Suatu pagi, sambil menikmati segelas teh hangat, kubuka aplikasi pemutar .mp3 di notebook, kupilih lagu-lagu dari playlist bertitel Bugis Losquin. Sejenis musik berirama keroncong, namun tanpa sentuhan seruling-biola-cello.
Dalam penjelasan Mbak Wiki, keroncong adalah aliran musik yang berakar pada sejenis musik Portugis, fado yang diperkenalkan oleh para pelaut dan budak kapal niaga bangsa itu sejak abad ke-16 ke Nusantara.
Setelah transit di daratan India (Goa), masuklah musik ini pertama kali di Malaka dan kemudian dimainkan oleh para budak dari Maluku. Bentuk awal musik ini disebut moresco –sebuah tarian asal Spanyol, seperti polka agak lamban ritmenya.
Dalam bentuknya yang paling awal, moresco diiringi oleh musik dawai, seperti biola, ukulele, serta selo. Perkusi juga kadang-kadang dipakai.
Di Makassar, pada periode keroncong tempo doeloe (1880-1920) ini, lahir pula bentuk keroncong khas yang kemudian dikenal sebagai musik losquin Bugis, misalnya lagu Ongkona Bone yang dinyanyikan oleh Sukaenah B. Salamaki.
Tapi tulisan ini tak ingin berbual panjang soal aliran keroncong dengan segala varian dan hubungannya dengan Bugis Losquin. Tapi akan mencoba mengulas salah satu lagu dalam playlist Bugis Losquin-ku.
Dalam playlist tersebut, terdapat 10 lagu: Anaq Maliq é, Bulu Alauna Témpé, Cora Kéteng, Dara Matasia, Indoq Logo, Labuni Essoé, Masa Alla, Ongkona Boné, Ongkona Sidénréng, dan Saralao.
Ketika sampai pada lagu keempat, Dara Matasia, sebuah lagu yang ditulis oleh A. Rasyid, aku terhenyak sejenak. Introduksi musiknya begitu hangat di telinga. Lalu judulnya, mengantarku pada konsepsi tentang gadis impian para lelaki Bugis.
Berikut lirik lagu Dara Matasia beserta terjemahannya yang aku lakukan dengan kemapuan bahasa Bugis yang pas-pasan. Semoga ada pembaca yang mampu dan mau membantu menyempurnakan penerjemahannya kelak.
Dara Matasia [Dara Jelita]
Dara matasia to sukkuq/ To ripoji-pojikku/ Tau ritangkeq na atikku/ To ritangkeq pulana//
Micawa cabbéruq cennippa/ Macenning na caniq é/ Ri soéq-soéq na limanna/ Malemmaq na mamalu//
Dara matasia to macolé/ Dara matasia to makanjaq/ Dara matasia to malebbiq/ To malebbiq ampéna//
Dara jelita, ia paripurna/ Dia yang kupuja-puji/ Pingitan hatiku/ Dia pingitan azali//
Senyum dikulum, manisnya/ Melebihi manisnya madu/ Ayunan lengannya/ Lemah dan gemulai//
Dara jelita, ia lembut dan ramah/ Dara jelita, ia teramat baik/ Dara jelita manusia terhormat/ Terhormat tingkah-lakunya//
Dari lagu ini, terlihat bahwa karakteristik gadis yang selalu ri poji-poji (dipuja-puji) menjadi tangkeq pulana (pingitan azali) seorang lelaki bugis adalah mereka yang masuk kategori dara matasia (dara jelita).
Dara matasia inilah yang patut disebut to sukkuq (manusia paripurna). Kesempurnaan itu ditunjukkan dengan kebaikannya yang bersifat fisik, maupun yang bersifat akhlaki.
Secara fisik, dia memiliki cawa cabbéruq (senyum dikulum) yang macenning na caniq é (melebihi manisnya madu). Ketika berjalan, soéq limanna (ayunan lengannya) begitu malemmaq na mamalu (lemah nan gemulai).
Pada saat yang sama, ampéna (tingkah laku dan akhlaknya) sebagai dara matasia ditunjukkan dengan frasa macolé (penuh kelembutan dan keramahan), makanjaq (penuh kebaikan), serta malebbiq (terjaga kehormatannya).
Namun pada hari ini, menemukan seorang dara matasia bukanlah pekerjaan mudah, gadis jelita yang bisa ri tangkeq pulana menjadi impain yang sepertinya sudah demikian susah untuk ditemukan.
Fenomena menunjukkan bahwa sebagian anaq dara hari ini, bukannya malebbiq, malah menjadi callédaq (genit). Bukannya macolé na makanjaq (penuh kelembutan, keramahan, dan kebaikan) mereka malah terjerumus menjadi generasi yang makurang siriq (tak menjaga maruah).
Selain karakter to sukkuq ini, bagi lelaki bugis, sebagaimana disebutkan dalam dalam sebuah galigo, bahwa ada dua hal pokok yang harus dikuasai secara teknis bagi perempuan yang layak dijadikan istri:
Macca duppai tau polé/ Macca panguju tau lao//
[Pandai menyambut ia yang kembali/ Cakap menyiapkan mereka yang akan berangkat//]
Macca duppai tau polé, bermakna bahwa seorang perempuan paham betul membahagiakan suami yang pulang ke rumah, baik itu ketika si suami susah maupun senang.
Macca panguju tau lao, mengacu pada kecakapan untuk menghilangkan keraguan seorang suami yang akan berangkat kerja atau merantau mencari rezeki. Keraguan dimaksud terutama dalam hal kesetiaan si istri ketika ditinggal pergi.
Sebuah galigo menyebutkan ungkapan yang patut diucapkan seorang istri ketika suaminya akan berangkat. Ini semacam pernyataan kesetiaan dan jaminan akan kemampuan menjaga maruah diri (najagai siriq na) dari seorang perempuan bugis.
Laleng tennungngaq mulao/ Iyyapa natabbukkaq/ Idiq pa taddéweq//
[Dalam belitan kain tenun diriku, kala engkau bertolak/ Barulah tersingkap/ Bila dirimu kembali//]
Muhammad Kasman, Pengasuh portal MakassarBuku
