Oleh: Fitri Suryani, S.Pd.
Lelah, kelaparan, sakit dan berbagai penderitaan yang dialami warga Gaza belum juga berakhir. Apalagi belum lama ini militer Israel laknatullah pada Sabtu (6/9/2025) meminta warga Palestina di Kota Gaza, wilayah perkotaan terbesar di kantong tersebut, untuk mengungsi ke selatan. Militer memperingatkan bahwa operasi berlangsung di seluruh kota (Republika, 06-09-2025).
Begitulah kondisi warga Gaza, makin ke sini kondisi mereka makin terpuruk. Apalagi dengan pengkhianatan penguasa Arab dan diamnya dunia semakin membuat Zionis meningkatkan kejahatan mereka.
Benar, banyak aksi kemanusian untuk Gaza, seperti Global Sumud Flotilla. Mereka terdiri dari aktivis, jurnalis, tenaga medis, hingga politisi dan figur publik. Dalam perlayaran tersebut mereka berangkat dengan satu tujuan, yakni menembus blokade Gaza yang selama hampir 2 dekade mengekang arus barang dan manusia (Rri, 02-09-2025).
Sayangnya aksi kemusian untuk Gaza seperti Global Sumud Flotilla dan aksi-aksi lainnya belum cukup untuk menghentikan kejahatan Zionis dan membebaskan Gaza.
Pun dunia tak bisa berharap lagi pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walau tujuan PBB di antaranya, menjaga perdamaian dan keamanan dunia dan menyediakan bantuan kemanusiaan apabila terjadi kelaparan, bencana alam, dan konflik bersenjata. Sayang itu hanya sebatas teori di atas kertas, sebab PBB dikuasai oleh para pemegang hak veto.
Sungguh kaum muslim Gaza tak tahu lagi akan meminta bantuan ke mana untuk mengakhiri derita mereka? Sebab kaum muslim lainnya tak berdaya untuk membantu menyudahi persoalan genosida dari Zionis Israel laknatullah dan sekutunya.
Beginilah nasib umat akan terus terpuruk selama tidak ada pelindung bagi kaum muslim di manapun, sehingga kaum muslim akan selalu terzalimi di mana saja. Ya, kaum muslim jumlahnya banyak, tapi mereka tak memiliki kekuatan. Mereka ibarat buih di lautan. Begitulah yang pernah disampaikan Rasulullah.
Padahal umat islam digambarkan bagaikan satu tubuh. Sebagaimana Rasulullah Saw. bersabda, “Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).
Dalam hadis tersebut mengajarkan bahwa kaum mukmin semestinya mampu merasakan penderitaan dan kesulitan yang dialami saudaranya yang lain. Sembari berusaha supaya penderitaan dan kesulitan saudaranya itu berkurang hingga hilang semuanya.
Lalu bagaimana dengan keadaan kaum muslim hari ini, apakah telah seperti yang disabdakan oleh Rasulullah Saw.? Apabila melihat penderitaan yang dialami oleh rakyat Palestina tampaknya usaha yang dilakukan umat muslim di negeri lain tak nampak berarti. Karena bantuan yang diberikan tidak untuk menghilangkan penderitaan yang mereka alami, tetapi lebih pada bantuan pengobatan, makanan dan yang menujang kehidupan mereka.
Dari itu, sudah semestinya kaum muslim bersatu untuk berupaya membantu saudara mereka. Terutama mengirimkan tentara kaum muslim dalam membantu melawan Zionis Israel. Umat juga harus meningkatkan tuntutannya dengan menuntut bantuan militer untuk menghentikan genosida di Gaza. Hal itu pun didukung oleh pemimpin yang merupakan perisai. Sebagaimana sabda Rasulullah Saw., “Sesungguhnya imam (pemimpin) adalah perisai, orang-orang akan berperang di belakangnya dan menjadikannya pelindung.” (HR. Muslim). Hal itu tentu hanya mampu direalisasikan, jika aturan Allah Swt. dapat diterapkan dalam seluruh kehidupan.
Oleh karena itu, sulit menyelesaikan kezaliman dan genosida rakyat Gaza Palestina, jika sistem yang ada jauh dari harapan umat. Dari itu sudah saatnya militer negeri-negeri muslim bersatu untuk mengenyahkan penjajah dari tanah Palestina dan hal itu hanya mungkin terjadi jika umat ini berada dalam naungan sistem islam, sehingga dengan begitu tidak ada lagi umat yang teraniaya. Wallahu a’lam. []
