Oleh : Rosmawati

Sejarah sering kali mencatat bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari kegaduhan di jalanan, melainkan dari keheningan ruang-ruang perpustakaan dan ketajaman sebuah mata pena. Sejak masa kuliah, saya selalu tertarik membaca buku-buku motivasi yang bisa menguatkan jiwa dalam menjalani gelombang kehidupan. Langkah kaki saya lebih sering berkunjung ke perpustakaan mencari keteduhan batin dibanding pergi ke tempat lain, karena saya memegang teguh pesan Albert Einstein bahwa satu-satunya hal yang harus diketahui adalah lokasi perpustakaan.

Namun, seiring dengan perkembangan zaman yang ditandai dengan kehadiran internet dan media sosial, saya menyadari bahwa pemenuhan dahaga spiritual tidak lagi harus selalu bergantung pada lembaran buku fisik. Di tengah riuhnya dunia digital, saya menemukan orang-orang terpelajar yang meluangkan waktunya secara khusus untuk rutin menulis kalimat-kalimat inspiratif di linimasa demi menginspirasi orang lain melakukan kebaikan. Satu di antaranya adalah sang inspirator Ruslan Ismail Mage, sosok bersahaja yang akrab saya panggil dengan sebutan Bang RIM.

Kliping koran usang yang memuat potret masa muda beliau merupakan sebuah prasasti pergerakan literasi yang otentik, jauh sebelum rumah jiwa Bengkel Narasi berdiri di angkasa virtual. Melalui amatan historis tersebut, saya menyaksikan bagaimana beliau sebagai dosen Ilmu Sosial dan Ilmu Politik turun tangan membedah hambatan terbesar mahasiswa saat menghadapi ujian akhir. Buku petunjuk praktis penulisan skripsi dan tesis yang beliau gagas merupakan solusi konkret atas fenomena ketakutan intelektual yang kerap menyumbat potensi generasi muda.

Dalam sepotong arsip berita masa lalu berjudul Pecahkan Masalah Mahasiswa Melalui Buku, rekam jejak akademis Bang RIM abadi sebagai salah satu dosen produktif dari Universitas Eka Sakti. Fenomena mahasiswa yang kerap kali layu sebelum berkembang saat mempertahankan risetnya di hadapan dewan penguji, mendorong Ruslan Ismail Mage bersama Gatut Priyowidodo untuk melahirkan karya monumental penembus batas kecemasan. Langkah nyata tersebut membuktikan bahwa seorang pendidik sejati tidak akan membiarkan anak didiknya tersesat dalam belantara ketidakpastian ilmiah.

Langkah literasi dari sudut kampus ini bukan sekadar pemenuhan kewajiban akademis biasa, melainkan sebuah lompatan mutu yang akhirnya diakui di tingkat nasional. Melalui keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, karya teoretis-praktis yang digagasnya sukses menembus jajaran tiga puluh besar buku ajar terbaik di Indonesia kala itu. Pengakuan bergengsi ini membawa namanya melangkah ke forum penataran nasional di Yogyakarta, sebuah pembuktian awal bahwa gagasan jernih dari daerah mampu menggetarkan panggung intelektual pusat.

Sejak tahun dua ribu empat belas, saya setia mengikuti akun Facebook beliau karena tertarik dengan postingannya yang selalu menampilkan kalimat-kalimat inspiratif menggugah dan menguatkan jiwa. Setiap kali menyimak tulisan beliau dengan serius, campur aduk rasa bergejolak di dalam dada saya; kadang saya mendapat siraman kalbu yang menyejukkan, kadang saya merasa tertampar, bahkan kadang saya laksana terbakar api semangat untuk melangkah jauh ke depan menjemput asa yang selama ini terpendam. Karena ketertarikan yang mendalam itulah, saya mulai mengumpulkan satu demi satu kalimat inspiratif beliau dalam sebuah album pribadi.

Kumpulan kalimat inspiratif yang terangkum rapi dalam album pribadi tersebut lambat laun berubah menjadi kompas penunjuk arah di tengah labirin idealisme masa muda. Di sudut ruang kuliah yang sering kali terasa dingin oleh tumpukan teori, tulisan-tulisan Bang RIM hadir layaknya sebuah oase intelektual yang tidak hanya mencerahkan otak, tetapi juga menghangatkan jiwa. Retorika yang beliau tebarkan melalui linimasa digital bukan sekadar susunan kata indah tanpa makna, melainkan sebuah refleksi mendalam dari realitas sosial yang dialami oleh kita semua.

Kini, ketika rekam jejak digital masa kini bersanding dengan lembaran kertas koran buram masa lalu, saya menyadari satu hal penting mengenai arti sebuah konsistensi. Semangat menyalakan lentera retorika yang dahulu dimulai dari mesin ketik dan ruang kuliah, kini telah bertransformasi menjadi gerakan masif penembus batas wilayah. Potret pemuda berkumis dengan tatapan mata tajam di kliping koran puluhan tahun lalu itu adalah jiwa yang sama yang hari ini terus menyembuhkan kecemasan generasi baru lewat goresan pena.

Melalui wadah Bengkel Narasi, warisan pemikiran ini tidak boleh berhenti hanya sebagai catatan usang yang mengagumi masa lalu. Gerakan mulia ini adalah panggilan bagi kita semua untuk terus merawat kewarasan berpikir dan menyebarkan virus kebaikan melalui tradisi menulis yang konsisten. Dari sudut ruang kuliah menuju ruang virtual tanpa batas, mari kita jaga agar api lentera retorika ini tetap menyala, menerangi jalan bagi siapapun yang sedang berjuang menjemput takdir terbaiknya.

*BNsiana Kolaka Utara

(Visited 17 times, 1 visits today)
Avatar photo

By Inspirasi Daerah

Inspirasi Daerah memuat narasi pemerintahan daerah seluruh Indonesia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.