Oleh: H.Tammasse Balla

Anakku, selagi umur masih memegang tanganmu dengan erat, berkelanalah. Dunia ini bukan sekadar peta yang tergantung di dinding atau gambar yang berbaris di layar telepon genggam. Dunia adalah kitab raksasa yang halaman-halamannya hanya dapat dibaca oleh kaki yang melangkah. Gunung-gunung menunggu untuk memperkenalkan namanya. Lautan ingin mengajarkan bahasa kesabaran. Angin dari negeri-negeri jauh ingin menyelipkan rahasia ke dalam telingamu.

Masa muda adalah musim semi kehidupan. Pada musim itu, darah berlari lebih cepat daripada keraguan, dan mimpi tumbuh lebih tinggi daripada pagar ketakutan. Jangan habiskan seluruh waktumu hanya memandangi jendela. Bukalah pintu. Langit tidak diciptakan untuk dipandangi saja, tetapi untuk disapa dengan keberanian.

Sambangilah lima benua bila Tuhan mengizinkan. Biarkan kakimu mengenal debu Asia, biarkan matamu bercermin pada salju Eropa, biarkan hatimu mendengar denyut Afrika, biarkan jiwamu menyapa Amerika, dan biarkan langkahmu berteman dengan cakrawala Australia. Setiap benua memiliki wajah yang berbeda, tetapi semuanya mengajarkan satu pelajaran bahwa manusia sesungguhnya bersaudara.

Pergilah ketika tenaga masih menjadi sahabatmu. Lutut yang masih muda adalah kuda yang tak mengenal lelah. Energi yang kaumiliki hari ini adalah tamu yang suatu saat akan berpamitan. Jangan biarkan ia pergi tanpa meninggalkan jejak-jejak petualangan dalam hidupmu.

Lihatlah semua sudut-sudut dunia. Jangan hanya mendatangi tempat-tempat yang terkenal. Kadangkala, kebijaksanaan justru duduk di bangku kayu sebuah desa kecil. Seringkali, pelajaran hidup bersembunyi di balik senyum seorang nelayan tua yang tak pernah mengenal universitas, tetapi lulus dari sekolah kehidupan dengan nilai sempurna.

Dunia adalah guru yang tidak pernah mengangkat suara, tetapi pelajarannya selalu membekas. Sungai mengajarkan kerendahan hati karena ia selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Pohon mengajarkan ketulusan karena ia memberi buah bahkan kepada tangan yang pernah melemparinya batu. Matahari mengajarkan pengabdian karena ia datang setiap pagi tanpa meminta tepuk tangan.

Jangan takut tersesat. Ada kalanya jalan yang salah justru mempertemukan kita dengan pemandangan yang benar. Burung-burung migran tidak pernah membawa peta, tetapi mereka menemukan tujuan karena percaya pada arah yang dititipkan Tuhan di dalam dirinya. Begitu pula manusia, sering kali menemukan dirinya setelah kehilangan jalannya.

Berkelanalah bukan untuk membanggakan paspor yang penuh cap negara, melainkan untuk memperluas ruang hatimu. Perjalanan sejati bukanlah perpindahan tubuh dari satu tempat ke tempat lain, melainkan perpindahan cara pandang dari sempit menjadi luas, dari menghakimi menjadi memahami.

Kelak engkau akan menyadari bahwa oleh-oleh terbaik dari perjalanan bukanlah foto-foto atau barang-barang yang dibeli. Oleh-oleh terbaik adalah kebijaksanaan yang diam-diam tumbuh di dalam dirimu. Ia seperti benih yang tertidur lama, lalu tiba-tiba menjadi pohon ketika hidup membutuhkan keteduhannya.☆

Ketika usia mulai memutihkan rambutmu, perjalanan-perjalanan itu akan kembali mengetuk pintu ingatan. Kota-kota yang pernah kaukunjungi akan datang sebagai tamu malam. Jalan-jalan yang pernah kau lewati akan duduk di beranda kenangan. Laut yang pernah kautatap akan kembali berbisik melalui suara ombak di dalam hatimu.

Pada masa tua, tubuh mungkin tidak lagi secepat dahulu. Langka sudah tak segesit dulu, tapi pengalaman akan menjadi tongkat yang lebih kuat daripada otot. Pada saat itulah engkau mulai memahami bahwa setiap langkah masa muda ternyata sedang menabung cerita untuk hari tua.

Lalu anak-anak dan cucu-cucumu akan duduk mengelilingimu. Mereka mungkin tidak oernah melihat Sungai Nil di Mesir, Air Terjun Niagara di Kanada, atau Taman Sakura d Kyoto sebagaimana engkau melihatnya. Namun melalui cerita-ceritamu, mereka akan ikut berjalan. Kata-katamu akan berubah menjadi kapal yang mengantar mereka berlayar melintasi samudera pengalaman.

Karena itu, anakku, muda berkelanalah dan tua berceritalah. Jangan menunggu senja untuk memulai perjalanan, sebab matahari tidak pernah kembali ke pagi. Isi masa mudamu dengan langkah, isi masa dewasamu dengan karya, dan isi masa tuamu dengan hikmah. Agar ketika waktu menutup buku kehidupanmu, dunia dapat berkata, “Ia tidak hanya hidup di bumi ini, tetapi juga membaca hampir seluruh halaman yang disediakan Tuhan untuknya.” [HTB]


Makassar, 22 Juni 2026
Pk. 06.20 WITA

(Visited 12 times, 12 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.