# Catatan terlupakan dibalik MUBES VII IKM–ISA SIDRAP

“Saromase” dan “Alako” bukan sekadar pekikan penyemangat. Dua kalimat sederhana itu telah menjadi tanda pengenal, pemantik semangat, sekaligus perekat batin masyarakat Sidrap yang berada di tanah rantau. Dalam setiap pertemuan, kedua kalimat itu selalu mampu membangkitkan rasa memiliki, rasa bangga, dan rasa kekeluargaan yang begitu kuat.
Sabtu, 20 Juni 2026 menjadi hari yang penuh makna bagi masyarakat Sidrap di perantauan. Bertempat di Hotel UNHAS & Convention Makassar, MUBES VII Ikatan Kekerabatan Masyarakat (IKM) Sidrap dan Ikatan Sarjana Asal (ISA) Sidrap menjadi ruang perjumpaan yang bukan hanya melahirkan kepemimpinan baru, tetapi juga menghadirkan kembali kenangan, persaudaraan, dan ikatan emosional yang selama ini mungkin sempat terpisah oleh jarak dan kesibukan.
Dengan mengusung tema “Transformasi Kepemimpinan Menuju IKM–ISA yang Berdaya dan Solutif”, kegiatan ini menjadi momentum penting untuk melakukan konsolidasi pengurus sekaligus memperkuat ruang kekerabatan antarsesama “Wija Nene Mallomo” di tanah rantau. Namun sesungguhnya, makna terbesar dari kegiatan ini jauh melampaui agenda organisasi dan pemilihan ketua umum.
Di ruangan yang dipenuhi wajah-wajah warga Sidrap dari berbagai generasi, banyak kisah yang kembali dipertemukan. Ada yang dahulu semasa kecil hanya mengenal wajah di kampung halaman. Ada yang pernah duduk di bangku sekolah yang sama atau perna kuliah di perguruan tinggi yang sama, bermain di lapangan yang sama, atau tumbuh di lorong dan desa yang sama. Waktu dan perantauan mungkin telah memisahkan mereka selama puluhan tahun, namun MUBES ini menjadi jembatan yang mempertemukan kembali.

Tidak sedikit yang saling bertanya, “Anaknya ki siapa?” atau “Dimanaki di Sidrap ?” atau “Tinggal dimanaki sekarang ?”. Lalu percakapan sederhana itu berkembang menjadi cerita panjang tentang masa lalu, tentang keluarga, tentang kenangan, dan tentang perjalanan hidup di perantauan. Rasa canggung yang semula ada perlahan berubah menjadi keakraban yang begitu hangat.
Ada pula mereka yang selama bertahun-tahun tinggal di kota yang sama, bahkan pernah beberapa kali bertemu tanpa mengetahui bahwa keduanya berasal dari daerah yang sama di Kabupaten Sidrap. Di MUBES inilah mereka akhirnya saling mengenal dan menyadari bahwa ternyata mereka memiliki akar yang sama. Ikatan emosional sebagai sesama warga Sidrap menjadi pintu yang membuka persahabatan baru.
MUBES VII bukan sekadar forum organisasi. Ia adalah rumah besar bagi seluruh masyarakat Sidrap di perantauan. Di tempat ini, yang tua menjadi orang tua bagi yang muda. Yang lebih dahulu merantau menjadi penuntun bagi generasi berikutnya. Yang telah berhasil memberi inspirasi, sedangkan yang sedang berjuang mendapatkan dukungan dan semangat.
Semangat kedaerahan yang dibangun bukanlah untuk membatasi diri, melainkan menjadi modal sosial yang kuat untuk saling membantu, saling menguatkan, dan saling membuka peluang. Di tengah kehidupan perkotaan yang serba sibuk dan individual, kehadiran IKM dan ISA Sidrap menjadi pengingat bahwa setiap orang memiliki kampung halaman yang selalu memanggil untuk dipelihara nilai-nilainya.
Kehadiran langsung Bupati Sidrap, Sekretaris Daerah, para kepala SKPD, serta anggota DPRD Kabupaten Sidrap sejak pagi hingga berakhirnya kegiatan menjelang senja. Menjadi bukti nyata bahwa sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat Sidrap di perantauan tetap terjalin dengan kokoh. Kehadiran mereka bukan sekadar memenuhi undangan, melainkan menunjukkan komitmen bersama dalam membangun Sidrap melalui kekuatan sumber daya manusia yang tersebar di berbagai daerah.
Pemilihan Ketua Umum IKM dan ISA Sidrap periode 2026–2030 menjadi bagian penting dari transformasi organisasi menuju masa depan yang lebih berdaya dan solutif. Kepemimpinan baru diharapkan mampu menghadirkan program-program yang menyentuh kebutuhan anggota, memperkuat jaringan, dan menjaga nilai-nilai kekeluargaan yang selama ini menjadi fondasi utama organisasi.

Pada akhirnya, MUBES VII IKM–ISA Sidrap mengajarkan bahwa perantauan tidak pernah memutuskan hubungan dengan tanah kelahiran. Jarak mungkin memisahkan, waktu mungkin berlalu, tetapi rasa persaudaraan tetap hidup dalam hati setiap warga Sidrap.
Ketika pekikan “Saromase” menggema di ruangan, ketika jawaban “Alako” terdengar bersahutan, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan hanya sebuah musyawarah besar. Yang dirayakan adalah persaudaraan. Yang dirayakan adalah kerinduan yang terobati. Dan yang dirayakan adalah keyakinan bahwa di mana pun masyarakat Sidrap berada, mereka tetap satu keluarga besar yang akan terus saling menguatkan.
Karena pada akhirnya, rumah tidak selalu tentang tempat kita tinggal. Rumah adalah tempat di mana kita diterima, dikenali, dan diperlakukan sebagai keluarga. Dan MUBES VII IKM–ISA Sidrap telah menjadi rumah itu bagi seluruh “Wija Nene Mallomo” di perantauan.

