Oleh: Sesbania grandiflora*

Ramadan adalah sebuah bulan spesial yang disiapkan oleh Allah Swt setiap tahun bagi umat Islam. Ramadan diciptakan pada kaum muslimin untuk memenuhi panggilan wajib berpuasa ketika syarat sah seorang muslim telah terpenuhi dari sisi umur sudah baligh, berakal dan sehat. Keistimewaan bulan ramadan yaitu terletak pada telah diturunkannya kitab suci Al Qur’anul karim di malam lailatul qadr, yang mana malam kemuliaan tersebut nilai ibadahnya lebih baik dari seribu bulan disertai para malaikat turun ke bumi membawa berkah dan kesejahteraan hingga terbit fajar.

Fasilitas bulan ramadan yang demikian sarat dengan pahala ibadah dan jenis amalan yang dilakukan akan bernilai tinggi disisi Allah Swt. Selain ibadah ritual puasa wajib dan menunaikan shalat fardhu ain, tercatat pula amalan-amalan sunnah yang memiliki nilai pahala berlipatganda sesuai dengan iradat Allah Swt. Kalangan ulama mufassirin menganjurkan agar tidak meninggalkan bacaan Al Qur’an sebagai suatu amalan berpahala besar pada bulan ramadan.

Pada event puasa ramadan, setiap dari kita mungkin berbeda didalam menafsirkan konteks amalan atau sunnah utama atau sikap tertentu pada bulan suci ini. Diantara pelayanan puasa yang sangat nyata diperhitungkan dan bisa jadi kita luput didalam memahami hakikat pelaksanaannya adalah penyiapan konsumsi kaum berpuasa baik ketika berbuka maupun saat menikmati sahur bersama pada dini hari.

Sesungguhnya pada dini hari itulah merupakan waktu istimewa yang berlangsung di ruang dapur, dimana aktor di tempat tersebut adalah kaum wanita, para ibu atau indo’ didalam rumah tangga keluarga sebagai penanggungjawab utama atas tersedianya bahan konsumsi untuk melaksanakan puasa wajib sebulan penuh. Peran indo’ di dapur atau dapo (bahasa Bugis) sangat penting dalam rangka meramu berbagai menu untuk kebutuhan orang berpuasa di rumahnya atau untuk orang lain di kampungnya.

Nilai kepedulian sosial yang terselenggara di ruang dapo indo’ di dalam mengolah bahan konsumtif untuk kebutuhan bagi kaum yang berpuasa merupakan esensi semangat berbagi, baik kepada keluarga sendiri maupun terhadap orang lain. Tanggung jawab atau tugas seorang perempuan atau ibu-ibu yang berstatus Indo’ adalah sangat mulia di ruang yang disebut dapur atau dapo’ untuk melangsungkan kehidupan berpuasa bagi keluarganya atau komunitas yang lebih luas.

Segenap bahan yang dikonsumsi melalui rongga mulut hingga berakhir di saluran pembuangan adalah hasil karya kaum perempuan, para istri, ibu kita atau Indo’ di ruang dapur. Kreativitas sang maestro seorang indo’ di tempat yang disebut dapo adalah pencerminan terhadap sebuah peran cinta, loyalitas, kesungguhan, dan kesederhanaan, terlebih pada pengabdiannya yang tulus di bulan ramadan. Ia mengabdi dengan ikhlas, penuh ketekunan lagi bersahaja dalam ruang yang sunyi untuk memenuhi hajat hidup anggota keluarganya.

Ruang dapo Indo’ ketika pada bulan ramadan adalah salah satu lokus tempat di dunia paling sibuk khususnya dalam pemenuhan berbagai macam kebutuhan konsumtif untuk orang berpuasa. Beragam kapasitas atau apapun model dan peralatan dapur yang digunakan, baik yang bergaya mewah, berarsitektur klasik dan modern, atau dapur bercorak ala kampung, semuanya bertujuan hanya satu yaitu pengelolaan food and beverage hingga penyajian menu hidangan sesuai dengan selera yang menikmatinya. Mutu dan cita rasa yang dihasilkan tentunya berbeda penilaian pada setiap diri penikmatnya.

Bayangkan kalau kita berimprovisasi tentang perhatian seorang ibu atau indo’ di ruang dapur, sejak dinihari telah mulai bangun mengambil jurus sepak terjang di dapo untuk mengelola kebutuhan sahur ramadan sambil tahajud pada momentum mustajab lalu sahur bersama, clear up dan shalat berjamaah. Kemudian beraktivitas lagi hingga pagi hari nyaris tanpa jeda sampai menyiapkan kembali menu buka puasa pada sore hari. Kekuatan seorang indo’ ketika di bulan ramadan sangat patut diapresiasi dan penghormatan tinggi yang tiada tara.

Filosofi suatu ruang yang disebut dapo indo’ mengajarkan kepada kita sebuah makna kerja ikhlas dan tanggung jawab tanpa pamrih. Sikap keuletan dalam meramu, menyiapkan, melayani, dan merawat segenap kemampuan untuk seorang ibu atau indo’ dalam menjaga eksistensi kehidupan keluarga yang dimulai dari manajemen dapur. Dapo yang terus berasap sebagai simbol bahwa perjalanan hidup masih berlanjut tanpa henti dan tetap survive yang dikelola oleh seorang indo’. Tanda asap dari hembusan dapur khususnya jika kepulannya terlihat pada dinihari memberi sinyal bahwa hilal ramadan telah nampak di ufuk barat dan hidangan main course sahur puasa akan dimulai.

Pada dasarnya, kedalaman hikmah yang bisa diperoleh dari sebuah ruang dapur yang dikelola oleh para ibu yang tak hanya sekedar sebagai tempat olah bahan makanan/minuman, namun lebih dari hal itu, dapo indo’ adalah merupakan tempat pengajaran awal untuk membangun moral, courtesy kepada anak-anaknya. Pada ruang tersebut dibentuk karakter khususnya bagi anak remaja putri untuk mempelajari seluk beluk pelayanan, menata menu, hingga tata laksana dapur, penting pula disusupi informasi tentang pengalaman hidup orang tua yang penuh perjuangan dan integritas. Di dapur bisa menjadi kelas diskusi berbagai sisi kehidupan, wahana solusi masalah, dan area menjalin komunikasi yang familiar antara orang tua dengan anak.

Pada hakikatnya, dapo indo’ yang bisa diasosiasikan sebagai seorang arsitek dapur yang mengawali belanja bahan dan mengolahnya, mengatur, hingga menyajikan semua kebutuhan konsumsi dalam keluarga. Di dalam suasana yang tenang, sang arsitek dapur dengan segenap metode penyajian, sanggup dan mampu menciptakan dorongan selera cita rasa dari pengelolaan aneka resep menu makanan atau minuman pada bulan ramadan atau waktu-waktu lain. Ekosistem dapur yang dibuatnya menjadi lahan pekerjaan yang membawa pesan kedamaian, menghadirkan kasih sayang tanpa perdebatan dan tanpa retorika basa basi sampai semua sajiannya menjadi lengkap dan siap dinikmati oleh seisi rumah khususnya pada bulan puasa yang penuh berkah, rahmat dan ampunan.

Kita sebagai bagian dari yang menikmati layanan jasa dapo indo’ khususnya di bulan ramadan sangat layak bersyukur dan berterima kasih atas dedikasi dan perhatian seorang ibu atau indo’. Jaminan cita rasa dari berbagai macam menu yang disuguhkan dan diprepared oleh dapo indo’ sekiranya menjadi pahala jariyah yang tak terhingga bagi para istri atau indo’ atau ibu kita selama ramadan yang telah berlalu, kemudian ramadan kini hingga bulan-bulan puasa yang akan datang.

Selamat kepada semua perempuan atau wanita yang bergelar ibu, mama or mami atau (Indo’ dalam istilah lokal Bugis), semoga selalu sukses memanage dapurnya untuk kebahagiaan bersama keluarga, dan selamat menyambut ibadah puasa ramadan 1447 hijriyah dengan menjunjung tinggi fungsi-fungsi Dapo Indo’ di kediaman masing-masing. Harapan dan do’a kita panjatkan, agar semuanya senantiasa dalam rahmat, berkah, dan perlindungan Allah Swt.

Barru, 17 Sya’ban 1447 Hijriyah

*Sahabat Agronomi ASIN yang pernah bermukim di kawasan Pondok Bumi Janda.

(Visited 69 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.