirinya, berselingkuh dengan suamiku di belakangku, padahal yang aku pertama kali temukan adalah chat mereka, tentang ajakan pertemuan untuk Sex di Hotel juga di kampung halaman mereka pertama kali.

Usai menjelaskan semua, An jadi hening di belakang,ku. Hmm kamu kenapa An? An terkejut oh tidak apa-apa.

An mari kita terus berjuang, jadi pelita bagi generasi kita, bahwa sesungguhnya semua kesalahan adalah tetap kesalahan dan aku tidak ada hak untuk menghakimi siapapun, aku mengakhiri relasi hubungan suami istri, karena satu tujuan aku ingin memperbaiki semua kesalahanku sendiri, pada cinta sejatiku yang sudah lama aku tinggalkan, yakni harapan ayahku, untuk mengejar kembali apa yang sudah aku tinggalkan, yakni masa depanku, karena aku telah tersadar bahwa perceraian sesungguhnya hanya perpisahan biasa An.

Dev, bukankah dulu kalian adalah pasangan idaman teman-teman! Iya dulu, bukan sekarang dan sekarang hanya satu harapanku, belajar untuk jadi diri sendiri dan mengejar lagi, apa yang sudah aku tinggalkan selama 20 tahun silam, yakni impianku jadi wanita berwibawa dan jadi wanita yang berguna bagi nusa dan bangsa An.

Okey baik Dev aku doakan. Terima kasih kawan.

by Dev Seixas’1125

(Visited 25 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Devinarti Seixas

Penulis dan Pendiri KPKers Timor Leste, dengan mottonya: "Kebijaksanaan bukan untuk mencari kehidupan melainkan untuk memberi kehidupan dan menghidupkan". Telah menyumbangkan lebih dari 100 tulisan berupa; berita, cerpen, novel, puisi dan artikel ke BN sejak 2021 hingga sekarang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.