Oleh: Muhammad Sadar*

Lebih setengah abad yang lalu, tepatnya 55 tahun penyelenggaraan PENAS KTNA Pertama atau Pekan Nasional Kontak Tani Nelayan Andalan tahun 1971 di Kabupaten Cianjur Provinsi Jawa Barat, telah menghadirkan roh kemajuan dunia pertanian di Indonesia. Pelaksanaan event besar petani tersebut bertujuan sebagai media berbagi informasi, ajang promosi produk barang atau jasa pertanian, pengenalan inovasi dan display beragam teknologi pertanian, memperluas jaringan kemitraan pelaku usaha pertanian serta penguatan semangat persatuan nasional hingga pengembangan wawasan kebangsaan bagi peserta penas dari seluruh petani-nelayan Indonesia yang memperoleh mandat atau utusan daerah masing-masing.

Dari segenap penjuru tanah air, komponen petani dan nelayan sebagai peserta utama yang terhimpun dalam KTNA, P4S dan organisasi profesi petani lainnya. Terdapat pula peserta dari golongan pendamping atau peninjau maupun dari berbagai kalangan seperti peneliti, akademisi, dunia usaha pertanian, termasuk ASN pemerintah pusat dan daerah hingga petani dalam kawasan ASEAN atau rumpun petani dari ikatan alumni magang pertanian Jepang di dalam negeri turut serta meramaikan hajat besar petani Indonesia yaitu Pekan Nasional Petani Nelayan (PENAS) XVII Tahun 2026.

Kehadiran peserta kali ini dilakukan dengan berbagai upaya transportasi untuk mengantarkan hingga ke wilayah penyelenggaraan acara yaitu di Provinsi Gorontalo. Moda transportasi yang paling umum digunakan peserta adalah pesawat udara atau kapal air utamanya yang berasal dari kawasan barat, tengah dan timur Indonesia. Namun bagi peserta yang berasal dari satu daratan Pulau Sulawesi pada umumnya memanfaatkan mobilitas perjalanan melalui darat.

Salah satu kontingen penas yang menempuh perjalanan darat ribuan kilometer adalah rombongan petani dan pendamping dari Provinsi Jambi. Ia memutuskan akan menghadiri event petani-nelayan secara langsung di Gorontalo karena tiket udara yang jauh melampaui ekspektasi kesiapan anggaran pemberdayaan petani di daerahnya. Laporan Hibata.id, 10 Juni 2026, mengungkapkan bahwa kontingen penas daerah Jambi akan menempuh perjalanan melintasi selat Sunda dari Pulau Sumatera dan teritorial Pulau Jawa yang dimulai dari pelabuhan Bakauheni di Lampung hingga Merak di Banten, selanjutnya perjalanan laut melalui pelabuhan Tanjung Perak Surabaya menuju Makassar. Dari arah Makassar Sulawesi Selatan, ia meneruskan perjalanan melalui pantai barat dan timur Pulau Sulawesi menyusuri Sulawesi Barat, dan Sulawesi Tengah hingga tujuan terakhir di Provinsi Gorontalo.

Tak sedikit kontingen Penas tahun 2026 menempuh perjalanan darat ke Gorontalo. Walaupun traveling yang sangat melelahkan dan penuh tantangan geografis hingga view eksotis yang dilalui, terutama hutan vegetasi kelapa sawit di sepanjang jalan nasional Mamuju dan jalan lintas kebun kopi di kawasan Palu yang sejak lama telah melegenda sebagai jalur tradisional bagi pengembara di trans Sulawesi, namun antusiasme petani untuk bertemu sesama anak bangsa, tidak menyurutkan niatnya menuju lokasi penas.

Tempat penyelenggaraan yang sangat strategis dengan berbagai keunggulan daerah khususnya pengembangan komoditas pertanian secara luas. Dengan letaknya di bagian utara Pulau Sulawesi, Gorontalo untuk pertama kalinya menjadi tuan rumah pelaksana event petani tingkat nasional yang menawarkan keunggulan daerah berbasis pertanian serta keanekaragaman hayati hingga pesona wisata dan sarat budaya lokal maupun sejarah perjuangan daerah ini.

Penentuan Provinsi Gorontalo sebagai penyelenggara Penas XVII 2026 berdasarkan hasil rembug utama KTNA tingkat nasional pada tahun sebelumnya. Ketentuan pemilihan dinilai melalui kriteria kesanggupan pemerintah daerah atas dukungan berbagai komponen wilayah terpilih. Tak terlepas pula potensi dan produktivitas pertanian daerah sebagai nilai tawar lebih yang menonjol disamping kesiapan para pelaku pertanian maupun dukungan masyarakat pada umumnya di Gorontalo. Sudah sejak lama performa Gorontalo dikenal sebagai brand jagung yang merupakan pertanian spesifik yang telah berkembang luas di kalangan masyarakat dan mampu memberikan nilai tambah kepada petani jagung di daerah ini.

Setelah keputusan Provinsi Gorontalo sebagai tuan rumah PENAS Petani Nelayan XVII 2026, maka kesiapan pemerintah baik pusat dan daerah pada satu tahun jelang pelaksanaan dilakukan pembahasan kebutuhan anggaran, sarana prasarana pendukung, penetapan lokasi acara dan gelar teknologi/pameran, susunan kepanitiaan dan protokoler, home stay peserta kemudian rembug dan musyawarah KTNA hingga perumusan tema kegiatan. Tema PENAS XVII 2026 adalah Transformasi Teknologi dalam Mendukung Swasembada Pangan guna Mewujudkan Indonesia Lumbung Pangan Dunia Tahun 2045.

Reputasi swasembada pangan nasional kali ini akan diperkuat lagi melalui momentum Penas XVII 2026. Gemanya terus dikonsolidasikan pemerintah bersama kehadiran petani se-Indonesia di panggung penas. Pemerintah konsisten untuk menggelorakan harapan dan tujuan produksi pangan bagi rakyat Indonesia. Perjalanan panjang peserta menuju ajang penas petani-nelayan sebagai bagian dari motivasi untuk mempersaksikan capaian program dan kebijakan- kebijakan pembangunan pertanian yang akan diambil pemerintah melalui gelar teknologi, diskusi para pelaku bersama dengan praktisi dan ahli pertanian atau forum rembug petani lainnya.

Petualangan menuju PENAS Petani Nelayan 2026 bagi peserta yang melalui rute darat seperti kontingen dari Kabupaten Barru ke Gorontalo yang menempuh jarak 1.345 kilometer sesungguhnya mengukir catatan sejarah perjalanan untuk pertama kalinya mengikuti penas via darat dan tentunya sarat akan cerita kenangan teknis pertanian dari space penas, begitupun juga dengan beberapa kabupaten/kota lain di Provinsi Sulawesi Selatan akan memiliki pengalamannya sendiri.

Suasana venue Penas Petani Nelayan yang berskala nasional bahkan internasional dan menawarkan berbagai ragam temuan inovasi produk atau komoditas unggul pertanian diharapkan menjadi media pembelajaran dan bertukar informasi teknologi pertanian bagi sesama petani di Indonesia. Sekiranya capaian perkembangan dunia pertanian pada segenap lini produksi baik di hulu, on farm hingga di hilir yang diusahakan petani, pekebun, peternak dan petambak/nelayan yang selama ini menjadi stabilisator dan energi penggerak utama kemajuan sektor ekonomi nasional. Dengan segala usaha yang dilakukan setiap kontingen peserta untuk menghadiri kegiatan strategis Penas Petani Nelayan XVII Gorontalo, 20-25 Juni 2026 antara lain dengan perjalanan panjang menggunakan kendaraan darat menuju GOR David Tony di Limboto.

Barru-Mamuju-Palu- Gorontalo, 17-19 Juni 2026

*Penelaah Teknis Kebijakan Dinas Pangan, TPHBun Kabupaten Barru

(Visited 13 times, 13 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.