Oleh: H. Tammasse Balla

Di Negeri Antah Berantah, sebuah negeri yang tidak tercatat dalam peta mana pun, berdirilah sebuah universitas yang setiap pagi dipenuhi langkah-langkah muda menuju masa depan. Di dalam ruang-ruang kuliahnya, duduk anak-anak manusia dengan kecerdasan, kebiasaan, dan cita-cita yang berbeda. Mereka datang membawa buku yang sama, mendengarkan dosen yang sama, mengerjakan ujian yang sama, tetapi tidak seorang pun membawa alamat pasti tentang ke mana kehidupan akan mengantarkan mereka.

Di kampus itu, mahasiswa sering dibedakan secara sederhana. Ada yang cerdas dan cepat memahami pelajaran. Ada yang kemampuannya biasa-biasa saja, tetapi tekun dan mampu bertahan. Ada pula yang malas, sering terlambat, kurang bersungguh-sungguh, bahkan beberapa harus mengulang berkali-kali hingga akhirnya meninggalkan bangku kuliah tanpa gelar.

Dari situlah manusia sering membuat simpulan terlalu dini. Mahasiswa yang mendapat nilai tinggi dianggap memiliki masa depan paling terang. Mahasiswa yang nilainya sedang diperkirakan akan menjalani kehidupan biasa. Adapun yang sering gagal mulai dipandang sebagai manusia yang tidak akan banyak berarti. Seolah-olah lembar hasil ujian mampu membaca seluruh perjalanan hidup seseorang.

Kehidupan bukan ruang ujian yang jawabannya dapat diperiksa pada akhir semester. Manusia mengalami proses dan perjalanan panjang. Hal-hal yang tampak sebagai kekurangan hari ini mungkin menjadi pengalaman yang membentuk kekuatan esok hari. Wujud yang tampak sebagai keunggulan hari ini pun belum tentu menjadi jaminan bahwa seseorang akan selalu berada di depan.

Mahasiswa cerdas biasanya menyelesaikan studinya lebih cepat. Mereka tekun membaca, rajin berdiskusi, mampu memahami pelajaran dengan baik, dan sering menjadi kebanggaan keluarga. Setelah lulus, sebagian menempuh jalan akademik menjadi dosen, sebagian menjadi dokter, peneliti, insinyur, dan berbagai profesi yang menuntut ilmu serta ketekunan.

Mereka patut dihargai karena telah mengusahakan kecerdasannya menjadi ilmu. Kecerdasan yang tidak dipelihara hanya akan menjadi potensi yang tertidur. Ilmu yang tidak diamalkan pun dapat menjadi pengetahuan yang dingin. Namun, ketika ilmu bertemu ketekunan dan pengabdian, ia dapat menjadi cahaya bagi kehidupan orang lain.

Ada pula mahasiswa yang prestasinya tidak terlalu menonjol. Ia tidak selalu menjadi juara kelas. Namanya jarang disebut ketika penghargaan akademik dibagikan. Mahasiswa seperti ini pandai berbicara, mampu memahami keadaan, berani mengambil keputusan, dan memiliki kemampuan membangun relasi dengan banyak orang.

Setelah lulus, kehidupan membawanya ke jalan yang berbeda. Ia terjun ke dunia pemerintahan, organisasi, atau politik. Bertahun-tahun kemudian, orang yang dahulu dianggap mahasiswa biasa itu dipercaya menjadi anggota parlemen, pemimpin lembaga, bahkan kepala daerah. Ia mungkin tidak paling cemerlang ketika duduk di bangku kuliah, tetapi ternyata memiliki kemampuan lain yang tidak tercermin dalam angka-angka akademik.

Lalu bagaimana dengan mereka yang dahulu sering duduk di bangku belakang? Sebagian memang tidak menyelesaikan kuliahnya dengan baik. Ada yang mengulang mata kuliah, ada yang terlambat lulus, bahkan ada yang akhirnya terkena drop out. Ketika teman-temannya mengenakan toga, mereka mungkin masih mencari arah hidupnya.

Jangan buru-buru menutup buku seseorang hanya karena kita melihat halaman yang buruk. Ada manusia yang justru menemukan jati dirinya setelah mengalami kegagalan. Ada yang baru sadar akan tanggung jawab ketika kehidupan memaksanya berdiri sendiri. Ada pula yang menemukan bakatnya bukan di ruang kuliah, melainkan di jalan kehidupan yang penuh pengalaman.

Seseorang yang dahulu dianggap malas, tiba-tiba memperoleh kesadaran. Ia mulai bekerja, belajar dari kesalahan, mengamati kebutuhan manusia, dan menemukan keberanian untuk mencoba. Ia mungkin tidak memiliki ijazah yang panjang, tetapi ia memiliki kemauan yang terus bertumbuh. Dari sana lahirlah kreativitas, keberanian mengambil risiko, dan kemampuan membaca peluang.

Tahun-tahun pun cepat berlalu. Ia menjadi pengusaha dan kemudian bekerja sebagai kontraktor. Tangannya yang dahulu tidak teratur mencatat tugas kuliah, kini sibuk membaca gambar bangunan. Pikiran yang dahulu dianggap lambat justru belajar menghitung biaya, mengatur pekerja, membaca kebutuhan masyarakat, dan menyelesaikan persoalan yang tidak pernah diajarkan dalam ujian kampus.

Suatu hari ia membangun sebuah kampus. Gedungnya besar dan kokoh. Ruang kuliahnya terang, perpustakaannya luas, laboratoriumnya lengkap. Ribuan mahasiswa kelak akan berjalan di lorong-lorongnya. Tidak banyak yang tahu bahwa orang yang mendirikan tempat itu dahulu pernah menjadi mahasiswa yang hampir tidak diperhitungkan.

Setelah bangunan itu selesai, ia teringat kepada seorang teman lama. Teman itu dahulu terkenal sangat cerdas. Ketika mereka masih mahasiswa, ia selalu berada di barisan depan, rajin membaca, dan menjadi kebanggaan dosen. Kini teman itu telah menjadi seorang akademisi; dipanggillah sahabat lamanya itu untuk mengajar di kampus yang dibangunnya.

Betapa aneh tetapi indah perjalanan manusia. Orang yang dahulu dianggap kurang berhasil kini menyediakan ruang bagi orang yang dahulu dianggap paling berhasil. Yang satu membangun gedung dengan tenaga dan keberaniannya, yang lain mengisinya dengan ilmu. Tidak ada yang lebih rendah dan tidak ada yang lebih tinggi. Mereka hanya sedang mencukupi fungsi masing-masing dalam kehidupan.
Di kota yang sama berdiri sebuah rumah sakit besar. Bangunannya megah, ruang perawatannya banyak, dan berbagai dokter bekerja di dalamnya. Sebagian dokter itu mungkin dahulu adalah teman sekelas seorang kontraktor yang membangun gedung tersebut. Ketika masih muda, mereka duduk di ruangan yang sama, tetapi tidak pernah mengetahui bahwa kelak jalan hidup mereka akan bertemu kembali di tempat seperti itu.

Rumah sakit itu juga membutuhkan izin, kebijakan, dan keputusan pemerintah. Di sanalah muncul seorang lagi dari masa lalu mereka. Teman kuliah yang prestasinya dulu biasa-biasa saja. Kini ia dipercaya menjadi pemimpin daerah. Tanda tangannya menjadi bagian dari proses yang memungkinkan bangunan itu berdiri dan memberikan pelayanan kepada masyarakat.

Tiga manusia dari ruang kelas yang sama akhirnya bertemu dalam sebuah bangunan. Seorang membangun, seorang mengobati atau mengajar, dan seorang membuat kebijakan. Dahulu mereka mungkin saling membandingkan nilai. Sekarang mereka saling membutuhkan. Kehidupan seakan-akan sedang berkata bahwa tidak ada manusia yang diciptakan untuk menjadi pulau yang berdiri sendirian.

Dari sana kita belajar bahwa kecerdasan bukan alasan untuk merendahkan. Prestasi bukan surat izin untuk menghina. Kegagalan pun bukan hukuman yang berlaku sepanjang hidup. Setiap manusia mempunyai waktu yang berbeda untuk menemukan dirinya. Ada yang menemukan jalannya pada usia muda, ada yang menemukannya setelah jatuh berkali-kali.

Karena itu, jangan jadikan keadaan sesaat sebagai ukuran mutlak. Seseorang yang hari ini bekerja sederhana mungkin sedang mengumpulkan kekuatan untuk membangun sesuatu yang besar. Seseorang yang hari ini gagal mungkin sedang belajar sesuatu yang kelak menjadi bekalnya. Seseorang yang hari ini berada di puncak harus ingat bahwa kehidupan mempunyai musimnya sendiri.

Takdir juga tidak boleh dijadikan alasan untuk bermalas-malasan. Manusia tetap harus berusaha, belajar, bekerja, dan memperbaiki diri. Kita tidak pernah mengetahui hal yang telah ditulis untuk kita, tetapi kita mengetahui bahwa setiap hari memberi kesempatan untuk menulis ikhtiar. Hasil akhirnya bukan seluruhnya berada dalam kuasa manusia.

Ada orang yang bekerja keras bertahun-tahun sebelum keberhasilan datang. Ada yang menemukan kesempatan lebih cepat. Ada yang jatuh sebelum bangkit. Ada pula yang berhasil melalui jalan yang tidak pernah ia rencanakan. Jangan pernah iri kepada jalan orang lain dan jangan pula menertawakan jalan yang sedang ditempuh seseorang.

Kadangkala kita hanya melihat satu bagian kecil dari satu sisi hidup manusia. Kita melihat ia gagal dalam ujian, tetapi tidak melihat ketekunan yang sedang bertumbuh di dalam dirinya. Kita melihat ia belum berhasil, tetapi tidak melihat keberanian yang sedang dibangunnya. Kita melihat ia sederhana, tetapi tidak mengetahui seberapa besar manfaat yang kelak mungkin ia berikan.

Jangan pula merasa bahwa keberhasilan kita adalah hasil usaha kita seorang diri. Di belakang seorang dokter, ada guru yang pernah mengajarinya membaca. Di belakang setiap guru, ada bangunan yang dibuat oleh banyak tangan. Di belakang seorang pemimpin, ada masyarakat yang mempercayainya. Di belakang setiap manusia, selalu ada manusia lain yang ikut melancarkan kesuksesannya.

Pada akhirnya, kehidupan bukan perlombaan untuk menentukan siapa yang paling cepat sampai. Kehidupan adalah perjalanan untuk menemukan bagaimana kita dapat menjadi berguna. Ada yang mengabdi dengan ilmu, ada yang membangun dengan tangannya, ada yang memimpin dengan keputusannya, dan ada yang bekerja dalam diam tanpa pernah disebut namanya.

Jangan meremehkan seseorang hanya karena keadaannya hari ini. Jangan memandang rendah teman yang dahulu tertinggal. Jangan pula menganggap diri paling tinggi hanya karena sedang berada di depan. Takdir tidak pernah mencantumkan alamatnya pada dahi manusia. Ia berjalan bersama waktu, ikhtiar, kesempatan, doa, dan kehendak Tuhan.

Barangkali suatu hari nanti kita akan bertemu kembali dengan orang yang dahulu kita remehkan. Ia mungkin datang sebagai dokter yang mengobati kita, dosen yang mengajar anak kita, pemimpin yang membuat keputusan bagi daerah kita, atau kontraktor yang membangun tempat kita mencari ilmu. Saat itu mungkin kita akan tersenyum dalam hati dan mengerti satu hal yang dahulu tidak kita pahami. Manusia boleh menilai dirinya dan sesamanya, tetapi hanya waktu yang mampu memperlihatkan ke mana sebuah kehidupan akan bermuara. Takdir tak beralamat. Ia menemukan manusia melalui jalan yang tidak selalu dapat kita duga. [HTB]

(Visited 1 times, 1 visits today)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.