Yuni dibesarkan dalam lingkungan kedua orang tua yang saling mencintai. Bedanya, kata Yuni, ibunya mencintai ayahnya terus-menerus tiada henti, sementara cinta ayah kepada ibunya terkadang datang dan pergi. Begitu juga orangnya. Kadang ada, kadang tiada.

Keluarga ini adalah perantau dari Andalas bagian Selatan. Yuni adalah generasi ketiga, dan mereka hidup berkecukupan di Bumi Etam (sebutan untuk Kalimantan Timur). Saat ini dia sedang menempuh pendidikan sebagai siswi salah satu SMK di Tana Paser, ibukota Kabupaten Paser.

Gadis yang pintar menyanyi ini adalah anak satu-satunya, namun karena cinta ayah kepada ibunya datang dan pergi, maka dia punya saudara tiri dari ibu yang lain. Ya, ibu Yuni adalah istri kedua dari tiga istri sah ayahnya. Dari istri pertama, dia punya kakak laki-laki yang sering dipanggil Abang. Dia kerja di kota lain.

Baru-baru ini Yuni cerita tentang keluarganya. Tentang ibunya yang cinta tak terhingga terhadap ayahnya, meski sering ditinggalkan. Tentang ayahnya yang lebih sering di luar rumah dari pada di rumah yang mereka bangun di sebuah desa bagian Tenggara Kabupaten Paser. Ayahnya lebih sering ke ibukota, atau pulang ke Andalas.

Belakangan, Yuni tahu bahwa ayahnya punya istri lagi. Meski di-tigakan (seperti lagu Elkasih), dan ditinggalkan berkali-kali, lalu kini ditinggalkan menikah, ibu Yuni tetap cinta mati. Ini terbukti dengan masih seringnya mereka saling berkirim pesan singkat atau teleponan secara diam-diam, dengan nomor yang ganti-ganti. Ini membuat Yuni protes keras kepada ibunya.

Anak SMK ini pakai nalar, ketika ayahnya pergi dan menikah lagi, hakikatnya dia sudah membuang diri dari keluarganya. Semua hubungan seharusnya terputus. Dan biarkan dia bahagia dengan keluarga barunya. Dengan istri barunya.

Namun ibunya lebih mengutamakan perasaan dan cinta. Cinta yang tanpa syarat. Cinta yang tahunya hanya memberi. Memberi dengan tulus ikhlas, tanpa berharap balasan dari yang dicintai. Kata Mother Theresa: Love and to be loved. Artinya, mencintai untuk kemudian dicintai.

Dan menurut ibu Yuni, suaminya-meski jauh dan memiliki orang ketiga-tetap mencintainya. Ini terbukti dengan seringnya dia mencuri waktu dari istri ketiga untuk menghubunginya. Meskipun saat ketahuan, katanya, seperti perang dunia ke-4.

Entahlah, sampai kapan ibu Yuni bertahan dengan kondisi itu. Tapi katanya, ibu yang belum sampai kepala 4 memang masih cantik dan banyak yang mau mempersuntingnya. Sayangnya, dia menutup diri dan hatinya, karena mencintai hanya satu orang. Suaminya. Tanpa syarat.

Dia selalu berharap suatu saat nanti suaminya kembali ke pelukannya. Dan jika itu terjadi maka dia akan menerimanya dengan tulus ikhlas. Riang gembira. Memafkan semua kesalahan. Baik disengaja, maupun tidak. Lisan, atau perbuatan.

Sementara Yuni, dengan sifatnya yang masih labil dan dalam pencarian jati diri, lebih condong mendukung neneknya, ibu dari ayahnya. Dianggap menelantarkan istri, dia membuang sendiri anak kandungnya dari keluarga, dan menganggapnya sudah tidak ada. Dan, lebih sayang terhadap cucu dan menantu. Atau mantan menantu.

Lantas, apa yang terjadi jika angan-angan ibu Yuni tidak sesuai kenyataan? Mungkin setelah saya lulus sekolah kami akan pindah ke negara lain, cari kerja. Kata Yuni dengan lirih, menyebutkan nama salah satu negara tetangga.

Yuni tegar. Di sekolah, katanya, masalah rumah tangganya hanya diketahui seorang gurunya. Dia bisa menyembunyikan rasa galau dan sakit hati di balik senyumnya yang manis. Setiap hari dia menampakkan wajah ceria, meski terkadang dalam beberapa situasi, ada mendung tipis datang sesaat, lalu menguap entah ke mana.

Selamat berjuang Yuni. Jalan masih sangat panjang ke depan. Tuntaskan sekolah dengan baik, untuk membuktikan kamu bisa berprestasi tanpa kehadiran seorang figur ayah. Buktikan kamu bisa menata masa depan dengan seorang ibu yang juga sebagai ayah.

Tuhan maha membolak-balikkan hati seseorang. Meskipun engkau benci setengah mati, meskipun nenekmu telah membuang anak kandung satu-satunya, bisa saja nanti dia kembali ke pangkuan ibumu. Karena lelaki, saat lelah berpetualang, dia memerlukan satu bahu sebagai sandaran permanen. Dan bahu itu, semoga adalah bahu ibumu.

Karena cinta memang terkadang datang tanpa syarat. True love doesn’t hurt.

Paser-Kaltim, 30 Juli 2025

(Visited 94 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.