Namanya Mului. Sebuah kampung yang menjadi bagian dari Desa Swan Slutung Kecamatan Muara Komam Kabupaten Paser Kalimantan Timur. Pembaca yang budiman tidak akan menemukannya di google map. Tidak percaya, silakan dicoba. Untuk informasi, waktu tempuh ke Mului dari Tana Paser, ibukota Kabupaten Paser, sekitar 4.5 jam, jalan darat. Separuh dari jalanan itu adalah jalan tanah berlumpur. Hanya kendaraan jenis tertentu yang bisa lewat.
Di Paser masyarakat Mului dikenal dengan nama Masyarakat Hukum Adat (MHA) Mului. Kedengaran keren. Pengakuan MHA ini berdasarkan Surat Keputusan Bupati Paser Nomor 413.3/Kep – 268/2018 tentang Pengakuan dan Perlindungan Masyarakat Hukum Adat Mului. Bukan cuma nama, prestasi MHA Mului juga luar biasa. Mereka adalah penerima penghargaan Kalpataru tanun 2022.
Namun siapa sangka, nama yang bagus dan pencapaian tingkat nasional, bukan jaminan mereka mendapatkan tempat yang layak sebagai bagian dari rakyat yang sudah merdeka selama 80 tahun. Setiap tahun disuguhi indanya tontonan dan meriahnya peringatan HUT RI, tapi ternyata, mereka baru bisa merasakan peringatan yang sesungguhnya di tahun 2025. Di usia negeri ini 80 tahun.
Hari Minggu, 17 Agustus 2025, MHA Mului melaksanakan upacara bendera dengan sangat sederhana. Namanya juga baru pertama kali. Di upacara itu, tidak ada pertunjukan meriah seperti gempita peringatan HUT RI di Istana Merdeka.
Tak ada peragaan parade udara pesawat tempur. Kalaupun ada pesawat yang melintas di atas Mului, itu adalah pesawat komersil yang membawa penumpang. Terlihat kecil, seperti kutu yang sedang terbang, timbul tenggelam di balik awan. Dan tentu saja tidak ada ucapan dari pesawat itu. Penumpangnya pun, jika melihat ke bawah, tak tahu nama kampung itu. Kalaupun tahu, tak kelihatan ada upacara bendera.
Setelah upacara, tidak ada pagelaran seni, meski mereka juga kaya akan karya seni. Tidak ada penampilan pencak silat, meskipun sebagian dari mereka jago bela diri. Tidak ada yang menyanyi lalu diikuti joget para pemimpin, meski suara mereka jika dilatih, tak kalah dengan suara Marilyn Monroe, atau Britney Spears.
Tidak ada burung yang bertengger di atas kepala peserta upacara. Burung-burung itu ada, tapi mereka terbang tinggi, di atas puncak pohon yang entah usianya sudah berapa abad. Mereka enggan turun, kecuali di tempat-tempat tertentu. Di waktu-waktu tertentu.
Lagu kebangsaan, ada. Yaitu Hari Merdeka. Warga Mului hapal lirik dan bisa menyanyikannya dengan fasih. Saat ditanya apa arti lagu itu, mereka memaknai dengan sederhana. Yaitu, doa dan harapan untuk mendapatkan kehidupan yang lebih layak. Hari Merdeka, adalah merdeka dari ketertinggalan kebutuhan dasar: infrastruktur jalan dan jembatan, jaringan telekomunikasi, listrik, air bersih, fasilitas pendidikan dan kesehatan. Inilah hakikat kemerdekaan yang warga Mului inginkan. Sederhana bagi yang lain, bermakna dalam bagi mereka.
Coba tanyakan apa yang diinginkan untuk kehidupan anak-anak di masa depan. Mereka tahu visi Indonesia Emas 2045. Juga paham dengan Visi Paser Tuntas 2029. And guess what, mereka ingin anak-anak menjadi bagian dari proyek pemerintah pusat dan pemerintah daerah itu. Menjadi pelaku, menjadi subjek. Bukan penonton. Bukan pula objek.
Namun untuk melihat keceriaan di wajah anak-anak Mului, perlu akses kebutuhan dasar bagi mereka. Pemerintah Kabupaten Paser sudah berupaya maksimal mengubah tradisi menjadi modernitas di dusun itu. Kini giliran Pemerintah Pusat. Semoga kepala mereka menoleh ke kampung terdalam di Kabupaten Paser. Mudah-mudahan mata mereka melirik masyarakat dikenal di Paser sebagai salah satu daerah ‘remote area’.
Saat Wakil Presiden datang di Muara Komam 14 Juni 2025 lalu, Kampung Mului sidah sangat dekat dengan lokasi yang dikunjunginya. Sayang, tujuan RI 2 bukan ke situ. Tidak ada pula yang menyampaikan kondisi Mului kepadanya.
Well, selamat ulang tahun kemerdekaan RI untuk warga Kampung Mului. Semoga di ulang tahun ke-81 RI dan seterusnya, bendera merah putih selalu berkibar di Mului. Takkan ada yang tanyakan apa tema peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Karena apapun yang ditanyakan, akan mendapatkan jawaban yang sama: kapan jalan menuju kampung Mului bisa diperbaiki. Bagi MHA Mului, itulah hakikat kemerdekaan. Sederhana, bukan?
Paser-Kaltim, 20 Agustus 2025
Abdul Kadir Sambolangi
