Di tengah hiruk pikuk dan kemilau  kehidupan di dunia ini, terutama di era serba digital ini, terkadang ada kebimbangan untuk melangkah ke arah mana yang akan dituju, bagai berada di tengah lautan tanpa kompas, terombang ambing oleh gelombang, badaipun tak jarang datang menghempas  atau merasa berada  di tengah padang pasir tanpa petunjuk arah. Seorang manusia agung,bernama Muhammad saw, Allah SWT hadirkan sejak empat belas abad yang lalu, menjadikannya suri tauladan bagi kita umatnya yang mengimani kenabiannya, hadir bagai cahaya di tengah kegelapan. Beliau membimbing kita, di salah satu haditsnya mengatakan bahwa :“manusia yang baik adalah ketika kehidupannya hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini” (HR : Al-Baihaqi dan Al-Hakim). Selanjutnya di hadist lainnya,  beliaupun memberikan petunjuknya bahwa “sebaik-baik manusia adalah mereka yang bermanfaat bagi sesama” (HR : Ahmad, Ath-Thabrani, Ad,Daraqutni, dan Al-Qedlae’iy). Kedua hadis ini, menunjukkan kepada kita umatnya  bahwa kebaikan berkaitan dengan “Kemanfaatan yang berkelanjutan dan konsisten.”   Hal ini menengaskan  bahwa manusia hendaknya selalu memacu diri untuk selalu berbuat baik dengan proses yang baik pula. Tuntunan ini menekankan agar setiap langkah kita hendaknya  dimulai dari niat yang baik selanjutnya aksi, melalui  proses  sesuai tuntunan agama yang kita yakini, apapun agama kita, karena semua agama sudah pasti mengajarkan kebaikan, terpulang pada priibadi masing-masing sesuai keyakinan dan kemauan. Sebab potensi itu Allah SWT telah siapkan sesuai firman Nya :  “Allah Mengilhamkan jiwa yang buruk dan jiwa yang baik, maka beruntunglah bagi yang menyucikan jiwanya dan merugilah bagi yang mengotorinya.” (QS : Asy – Syams : 8-10)     

Dalam kehidupan di bentangan planet bumi ini, setiap manusia selalu berharap ingin menuliskan kisah-kisah indah yang dialaminya di setiap lembar buku memorinya untuk menorehkan kenangan-kenangan indah yang telah dilewati yang akan dikenang nantinya.  Namun tidak sedikit kenyataan berkata lain. Akan tetapi yang harus kita yakini bahwa setiap masalah ada solusi, setiap badai pasti berlalu, tiada gelap dan terang berketerusan, tiada hujan yang abadi, pun tiada terik yang berkepanjangan, tawa dan tangis serta suka dan duka semua silih berganti. Ujian hidup pasti datang menerpa bagi yang masih bernapas selagi ruh masih bersemayam di jasad, karena hal itu sudah menjadi hukum alam oleh Sang Khalik pemilik semesta. Selagi masih hidup, pasti ada ujian yang menyapa, sebagaimana yang difirmakan Nya : “Sesungguhnya kematian dan kehidupan hanyalah ujian bagi setiap manusia agar Allah mengetahui siapa hamba Nya yang terbaik amalnya” (QS: Al-Mulk: 2).  

Ujian hidup bukanlah tentang kefakiran semata, melainkan kelimpahan harta, jabatan yang mentereng, ketenaran yang tersohor, justru itulah yang juga  termasuk ujian  berat, apakah kita mampu menjaga titipan dan melewati ujian itu  atau malah mengabaikannya.  Bahkan napas, kesempurnaan fisik dan sehatnya badan pun adalah ujian yang tak kalah beratnya karena semua itu adalah tititpan yang harus dijaga dan dipergunakan dengan baik karena akan ada pertanggung jawabkan terkait dengan semua yang kita lakukan apabila kita menyadari bahwa hamparan bumi hanyalah persinggahan sementara dari perjalanan panjang menuju kehidupan keabadian di kampung asal kita nanti, Syurga tempat hidup awal Adam dan Hawa kakek nenek kita sebelum dipindahkan sementara di Planet Bumi ini untuk berpeluh memenuhi kebutuhan hidupnya karena tidak mampu menjaga janjinya. Allahpun tak luput menyumpahi hambaNya bagi yang melewatkan waktu tanpa bermanfaat, sebagaimana yg disampaikan memalui ayat berikut : “Demi masa. Sesungguhnya manusia dalam  kerugian, kecuali yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan saling menasehati dalam kebenaran dan saling menasehati menepati kesabaran.” (QS : Al Ashr : 1-3). 

Sebelum napas berhenti, sebelum ruh dicabut hingga terpisah dari jasad kita,  sebaiknyalah kita selalu memotivasi diri untuk selalu berbuat baik, mengerjakan kebaikan-kebaikan atau  beramal saleh secara berkesinambungan dan konsisten, berharap dengan kebaikan yang dilakukan pasti akan dibalas dengan kebaikan pula, sebagaaimana firman Allah  dalam Al Quran, lagi-lagi petunjuk bagi yang mengimaninya bahwa : “sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan dibalas dengan kebaikan, dan sekecil apapun keburukan yang kita lakukan akan dibalas dengan keburukan pula” (QS : Al – Zalzalah : 7-8). Tentu balasan dari semua perbutan akan didapatkan sesuai kadar perbuatan kita. Maka jangan pernah berhenti untuk selalu berbuat kebaikan yang diawali dari niat dan pikiran  yang baik, ucapan yang baik, dan berbuat yang baik, agar kebaikan-kebaikan pun datang menghampiri kita, karena alam memberikan kebaikan sesuai kadar kebaikan yang kita lakukan terhadapnya. Sepanjang bumi belum berhenti berputar, maka harapan baik selalu ada untuk kita jalani di kehidupan di dunia ini, terutama di awal tahun 2026  hingga di kehidupan akherat kelak ketika nanti kita kembali ke kampung akherat, Syurga tertinggi, insya Allah, aamiin ya Rabbal Alamiin..

(Visited 10 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.