Budaya berziarah/silaturahim dan saling menziarahi (massiara) yang menjadi budaya Ummat Islam pada saat hari raya besar keagamaan. Dalam budaya masyarakat Indonesia ziarah juga disematkan dalam aktivitas untuk berkunjung ke makam (pekuburan). Aktivitas ini biasanya dilakukan masyarakat saat menjelang ramadhan dan pasca melaksanakan sholat Idul Fitri.

Sembari silaturahim dalam budaya mudik juga disambangi dengan berziarah ke makam senak saudara yang telah mendahului kembali ke hadirat Allah. Selain itu juga masyarakat melakukan Ziarah ke pasca melangsungkan pernikahan.

Sebagaimana Sabda Rasulullah ﷺ : “Saya pernah melarang kalian melakukan ziarah kubur, sekarang ziarahlah karena hal itu bisa mengingatkan akhirat”.

Dapat dipahami suatu tujuan dalam berziarah itu Rasulullah ﷺ diawal diutusnya membawa risalah Beliau melarang. Rasulullah ﷺ melihat lingkungan dan kondisi masyarakat Mekkah telah banyak menyimpan terutama dalam kesyirikan dari Agama hanif yang dibawa Nabi Ibrahim.

Di beberapa waktu kemudian Rasulullah ﷺ telah melihat ummat kembali ke tauhid yang benar dan menjalankan syariah dengan sesuai yang Allah tentukan. Maka Rasulullah ﷺ telah mengizinkan kembali untuk berziarah dengan tujuan untuk mengingat kematian yang merupakan pintu gerbang untuk kembali ke Akhirat.

Sebagaimana budaya masyarakat Indonesia kita ini juga kita menziarahi senak saudara dalam Islam dikenal dengan istilah “Silaturahim” yang ketahui secara umum. Memahami makna silaturahim yang sebenarnya itu tentunya hanya tertuju pada adanya hubungan kekerabatan atau keluarga.

Secara umum istilah silaturahim ini menjadi suatu hal yang juga digunakan dalam berziarah/berkunjung antar bertetangga. Baik tak ada hubungan kekerabatan juga kadang disebut silaturahim/silaturahmi (sebenarnya sila ukhuwah). Pada pembahasan ini membawa pelurusan kebingungan tentang penggunaan istilah dalam membangun hubungan dalam masyarakat.

Menjadi salah satu motivasi untuk melakukan silaturahim sebagaimanaRasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya ia menyambung tali silaturahmi”.

Dapat di pahami pula bahwa dengan kita menjalin silaturahim akan membawa dan mempererat mahabbah. Dengan sila ukhuwah akan membangun suatu jama’ah masyarakat yang kuat. Ada suatu istilah pula “satu musuh terlalu banyak seribu kawan terlalu sedikit”. Maka membangun hubungan interaksi yang baik dengan sesama akan memberikan berbagai kebaikan dan kebahagiaan.

(Visited 20 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Syair Assituju

Syair wija sabbangparuna wajo. Terlahir di generasi milenial. Menjadi generasi yang berada dimasa transisi tradisional ke digitalisasi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.