Inilah wajah slogan pembakaran akibat pemberontakan bersenjata Kraras. Mengenang masa kecilku, pada tanggal 7 September 1983 silang, aku melihat langit kelabu mengelimuti di atas Kraras. Sekitar jam 10.30 waktu setempat, asap hitam dan kobaran api menyala. Kraras, sebuah kampung terpencil desa Bibileo, Distrik Viqueque pesisir selatan Negeri Timor Leste menjadi saksi salah satu tragedi yang paling brutal dalam sejarahnya. Penghangusan Kraras terjadi akibat dari pemberontakan bersenjata tanggal 8 Agustus 1983 atas pembunuhan terhadap 17 anggota militer Indonesia, TNI ZIPUR-3 yang sedang melakukan misi ABRI Manunggal Desa (AMD).

Tindakan pemberontakan bersenjata di Kraras mendorong TNI untuk meluncurkan serangan dalam skala penuh. Mula-mula militer memerintahkan untuk mengosongkan daerah-daerah penyeberangan sungai We-Tuku dan area gunung Bibileo. Situasi makin menjengkelkan mereka karena banyak anggota  Ratih yang melakukan desersi dengan membawa senjata ikut ke hutan dan begabung dengan pasukan gerilyawan FALINTIL.

Balas dendam di Kraras segera terjadi. Pembalasan militer sangat cepat dan tidak tanggung-tanggung. DANDIM distrik Viqueque memerintahkan masyarakat sipil untuk bergabung dengan TNI dan HANSIP menyerang Kraras. Mereka datang dari 4 (empat) arah untuk mengepung Kraras. Satu kelompok datang dari jalan Sukaer-Oan, satu dari bukit Aisahe Metan, yang satu datang dari desa Buikarin dan yang satu kelompok lagi datang dari Kecamatan Lakluta. Sesampainya diatas bukit mereka menyiupkan pluit dan berteriak; SERANG…..,BUNUH, BAKAR…..Jangan lari, kalian mau lari ke mana?…naik ke atas-langit, langit tinggi dan turun ke bawah tanah terhalang bumi“. Situasi kelihatan semakain panik saat militer mulai bereaksi, membabi-buta menembak. Warga sipil yang ikut mulai menjarah, membakar dan menghancurkan semua.

Orang-orang akan lari ketakutan. Pada serangan itu mereka telah membunuh orang tua (lansia) tiga orang, termasuk orang sakit yang tak bisa berlari. Diantaranya dua orang laki-laki tua ditusuk dengan tombak dan seorang perempuan tua dipukuli dengan alu dan dibuang kedalam rumahnya lalu dibakar hidup-hidup. Asap hitam mengepul, kawasan ini di kelemuti oleh asap selama berminggu-minggu. Kraras waktu itu di ratakan dengan tanah. Akibatnya banyak orang yang luka-luka dan yang lainnya mati yang tak dikubur dan akhirnya menjadi makanan burung bangkai dan binatang liar lainnya.

Ketika terjadi pemberontakan bersenjata dan pembakaran Kraras, penduduk sipil tidak menggungsi ke kota-kota untuk berlindung dan meminta bantuan. Tetapi penduduk yang selamat ikut lari ke hutan, pergi bersembunyi di lubang-lubang bukit, gua-gua yang ada di sekitar lereng gunung Bibileo.

Aku yang bersembunyi di atas bukit yang jaraknya kira-kira 5 Km ikut menyaksikan rumah-rumah dibakar, perempuan dan anak-anak terjebak didalamnya. Rakyat sipil dibunuh tanpa proses hukum, yang lainnya ditangkap dan disiksa. Siapa pun yang dianggap melawan dan memberontak berarti berbahaya bisa dibantai tanpa pengadilan. Dan yang paling menyakitkan adalah korban tidak pernah dapat keadilan. Pelaku tidak pernah diadili dan sejarahnya dihapus. Hingga saat ini, jumlah korban masih tidak jelas. Negara belum pernah membuka datanya secara resmi.

“Sejarah pembakaran Kraras bukan masa lalu, tetapi ia cermin dari masa depan yang tidak berbicara dan tidak bersuara. Karena manakala kita sebut negara damai dan rekonsiliasi, dibangun di atas abu orang-orang yang dibakar atau dikubur hidup-hidup”.

Serangan militer atas Kraras sesungguhnya adalah sebuah operasi berdarah. Kekejaman yang merusak telah dilakukan terhadap penduduk sipil. Akibatnya banyak orang yang dibunuh dan mayat mereka ditinggalkan begitu saja menjadi makanan binatang atau burung bangkai. Peristiwa yang amat sadis itu dapat dipertontonkan bagi semua orang. Kondisi kehidupan saat itu tak lebih dari “mayat hidup“. Hati siapa yang tak kecut dengan kengerian kala itu. Peristiwa tak berdarah menyaksikan pemandangan yang menakutkan. Keadaan masyarakat yang menyedihkan, yang bisa dikatakan kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia yang paling serius di dunia saat itu.

“Betapa kejamnya siksaan yang dialami oleh rakyat Kraras saat itu adalah sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh manusia-manusia yang tidak punya nurani. Hidup ini sangat sesat seperti “kerbau luka yang berkubang di dalam lumpur atau kolam”. Itulah yang dikatakan oleh ibu-ibu di Klalerek Mutin. Ketika terjadi eksekusi dan pembunuh masal, militer justru menyatakan bahwa penyerangan dan operasi tidak membawa akibat buruk. Sangat sedikit yang dibunuh dan tak ada satu pun yang disiksa atau dihukum”.

 Di antara pembakaran yang tadinya adalah rumah-rumah penduduk, lalu militer melakukan operasi penangkapan masyarakat sipil, melakukan pembunuhan masal dan sisanya yang terdiri dari wanita dan anak-anak di asingkan ke Klalerek Mutin. Aku dapat menyaksikan dengan mata kepala sendiri dan ikut merasakan betapa pahitnya penderitaan kala itu.  Mataku yang dulu penuh tawa, saat itu kosong memandang langit yang gelap.

Setelah Pemberontakan dan pembakaran, Aku tak lagi mendengar suara tawa ibuku, tak lagi merasakan pelukan hangat ayahku. Aku hidup di antara puing-puing kenangan dan ketakutan yang selalu menghantuiku. Setelah di tempatkan pada pemukiman yang baru, bersama anak sebayaku setiap hari, membangun pondok tempat tinggal, harus menjelajahi jalanan yang penuh bahaya untuk mencari makanan. Di tengah hutan bersama orang-orang dewasa untuk mencari sagu, mengambil umbi liar, kelapa, dedaunan liar, udang dan ikan untuk makan dan bertahan hidup.

Aku melihat kebanyakan anak sebayaku yang tidak sekolah karena ayah telah terbunuh. Harapan sebagai anak bangsa yang punya cita-cita dan ingin menaburkan angan-angan demi bangsa ini telah lenyap. Pendidikan dan pengetahuan terkecipung didalam kemelut penderitaan dan kesengsaraan yang tak terujung. Aku termasuk anak sekolah tidak memiliki tempat yang layak dan waktu yang cukup untuk belajar. Belajar malam menggunakan lampu yang terbuat dari kaleng bekas makanan TNI yang diisi dengan minyak tanah. Yang sudah berusia 15 tahun keatas dipaksa membantu orang tua untuk jaga malam dan  bekerja gotong royong.

“Mengenang kondisi hidup masa kecilku seperti butir-butir benih yang disemai didalam semak belukar yang berduri, tumbuh dan berkembang tanpa perawatan”.

Perang membawa kehilangan besar, merenggut orang tua dan menciptakan trauma mendalam pada. Anak-anak terpaksa mengambil tanggung jawab yang seharusnya bukan miliknya, seperti mencari nafkah dan sekolah. Di balik ketakutan, anak-anak bisa menunjukkan keberanian luar biasa dalam menghadapi situasi yang sulit.

Meski dilanda perang, kala itu anak-anak tetap memiliki harapan untuk hidup dalam dunia yang aman dan tanpa kekerasan. Tetapi pada zaman kemerdekaan Timor Leste, kebanyakan generasi tersebut merasa terasing di negerinya sendiri.

Menjadi penonton pembangunan karena saat itu tertekan oleh situasi perang sehingga tidak sekolah. Kondisi hidup seperti anjing lapar dalam keadaan mencari mangsanya yang belum kedapatan. Apakah bau anyir dari mayat-mayat saat itu masih tercium pada tubuh generasi dari anak-anak kala itu sehingga hari ini para penguasa negara jijik melihatnya?

By Mariano Pinto Amaral

(Visited 34 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Mariano Amaral

Penulis baru elemen KPKers Dili Timor Leste, berasal dari Municipio Viqueque, seorang dosen Administrasi Publik S², berdomisili di Dili, sebagai trainer Administrasi Publik di KPKers Timor Leste, ingin bergabung ke dunia literasi untuk mencari dan membagi pengalaman bersama dengan para penulis senior dan junior di Timor Leste dan Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.