Di bawah terik matahari yang menyengat, Pak Darman menyeka keringat di dahinya dengan handuk kusam yang melingkar di leher.
Di hadapannya, membentang sawah yang luas, namun hari ini sawah itu baru berupa hamparan lumpur cokelat yang menanti sentuhan tangannya.
Berikut adalah kisah perjalanan sebutir nasi, dari lumpur hingga ke piring kita.
Perjuangan dimulai jauh sebelum benih ditanam. Pak Darman harus mencangkul dan membajak tanah berkali-kali agar gembur.
Setelah itu, ia menyemai benih padi di sudut kecil sawah. Saat bibit mulai menghijau, ia mencabutnya satu per satu dan menanamnya kembali dengan posisi membungkuk di bawah sengatan matahari.
“Punggung ini rasanya mau patah,” bisiknya, namun ia tetap tersenyum melihat barisan bibit hijau yang rapi.
Padi tidak tumbuh begitu saja. Selama berbulan-bulan, Pak Darman harus menjadi “penjaga setia”:
Mengatur Air: Ia sering bangun tengah malam untuk memastikan aliran irigasi tidak tersumbat.
Melawan Hama: Ia harus mencabuti rumput liar (gulma) satu per satu dan menghalau burung-burung pipit yang ingin mencuri bulir padi yang mulai berisi.
Harapan dan Cemas: Setiap hujan badai datang, ia terjaga, takut padinya rebah dan membusuk sebelum waktunya.
Setelah sekitar 100 hari, hamparan sawah berubah menjadi lautan emas. Namun, panen bukanlah akhir dari lelah. Pak Darman dan petani lainnya harus menyabit padi, lalu memukul-mukulnya (menggebuk) agar bulir gabah terlepas dari batangnya.
Gabah itu kemudian dijemur di bawah panas matahari yang terik. Jika mendung datang mendadak, ia harus berlari cepat menutupinya agar tidak lembap.
Setelah kering, barulah gabah dibawa ke penggilingan untuk menjadi beras putih yang kita kenal.
Malam itu, di meja makan sebuah keluarga kota, sang anak hampir menyisakan beberapa butir nasi di piringnya.
Ayahnya kemudian bercerita tentang Pak Darman.
“Sebutir nasi yang kamu buang itu adalah tetesan keringat petani selama berbulan-bulan.
Di dalam satu butir itu, ada doa, ada punggung yang pegal, dan ada harapan seorang petani untuk menghidupi keluarganya.”
Anak itu terdiam, lalu perlahan menghabiskan sisa nasi di piringnya tanpa sisa.
Menghargai nasi bukan sekadar soal rasa, tapi soal menghormati waktu, tenaga, dan kasih sayang yang dicurahkan para petani untuk memastikan kita tidak kelaparan.
