Jika Anda berkunjung ke Simpang Kapuak, aroma khas rebusan daun gambir yang sepat dan pekat akan menyambut Anda di sepanjang jalan.
Daerah ini, bersama dengan wilayah Mungka lainnya di Kabupaten Lima Puluh Kota, merupakan salah satu penghasil gambir kualitas terbaik di dunia.
- Tradisi yang Turun-Temurun
Di Simpang Kapuak, menanam gambir adalah warisan leluhur. Hampir setiap keluarga memiliki ladang gambir di perbukitan.
Prosesnya masih sangat tradisional dan melibatkan kerja keras fisik yang luar biasa:
Ma-manggia, Proses memanen daun gambir dari perbukitan.
Ma-malam: Proses merebus daun di dalam tungku besar yang disebut kancah.
Mangampo, Memeras daun yang sudah layu menggunakan alat kayu raksasa yang ditekan secara manual untuk mengeluarkan getahnya.
- Hubungan dengan Kehidupan Spiritual
Para petani sering kali bekerja sambil melantunkan zikir atau selawat.
Bagi mereka, hasil gambir yang melimpah adalah keberkahan dari doa para guru dan kejujuran dalam menimbang hasil bumi.
Sebagian hasil panen gambir biasanya disisihkan untuk keperluan surau dan pembangunan tempat ibadah.
Inilah yang membuat Simpang Kapuak tetap kokoh secara spiritual meskipun berada di daerah terpencil.
- Komoditas Global dari Desa Terpencil
Meskipun diproses di pondok-pondok kayu sederhana di tengah hutan (yang disebut Kempa), produk dari Simpang Kapuak ini menembus pasar internasional. Gambir ini dikirim ke India, Pakistan, hingga Eropa.
Di sana, getah kering ini diolah menjadi bahan pewarna tekstil alami, bahan penyamak kulit, hingga bahan dasar industri farmasi dan kosmetik.
- Simbol Ketahanan
Pohon gambir adalah tanaman yang sangat tangguh. Ia bisa tumbuh di tanah miring dan bertahan dalam cuaca ekstrem.
Karakter tanaman ini seolah mencerminkan watak masyarakat Simpang Kapuak: pekerja keras, ulet, dan memiliki akar yang kuat pada tradisi.
