oleh Rosmawati*

Ada sebuah kesunyian yang jarang kita bicarakan di ruang-ruang kelas kita: kesunyian pikiran anak-anak yang hanya dipaksa menghafal tanpa pernah diajak bicara. Menulis, bagi sebagian besar anak negeri, masih dianggap sebagai beban tugas sekolah, bukan sebagai sebuah kemerdekaan berpikir. Padahal, melalui goresan tinta, seorang anak sedang belajar membangun dunianya sendiri dan mengenali jati dirinya di tengah arus zaman yang semakin bising.

Dunia literasi anak bukan sekadar tentang mengeja huruf, melainkan cara mereka memetakan tempatnya di dunia; saat jemari kecil itu mulai menuliskan keresahannya, ia sedang belajar menjadi warga negara yang peduli. Di tengah kegelisahan itulah, Pena Anak Indonesia hadir sebagai rumah bagi imajinasi dan oase bagi kreativitas yang gersang. Sebagai turunan dari gerakan besar Bengkel Narasi Indonesia, komunitas ini membawa misi suci yang ditanamkan oleh foundernya, Ruslan Ismail Mage. Beliau meyakini bahwa setiap anak adalah narator bagi masa depannya sendiri, dan tugas kita adalah memastikan pena mereka tidak kering karena kurangnya ruang untuk berekspresi.

Gerakan ini adalah upaya nyata untuk memastikan bahwa anak-anak negeri tidak tumbuh menjadi generasi yang bisu di tengah kemajuan zaman. Komunitas ini bukan sekadar tempat belajar merangkai kata, melainkan sebuah laboratorium mentalitas bagi anak-anak di daerah. Di sini, anak-anak diajak untuk melihat realitas di sekeliling mereka—khususnya di tanah Kolaka Utara yang kaya— lalu menuangkannya dalam tulisan yang jujur dan berani. Kita ingin mereka tidak hanya menjadi pembaca sejarah yang pasif, tapi menjadi penulis sejarah bagi daerahnya sendiri sejak dini.

Menulis melatih mereka berpikir sistematis, sebuah pondasi penting bagi calon pemimpin masa depan yang akan membawa arah baru bagi bangsa. Namun, perjuangan literasi ini seringkali terasa seperti berjalan sendirian di jalan yang sunyi dan berdebu tanpa dukungan yang berarti. Kita kerap menyaksikan betapa megahnya seremoni-seremoni pembangunan fisik yang menghabiskan anggaran besar, namun perhatian terhadap pertumbuhan literasi anak-anak seolah menjadi anak tiri dalam kebijakan.

Padahal, gedung yang megah suatu saat akan lapuk dimakan waktu, sementara ide dan gagasan yang tertulis akan tetap abadi melintasi generasi. Membangun daerah bukan hanya soal menghamparkan aspal, melainkan menghadirkan pemerintah di dalam imajinasi dan karya anak-anaknya. Kepada para pemangku kebijakan, khususnya di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sudah saatnya kita menoleh lebih dalam pada potensi tersembunyi ini.

Adalah sebuah ironi yang halus jika kita begitu fasih membicarakan kemajuan indeks pendidikan, namun belum mampu memberikan panggung apresiasi yang layak bagi karya-karya orisinal anak daerah. Sangat disayangkan jika kita lebih teliti menghitung angka statistik daripada membaca keresahan yang tertuang dalam tulisan mereka. Prestasi literasi seharusnya mendapatkan tempat terhormat, bukan sekadar pelengkap administratif dalam tumpukan laporan tahunan.

Kehadiran pemerintah sangat dinantikan bukan hanya sebagai pemberi izin formal, tetapi sebagai pendamping yang merasa bangga atas lahirnya sebuah karya. Jangan sampai Kolaka Utara lebih dikenal oleh dunia luar karena karya anak-anaknya di Pena Anak Indonesia, sementara di tanah kelahirannya sendiri, mereka hanya dianggap sebagai deretan daftar hadir di sekolah. Apresiasi tidak selalu harus berupa materi besar, melainkan pengakuan tulus bahwa apa yang mereka tuliskan memiliki arti bagi peradaban dan jati diri daerah kita.

Harapan kami sederhana namun mendalam: kami ingin melihat sebuah ekosistem di mana pemerintah daerah hadir sebagai penyokong utama bagi setiap tunas literasi yang tumbuh. Kami bermimpi tentang daerah yang dikenal bukan hanya karena hasil buminya, tetapi karena kecerdasan anak-anaknya dalam menyuarakan kebenaran melalui tulisan. Literasi bukan sekadar bebas buta aksara, tapi tentang bagaimana kebijakan memberi oksigen yang membesarkan api kreativitas, bukan justru menjadi angin yang memadamkan semangat mereka.

Mari kita sadari bersama, bahwa satu goresan pena dari seorang anak hari ini adalah satu langkah menuju peradaban yang lebih bermartabat di masa depan. Melalui Pena Anak Indonesia dan bimbingan Bengkel Narasi, kita sedang menanam pohon pengetahuan yang buahnya akan dinikmati oleh generasi mendatang. Kita tidak sedang sekadar mengajarkan teknis menulis, kita sedang menyiapkan pemimpin yang memiliki hati dan tahu cara mengomunikasikan gagasan mereka kepada dunia.

Jangan biarkan pena mereka patah atau tinta mereka mengering hanya karena kita terlalu sibuk dengan urusan-urusan fisik, namun melupakan substansi vital dari pendidikan: suara hati sang anak. Mari bergerak bersama, karena setiap anak Indonesia berhak memiliki cerita, dan setiap cerita berhak mendapatkan tempat di telinga para pemimpinnya. Sebab, saat semua gedung mulai usang, tulisan-tulisan inilah yang akan tetap berdiri tegak menceritakan siapa kita dan apa yang telah kita perjuangkan hari ini.

*Pegiat Literasi dan Koordinator Pena Anak Indonesia Kolaka Utara

(Visited 7 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Rosmawati

Saya Rosmawati — bekerja di Perpustakaan Daerah Kabupaten Kolaka Utara, mengajar di Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara, dan aktif di komunitas Bengkel Narasi serta Pena Anak Indonesia (PAI). Tiga peran itu berjalan bersamaan, dan saya menjalaninya dengan sadar. Di perpustakaan, saya dekat dengan buku dan dengan orang-orang yang datang mencari sesuatu — entah itu pengetahuan, ketenangan, atau sekadar tempat duduk yang tenang. Di ruang kuliah, saya belajar lagi setiap kali mahasiswa mengajukan pertanyaan yang tak pernah saya duga. Di komunitas, saya menemukan alasan yang paling sederhana mengapa literasi itu penting: karena ada anak-anak yang ingin bercerita, tapi belum punya kata-katanya. Saya menulis di Bengkel Narasi. Kadang soal hal-hal besar, kadang soal yang kecil saja — tapi selalu dari apa yang sungguh saya lihat dan rasakan. Kalau Anda ingin mengobrol soal literasi, pendidikan, atau dunia menulis — mari. 📍 Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara ✍️ bengkelnarasi.com 📚 Perpustakaan Daerah Kab. Kolaka Utara 🎓 Universitas Muhammadiyah Kolaka Utara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.